Ketum PBNU Dilaporkan ke Polisi, SAS Institut: NU Siap Menghadapinya


SURATKABAR.ID – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Said Aqil dilaporkan ke pihak yang berkaitan dengan tim sukses Pasangan Calon Nomor Urut 02. Adapun laporan tersebut dibuat atas dasar sebuah wawancara dengan Najwa Shihab melalui media audio visual.

Adalah Damai Hari Lubis, orang yang menggalang gerakan untuk mempolisikan Said Aqil, dihimpun dari Sindonews.com, Jumat (29/3/2019). Dalam laporan tersebut, Damai yang juga merupakan anggota Badan Pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini tak terima dengan analisis akademik Said Aqil.

Sementara itu, Direktur SAS Institut M Imdadun Rahmat, menuturkan gugatan terhadap Ketua Umum PBNU tersebut sama sekali tidak berdasar. Oleh karena itu, pihaknya mengaku santai dan malah mempersilakan agar polisi melanjutkan proses sebagai bentuk penghormatan NU terhadap hukum.

“NU siap menghadapinya,” ujar Imdadun Rahmat melalui siaran pers yang diterima SINDOnews pada Jumat (29/3) lalu.

Lebih lanjut, ia dengan tegas mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh ketua umumnya merupakan fenomena nyata yang sesuai dengan fakta empiris dan akademis. Menurut Said Aqil, pandangan dan paham radikal ekstrem dianut sejumlah ormas Islam.

Baca Juga: Said Aqil Dipolisikan, Begini Respon Tegas PBNU

Salah satu ormas yang memegang paham radikal ekstrem adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang telah dibubarkan oleh pemerintah. Pengadilan juga sudah memutuskan HTI merupakan ormas terlarang yang tidak boleh berdiri di Bumi Indonesia.

Fakta-fakta empiris membuktikan bahwa pendukung HTI melebur dengan aksi-aksi kelompok pro pasangan calon 02. Selain itu, orang-orang HTI juga berdiri di belakang serangkaian aksi massa 212 dan mendukung aksi yang berkali-kali digelar tersebut.

Massa pendukung negara khilafah yang membawa atribut HTI, juga disebutkan senantiasa mengikuti aksi-aksi tersebut. Fakta lain yang semakin menguatkan hubungan antara HTI dengan paslon 02, yakni bahwa partai-partai pengusung pasangan 02 menentang keras HTI dibubarkan.

“Mereka membela HTI sejak wacana ini muncul hingga saat ini. Demi HTI pembelaan mereka sampai mengenyampingkan prinsip dan komitmen kebangsaan. maka HTI balas jasa dengan dukungan. Ini gayung bersambut,” imbuh Imdadun Rahmat lebih lanjut.

Ia menilai, sinyalemen bahwa pasangan calon 02 memiliki kedekatan dengan kelompok radikal tersebut seharusnya dianggap sebagai peringatan bagi mereka untuk menjaga jarak dengan kelompok anti NKRI itu.

“Kiai Said menyampaikan fakta yang argumennya kuat. Beliau bukan hanya ulama, juga akademisi yang paham betul soal gerakan radikal, bahkan terorisme. Beliau itu anggota dewan penasehat BNP. Analisanya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah akademik,” tutur Imdadun.

Adapun pernyataan Kiai Said juga tak dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian atau hate speech maupun provokasi kekerasan. Pasalnya, apa yang dinyatakan Ketum PBNU adalah analisis ilmiah. Sama sekali tidak ada niatan untuk menyebarkan kebencian.

“Kiai Said bersih dari rekam jejak provokasi atau agitasi kekerasan. Beliau anti kekerasan kepada siapa saja. Publik mengakui beliau tokoh perdamaian dan pluralisme. Yang jelas Kiai Said tegas pada radikalisme apalagi teror,” ungkapnya.

Imdadun secara lugas mengatakan bahwa pernyataan yang dilontarkan oleh Kiai Said bukanlah sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu pasangan calon dalam Pemilihan Presiden 2019. Pasalnya, sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai Said wajib untuk bersikap netral.

“Namun, Beliau prihatin bahwa kelompok HTI turut mendukung Paslon 02. Itukan jelas organisasi terlarang. Mereka masuk ke dalam Paslon Prabowo-Sandi hanya demi tujuan eksis kembali. Ini malah merugikan 02, kan?” imbuhnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Doktor Ilmu Politik ini mengingatkan, jika permusuhan terhadap Kiai Said ini terus-menerus digencarkan, maka akan membawa akibat buruk bagi pasangan 02. “Warga NU akan ngumpul semua ke Paslon 01,” pungkas Imdadun dengan tegas.