Hakim Perintahkan Pemeriksaan Mental untuk Teroris 2 Masjid di Selandia Baru


SURATKABAR.IDTeroris pelaku penembakan massal di dua masjid Kota Christchurch, Selandia Baru, diperintahkan untuk menjalani pemeriksaan mental guna menentukan apakah ia layak diadili atau tidak. Pelaku bernama Brenton Tarrant yang tercatat sebagai warga Australia tersebut diketahui muncul di pengadilan Selandia Baru, pada Jumat (05/04/2019) waktu setempat.

Mengutip laporan SindoNews.com, Jumat (05/04/2019), Brenton Tarrant yang merupakan pendukung supremasi kulit putih tersebut didakwa dengan 49 pembunuhan tambahan setelah ditangkap. Sebagaimana diketahui, penembakan massal di dua masjid bulan lalu yang dilakukan olehnya itu telah menewaskan 50 jemaah muslim. Tak hanya itu saja, penembakan itu juga melukai puluhan umat lainnya.

Laporan kantor berita Reuters menyebutkan, Hakim Pengadilan Tinggi yang memimpin jalannya persidangan tersebut memerintahkan Tarrant, yang tidak diharuskan mengajukan pembelaan, untuk menjalani pemeriksaan mental. Pemeriksaan mental tersebut berguna untuk menentukan apakah pelaku layak diadili atau tidak.

Sejauh ini, pihak kepolisian telah menambahkan tuduhan pembunuhan tambahan, serta 39 tuduhan percobaan pembunuhan, ke satu tuduhan pembunuhan yang telah diajukan sehari setelah serangan tersebut terjadi.

Tarrant lantas dikembalikan ke tahanan hingga14 Juni.

Baca juga: Aksi Solidaritas, Semua Wanita di Selandia Baru Akan Berhijab

Berdasarkan laporan yang ada, para pejabat penjara mengungkapkan Tarrant berada di bawah pengawasan 24 jam tanpa akses ke media.

Ia muncul melalui video dengan tangan diborgol dan duduk. Tarrant mengenakan kaos penjara berwarna abu-abu. Di sepanjang sidang yang berlangsung sekitar 20 menit, ia tampak mendengarkan dengan tenang.

Sementara itu, sekitar dua lusin anggota keluarga korban dan beberapa orang yang selamat dari serangan tersebut ikut hadir di ruang sidang.

“Saya ingin melihat orang yang membunuh begitu banyak teman saya,” ujar Tofazzal Alam, yang menghadiri persidangan.

Seorang biasa di salah satu masjid, Alam tak ada di sana selama serangan.

“Pria itu tidak punya emosi,” ungkapnya sewaktu ditanya saat melihat tersangka di video.

Tarrant akan diwakili oleh dua pengacara Auckland. Salah satunya bernama Shane Tait yang mengklaim hal itu dalam sebuah pernyataan di situsnya. Meski begitu, ia tidak menyertakan komentar mengenai kasus tersebut.

Pers telah melaporkan bahwa Tarrant ingin mewakili dirinya sendiri. Dan para ahli hukum menyebutkan dia mungkin akan mencoba menggunakan audiensi sebagai landasan untuk menyampaikan ideologi dan kepercayaannya.

Liputan dalam Persidangan Dibatasi

Kendati wartawan dapat hadir dan membuat catatan, namun liputan dalam persidangan akan tetap dibatasi. Menurut Hakim Cameron Mander, media massa hanya bisa mempublikasikan gambar-gambar Tarrant yang direpotkan yang mengaburkan wajahnya.

Dalam sebuah serangan yang disiarkan langsung di Facebook, Tarrant yang bersenjatakan senjata semi-otomatis itu menargetkan umat Islam yang menghadiri shalat Jumat di Christchurch pada 15 Maret 2019 lalu.

Pria berusia 28 tahun itu telah dipindahkan ke satu-satunya penjara dengan keamanan maksimum di Selandia Baru di Auckland dan muncul di Pengadilan Tinggi Christchurch melalui tautan video.

Pembantaian tersebut, yang oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern dilabeli sebagai terorisme, adalah pembunuhan massal terburuk di Selandia Baru.

Lusinan perwakilan dari seluruh dunia bergabung dengan upacara peringatan nasional pekan lalu yang dihadiri oleh Ardern dan puluhan ribu warga Selandia Baru.

Muslim di seluruh dunia memuji tanggapan Selandia Baru terhadap pembantaian itu. Salah satunya dengan banyak yang memuji sikap Ardern yang mengenakan jilbab untuk bertemu keluarga korban dan mendesak negara itu untuk bersatu dengan seruan: “Kami adalah satu.”

Ribuan pengunjung ke masjid al Noor yang dibuka kembali, tempat 42 orang terbunuh, telah menyampaikan belasungkawa. Mereka juga berusaha mempelajari lebih banyak tentang Islam, ujar Israfil Hossain, muadzin masjid al Noor.

“Mereka datang dari jauh hanya untuk meminta maaf … meskipun mereka tidak pernah melakukan apa pun kepada kami,” tukas Hossain.

Pada hari Kamis, sekelompok biarawati Karmelit berdiri untuk pertama kalinya di dalam sebuah masjid, menahan air mata sewaktu mereka berbicara dengan para jemaah tentang dua agama.

“Semua orang memiliki masalah mereka sendiri dan mereka memiliki ide-ide mereka sendiri tentang agama, dan itu baik-baik saja, dan kita semua harus memiliki itu, kita semua berbeda,” ungkap seorang biarawati yang kerap disapa sebagai Suster Dorothea.

“Tapi kita semua manusia dan itu yang paling penting, kemanusiaan kita,” tandasnya.