Duh! Begini Kondisi Janin Ibu yang Dapat Obat Kedaluwarsa dari Puskesmas


SURATKABAR.ID – Bayu Randi Dwitara (19) mengaku pihaknya tidak akan mencabut laporan polisi yang berisi pengaduan terhadap Puskesmas Kelurahan Kamal Muara lantaran kelalaian petugasnya memberikan obat kedaluwarsa pada istrinya yang tengah mengandung.

Muncul dugaan akibat mengonsumsi Vitamin B6 yang telah lewat masa berlakunya dari puskesmas, istri Bayu, Novi Sri Wahyuni yang mengandung 15 minggu mengeluh merasa pusing, mual, perut melilit, dan juga muntah-muntah.

Totalnya ada tiga setrip Vitamin B6 yang sudah kedaluwarsa sejak bulan April 2019 lalu yang diberikan pihak Puskesmas Kelurahan Kamal Muara kepada Novi. Dan setiap setripnya berisi vitamin 12 butir.

Dan mirisnya, ditukil dari laman Tribunnews.com, pada Selasa (20/8/2019), Bayu terpaksa kehilangan pekerjaannya sebagai operator pabrik plastik tak jauh dari tempat tinggalnya di Kamal Muara, Jakarta Utara.

Baca Juga: Ibu Hamil Dapat Obat Kedaluarsa dari Puskesmas, Kok Bisa?

“Ya, karena ngurusin ini saya dipecat. Jadi udah enggak kerja lagi. Di rumah aja ngurusin istri,” ungkap Bayu ketika ditemui di kediamannya, Senin (19/8).

Awalnya Bayu mengantarkan sang istri memeriksakan kandungannya di Puskesmas Kamal Muara pada Juli lalu. Dan dari hasil pemeriksaan tersebut Novi mendapatkan empat obat, yang salah satunya berupa Vitamin B6. Begitu dilakukan pengecekan, vitamin tersebut sudah tak layak konsumsi.

Novi lalu menyampaikan keluhannya lantaran setelah mengonsumsi obat dari puskesmas tersebut berimbas pada kesehatannya. Ia mengeluh janin sakit, muntah-muntah, dan sakit pada kepala.

Pihak Puskesmas Kamal Muara telah mengakui bahwa obat yang diberikan pegawainya sudah kedaluwarsa. Selain itu, pihaknya juga mengakui bahwa itu adalah kelalaian petugasnya.

Novi sendiri sebenarnya sempat dirujuk ke Rumah Sakit BUN dari puskesmas. Dari Rumah Sakit BUN ia mendapat obat untuk dikonsumsi yang sayangnya ditahan oleh Kepala Puskesmas, seperti diungkapkan kuasa hukum Novi, Pius Situmorang.

Alasannya, saat itu Bayu diminta menandatangani surat pernyataan yang berisi pihak keluarga bersedia untuk tidak menuntut Puskesmas Kamal Muara. Dengan begitu barulah obat dari Rumah Sakit BUN bisa ditebus Novi.

Lantaran Bayu tidak bersedia menandatangani surat pernyataan tersebut, Kepala Puskesmas mengambil tindakan dengan menahan obat untuk Novi. Padahal ibu hamil ini sangat membutuhkan obat tersebut guna mengembalikan kondisinya yang masih drop usai meminum obat kedaluwarsa tersebut.