Pelaku Mutilasi Malang, Pernah Sukai Adik Kandung Hingga Pengakuan Mengejutkan Para Tetangga


SURATKABAR.ID – Terduga pelaku dari kasus pembunuhan dan mutilasi yang menggegerkan di Pasar Besar Kota Malang telah berhasil diringkus dan diamankan. Menurut Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, tim penyidik menilai bahwa Sugeng Angga Santoso, demikian nama terduga pelaku, mengalami gangguan kejiwaan. Karena itulah, Polres akan memberikan pendampingan dokter ataupun psikiater terhadap Sugeng selama proses penyelidikan.

Seperti dilansir dari laporan Medan.TribunNews.com, Kamis (16/05/2019), kisah tak terduga turut menyertai proses penyelidikan Sugeng. Mulai dari diduga mengidap gangguan jiwa, pernah membuat onar lantaran menyukai adik kandungnya sendiri, hingga beberapa pengakuan mengejutkan dari para tetangganya.

Asfuri menyebutkan, sampai saat ini Sugeng dinilai masih kooperatif dalam memberikan informasi. Meski begitu, informasi yang telah diberikan Sugeng dianggap perlu didalami lagi agar lebih mudah dipahami.

“Rencananya, yang bersangkutan akan kami beri pendampingan agar ada yang menemani ketika dilakukannya penyelidikan,” ungkap Asfuri.

Sebelumnya, penemuan mayat wanita yang ditemukan telah dalam kondisi terpotong enam bagian menggegerkan warga sekitar bekas gedung Matahari Department Store Pasar Besar pada Selasa (13/05/2019). Hingga kini, kasus ini masih didalami oleh Polres Malang Kota.

Baca juga: Kasus Mutilasi di Malang, Pelaku Tinggalkan Pesan Misterius di Telapak Kaki Korban. Ini Isinya

Pasalnya, ada beberapa kejanggalan yang hingga kini belum juga terkuak. Mulai dari motif terduga pelaku melakukan mutilasi hingga pelaku yang mentato tubuh korban.

Asfuri menambahkan, tato itu dibuat Sugeng dengan menggunakan jarum sol sepatu yang kemudian dipukul dengan palu. Kata Asfuri, Sugeng mengakui bahwa proses mentato itu dilakukannya setelah korban sudah tak bernyawa. Diketahui, pelaku meninggalkan dua buah tato di kedua telapak kaki korban.

“Terduga pelaku ini nekat melakukan mutilasi karena permintaan dari korban. Dan pelaku mengaku mendapatkan bisikan-bisikan untuk melakukan mutilasi kepada korban,” tukasnya.

Sementara itu, Sugeng diketahui pernah berdomisili di Jodipan Wetan, Kota Malang. Di tempat itu, Sugeng dikenal sebagai orang yang mengidap gangguan jiwa. Beberapa kali ia berbuat onar di sana.

Pernah Bakar Rumah Tetangga dan Potong Lidah Kekasih

Narko (51) yang dulu ialah tetangga terduga pelaku itu menyebutkan, Sugeng dulunya pernah membakar rumahnya sewaktu tinggal di Jodipan.

Sugeng juga pernah memotong lidah kekasihnya dan memukul kepala ayahnya dengan menggunakan palu.

“Sugeng ini dari dulu selalu bikin gempar warga. Bahkan, Sugeng juga pernah diusir dari sini (Jodipan) sekitar 7 atau 8 tahun lalu,” tutur Narko (51).

Narko paham betul dengan Sugeng lantaran rumah mereka berdempetan. Narko mengimbuhkan, Sugeng memang dari dulu memang sudah punya kelainan jiwa.

Bukan Sugeng saja, namun beberapa keluarganya juga memang punya sifat aneh seperti Sugeng.

“Amit sewu, sepertinya gangguan ini sudah menggaris di keluarganya. Buktinya keluarganya saja sudah tidak tahu menahu,” ucapnya kemudian.

Narto melannjutkan, Sugeng saat ini hidup sebatang kara. Sejak orangtuanya meninggal dunia, terduga pelaku mutilasi itu terlihat sering menyendiri.

Kata Narto, gangguan jiwa Sugeng sudah kentara sewaktu dia menyukai adik kandungnya sendiri.

“Dulu warga memang sudah curiga dengan gerak-gerik Sugeng yang aneh ketika bersama adiknya,” sahutnya.

Narto mencontohkan, ketika sedang berada di rumah, tingkah laku Sugeng seperti bukan sebagai kakak. Namun lebih seperti pacar dan Sugeng selalu menempel adiknya terus ke mana-mana.

“Dulu kalau di rumahnya itu sudah kayak pacarnya sendiri. Tiap kali adiknya Sugeng ini bawa pacar, mesti selalu konflik dengan Sugeng. Dan itu terjadi berulang kali,” beber Narto.

Kendati demikian, Narto tak ingat kapan persisnya kejadian tersebut. Ia juga sudah tak ingat siapa nama adiknya Sugeng, karena dipindahkan dari Jodipan oleh orangtuanya.

“Kejadian itu sudah lama, Sugeng akhirnya dipisahkan dengan adiknya oleh orangtuanya. Sejak saat itu Sugeng tidak pernah bertemu lagi dengan adik perempuannya itu,” papar Narto kemudian.

Lebih lanjut, warga Jodipan yang namanya tak mau disebutkan mengutarakan, Sugeng ini dulunya bekerja sebagai penjahit. Namun setelah itu Sugeng berhenti dan menjadi pengangguran.

Meski begitu, Sugeng dikenal sebagai pribadi yang kreatif. Ia suka menulis dan membuat klipingan dari koran-koran bekas.

“Dulu dia pintar jahit. Terus suka bikin klipingan dari koran bekas juga,” tandasnya kepada rekan wartawan, Kamis (16/05/2019).

Sementara itu, Muhammad Luthfi (46), Ketua RW 06 Kelurahan Jodipan, membenarkan Sugeng dulu merupakan warga Jodipan. Saat itu, Sugeng tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah rumah yang ditinggali Sugeng dibeli oleh ayahnya Lutfhi, terduga pelaku mutilasi itu angkat kaki dari Jodipan.

“Sekitar 7-8 tahun lalu, rumahnya Sugeng dibeli ayah saya. Saya juga tidak tahu kenapa rumah itu sampai dibeli. Setelah itu, keluarga Sugeng entah tinggal di mana,” sebutnya.

Sejak saat itu, Sugeng jarang sekali terlihat berseliweran di kampung. Ia lebih banyak terlihat di pinggir jalan, tepatnya di daerah Jalan Gatot Subroto hingga sekitaran Pasar Besar.

Menurut Lutfhi, baru lima bulan terakhir ini Sugeng kembali terlihat di Jodipan. Dia tidur di samping rumah kosong yang terletak di Jalan Jodipan Wetan. Di rumah itu pula Sugeng menulis beberapa tulisan aneh.

Termasuk menyebut nama tuhan dan nama beberapa keluarganya. Menurut pengakuan Lutfhi, di setiap tulisan yang Sugeng tulis di tembok seperti ada kata-kata dendam.

“Entah itu dendam dengan warga, keluarganya, atau merasa seperti dikucilkan setelah diusir oleh warga,” jelasnya.

“Keluarga Sugeng ini banyak, namun kebanyakan ya amit sewu, memiliki kelainan juga. Seperti yang dialami Sutoyo, kakak Sugeng yang sudah tidak mau tahu lagi dengan tetangga kanan kiri,” bebernya.

Lutfhi mengimbuhkan, Sugeng sering berinteraksi dengan anak-anak kecil. Dia suka menyapa anak-anak. Dan anak-anak setempat tak ada yang takut kepada Sugeng karena sering diajak bercanda.

Luthfi yang juga pedagang di Pasar Besar Kota Malang ini mengaku sudah menduga bahwa pelaku mutilasi ialah Sugeng. Dugaan itu muncul sewaktu melihat tulisan yang ditulis pelaku mutilasi. Menurutnya, huruf dan kata-kata yang ditulis pelaku mutilasi hampir mirip dengan tulisan di tembok rumah yang ditinggali Sugeng.

“Saya sudah menduga kalau pelakunya itu Sugeng. Karena setiap hari kalau saya ke masjid pasti melewati rumah yang ditinggali Sugeng. Jadi saya tahu persis,” sambungnya.

Di rumah yang kini ditinggali Sugeng itu, terdapat juga beberapa tulisan yang dibuat olehnya. Sedikitnya ada dua tulisan besar dan beberapa tulisan kecil yang ditulis di tembok putih tersebut.

Sejumlah tulisan itu bertuliskan: “Dendam sang arwah, Sugeng Angga Santoso” dan “Melalui para utusan Allah SWT besok kalau aku mati, pembalasannya lebih kejam”.