Apakah Warga Surabaya Tak Boleh Miliki Pemimpin yang Baik?


risma surabaya

DKI Jakarta adalah magnet. Ibu Kota Indonesia ini punya daya tarik ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya. Hal itu membuat Jakarta adalah tempat favorit penduduk daerah untuk merantau dan berupaya merubah kehidupan ekonominya. Tiap tahun arus urbanisasi ke Jakarta seperti tak terbedung, Kota yang dulu bernama Batavia tersebut kini jadi kota padat. Penduduknya lebih dari 10 juta jiwa dengan luas hanya sekitar 700 kilometer persegi.

Belakangan, bukan hanya rakyat biasa dan jelata yang kemudian mencoba merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib, berupaya memperbaiki ekonomi keluarganya. Bahkan kini tokoh politik daerah, pemimpin di luar Jakarta banyak yang dikabarkan akan hijrah ke Ibu Kota untuk memperbaiki karir politiknya.

Joko Widodo (Jokowi), tahun 2012 harus meninggalkan jabatannya sebagai Wali Kota Solo untuk bertarung di pilkada Jakarta dan akhirnya menang. Ia berdampingan dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang juga sebenarnya politikus daerah.

Ahok adalah mantan Bupati Belitung Timur pada tahun 2005-2006. Ia lantas menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), namun mengundurkan diri karena ikut dalam kontestasi menajadi pemimpin Jakarta pada tahun 2012.

Tahun depan, Jakarta kembali akan mencari pemimpin. Sangat terasa kegaduhan dalam dinamika politik dalam rangka menjadi Gubernur DKI Jakarta ini.

Menyeruaknya isu SARA, dan berbagai macam pemberitaan di media dalam beberapa waktu terakhir sangat terasa hubungannya dengan Pilgub Jakarta.

Mencuatnya kasus korupsi Rumah Sakit Sumber Waras atau reklamasi Teluk Jakarta yang terasa dan tertangkap bukan perkara pencurian uang negara, akan tetapi mengenai penjegalan salah satu kandidat calon gubernur.

Segala macam pemberitaan tersebut memiliki porsi yang cukup besar di media massa, hingga isu mengenai Pilgub Jakarta yang sebenarnya sangat lokal menjadi pembahasan secara nasional. Bahkan penduduk Papua pun membicarakan mengenai pilgub Jakarta.

Tidak sekedar ruang diskusi saja yang dikuasai, seperti halnya pada tahun 2012 yang lalu, ketida Jokowi “dibajak” dari Solo untuk diboyong ke Jakarta maka kini ada juga upaya-upaya serupa.

Beberapa pemimpin daerah yang sebenarnya masih aktif dalam mengemban madat dari rakyat daerah setempatnya sedang dirayu, didorong-dorong untuk tampil dalam pilgub Jakarta.

Nama Tri Rismaharini, Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo adalah tiga nama yang sejak beberapa bulan lalu santer dibicarakan untuk menuju Jakarta guna melawan Ahok.

Risma masih berstatus Wali Kota Surabaya, Ridwan Kamil belum usai masa jabatannya sebagai Wali Kota Bandung, begitu pula dengan Ganjar yang sekarang berposisi sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Mereka menjadi pemimpin daerah tersebut atas pilihan rakyat setempat. Jika mereka dianggap terbaik dan punya kualitas yang bagus, apakah rakyat daerah tidak diijinkan menikmati suasana memiliki pemimpin yang baik hingga tidak perlu diganggu dengan adanya upaya pembajakan di tengah jalan?

Kalo Risma adalah pemimpin yang dalam kriteria bagus, maka apakah warga Surabaya tidak berhak mendapatkan pelayanan dari pemimpin bagusnya tersebut hingga akhir periodenya? Kenapa kemudian Jakarta jadi terkesan sangat egois hingga harus “menculik” pemimpin pilihan warga Surabaya?


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaPara Pengungsi ini di Dibujuk untuk Masuk Kristen
Berita berikutnyaWaspada! Beredar Makanan Ringan ‘Tak Senonoh’ Seperti Ini, Baca dan Sebarkan