Unik dan Ramah Lingkungan, Sekolah Ini Jadikan Sampah Plastik sebagai Biaya Pendidikan


SURATKABAR.ID – Plastik mungkin dicap sebagai limbah yang sangat jahat bagi lingkungan karena paling sulit terurai. Namun tidak bagi para pelajar di India. Di mata siswa sekolah Guwahati, sampah-sampah plastik justru sama nilainya seperti logam mulia.

Pasalnya, untuk mereka plastik dapat membawa mereka mendapatkan pendidikan yang layak dengan gratis. Dan semua itu bukan datang tiba-tiba. Ada peran penting dari sepasang manusia dengan cita-cita luhur.

Seperti yang dirangkum Grid.ID dari Elite Readers pada Minggu (12/5/2019), Mazin Mukhtar dan Parmita Sarma kali pertama bertemu di India pada 2013. Siapa sangka ternyata keduanya memiliki mimpi yang sama, yakni untuk membawa perubahan besar di dunia pendidikan.

Tahun 2016, mimpi tersebut memacu mereka berdua untuk membuka sekolah gratus berbasis keberlanjutan di pusat Assam, yang disebut Akhsar. Awal yang berat harus dihadapi Mazin dan Parmita. Ketika itu mayoritas orangtua menolak mengirim anak-anak mereka untuk belajar karena harus bekerja.

Belum habis ide, Mazin dan Parmita lantas menciptakan kurikulum yang sesuai dengan kondisi keuangan keluarga di tempat tersebut, namun tetap memberikan anak-anak mereka pendidikan yang layak.

Baca Juga: Foto Bungkus Indomie Ini Bikin Heboh, Menteri Susi Sampai Ikut Merespons

Parmita mengatakan bahwa ia bersama rekannya ingin memulai sekolah gratis untuk semua anak. Lalu mereka kemudian mendapatkan ide brilian setelah menyadari ada masalah yang lebih besar di daerah tersebut, berkaitan dengan sosial dan ekologi.

Wanita ini sangat ingat ketika pertama-tama ia mengajar bagaimana ruang kelas mereka penuh dengan asap beracun setiap ada orang di sekitar yang membakar plastik. Rupanya di sana memang adal kebiasaan buruk untuk menjaga suhu agar tetap hangat, yakni dengan membakar plastik.

Mazin dan Parmita

Dan untuk itulah, Mazin dan Parmita berencana melakukan perubahan besar. Mereka pun mulai mendorong para siswa untuk membawa sampah plastik mereka sebagai ganti biaya sekolah. Ide ini berjalan baik.

Terbukti dengan bertambahnya siswa di Akhsar yang dimulai dengan 20 pelajar hingga saat ini sekolah kecil tersebut sudah menampung hampir 100 anak-anak usia antara 4 hingga 15 tahun untuk belajar di tempat Mazin dan Parmita mengabdi.

Di sana para generasi muda diajarkan mengenai pentingnya pendidikan, kelestarian lingkungan, serta memberi timbal balik pada komunitas mereka, di mana caranya adalah mengajak mereka terlibat penuh dalam kegiatan sekolah yang berbeda.

Parmita mengungkapkan bahwa sekolah mereka tidak tampak seperti sekolah biasa. Di sekolah itu para siswa duduk di ruang terbuka di bawah bambu sebagai atapnya. Rupanya gagasan di balik itu semua adalah demi membuka ide-ide pendidikan biasa.

Para siswa membawa sampah plastik

Jadi, di sekolah ini sangatlah tidak biasa. Selain tak ada nilai atau kelas khusus untuk setiap usia, mereka hanya memiliki level, di mana para siswa dari berbagai kelompok usia bisa mempelajari hal yang sama di saat bersamaan.

Untuk bisa bersekolah di sini, para siswa diminta membawa tas plastik yang berisi sekitar 25 item sampah plastik setiap minggunya sebagai ‘biaya’ sekolah mereka. Plastik-plastik tersebut lalu akan didaur ulang.