Soal Temuan 2 Kotak C1 di Menteng, Bawaslu Akui Tak Bisa Lanjutkan Kasus


SURATKABAR.ID – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta Muhammad Jufri mengungkapkan alasan mengapa pihaknya tak dapat menindaklanjuti kasus penemuan dua kotak yang berisi formulir C1 di Menteng, Jakarta Pusat.

Penyebabnya, seperti yang dilansir dari laman Republika.co.id, pada Minggu (19/5/2019), Bawaslu tak dapat menemukan unsur pidana pemilihan umum (pemilu) dalam kasus tersebut. Jufri mengatakan, penanganan kasus ini sepenuhnya berada di bawah tanggung jawab Bawaslu Jakarta Pusat.

“Bawaslu Jakarta Pusat melakukan investigasi untuk menjari apakah ada dugaan pelanggaran pidana atau tidak. Ternyata menurut Bawaslu Jakarta Pusat tidak ditemukan dugaan pelanggaran pidana pemilunya, karena siapa orang yang mengirimkan C1 itu tidak diketahui,” ujar Jufri kepada awak media di Kantor Komisi Pengawas Pemilu (KPU), Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (18/5) lalu.

Jufri menyebut, Bawaslu telah memanggil driver taksi online yang mengantarkan dua kotak tersebut. Dan dari pengakuan sang pengendara tersebut didapatkan satu nama. Akan tetapi ketika dilakukan penelusuran, sosok tersebut tak pernah ditemukan.

Baca Juga: Ahli IT BPN Sebut C1 Situng Hasil Editan, KPU Angkat Bicara

“Nomor handphone yang bersangkutan pun telah dicek dan sudah tidak aktif. Dilacak sudah tidak ketemu. Karena itu Bawaslu Jakarta Pusat sudah tidak bisa menemukan siapa nanti yang akan dilaporkan,” imbuh Jufri kemudian.

Meski begitu, berdasarkan hasil penelusuran Bawaslu, formulir C1 yang ditemukan di Menteng tersebut berbeda dengan formulir C1 yang diunggah di Situng KPU. Selain itu, formulir ini juga tak sama dengan formulir yang dimiliki Bawaslu Provinsi Jawa Tengah.

Ia mengatakan, formulir C1 yang ditemukan di Menteng tersebut diwadahi dalam dua kotak dengan warna berbeda, yaitu putih dan coklat. Untuk data di dalam C1 di kotak putih pun disebutkan berbeda dengan data yang ada di dalam C1 di kotak coklat.

Sebagai contok, Jufri menyebut, di kotak coklat ditemukan perolehan suara pasangan calon nomor urut 01 jauh lebih banyak, sedang lawannya mendapat suara sedikit. Demikian sebaliknya. Di dalam kotak putih, pasangan calon nomor urut 02 mengantongi suara lebih banyak ketimbang kubu petahana.

Dan berdasarkan bentuk fisik formulir, semua C1 yang ditemukan di Menteng memiliki kemiripan dengan formulir asli. Jufri dengan tegas mengatakan bahwa hanya isinya saja yang berbeda. “Ya itu (aspal) bisa,” ujarnya.

Ketika disinggung kemungkinan adanya jual beli formulir C1, Jufri menolah memberikan jawaban jelas. Ia mengatakan bahwa pihak KPU RI telah melakukan pengecekan langsung atas penemuan C1 di Menteng. “Menurut KPU RI pas mengecek memang benar blanko, barcode dari KPU. Yapi kan walau difotokopi blankonya kan masih bisa (terlihat seperti asli),” jelas Jufri.

Lebih lanjut Jufri menambahkan bahwa supir taksi online sebelumnya sempat memberi keterangan mengenai lokasi penjemputan barang (C1) yakni di Posko Jalan HOS Cokroaminoto (Posko Prabowo Subainto-Sandiaga Uno), Menteng.

Ada pun tujuan pengiriman barang tersebut, jika berdasarkan surat pengantar adalah ke Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

“Menurut penuturan supir, tiba-tiba ada yang pesan order untuk ambil itu. Lalu datanglah ambil di Cokroaminoto. Pada saat itu ada orang angkut pakai motor kemudian dipindahkan ke mobil,” ujar Jufri menjelaskan.