Ferdinand Tuding Jokowi Menyeret Kepolisian ke Kancah Politik


SURATKABAR.ID – Ferdinand Hutahaean yang merupakan Juru Bicara Prabowo-Sandiaga ikut menanggapi mengenai dugaan aparat ikut terjun dalam politik praktis yang tengah berhembus kencang saat ini. Apalagi mengingat dalam forum debat keempat kemarin, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto secara terang-terangan menegur Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal adanya indikasi aparat RI yang tidak netral.

Menurut Ferdinand, tudingan dan isu indikasi aparat yang melancarkan dukungan ke salah satu paslon di pilpres dipastikan benar. Menurut kader Demokrat tersebut, fakta itu benar adanya lantaran tampak dari banyak video yang beredar di media sosial.

“Selain video, kita sendiri yang sering turun ke bawah ini sering mendengar cerita banyak dari kepala desa, dari tokoh masyarakat yang diminta untuk memenangkan pasangan 01,” beber Ferdinand sewaktu dikonfirmasi pada Minggu (31/03/2019).

Kata Ferdinand, adanya praktik itu dikarenakan ketokohan Jokowi saat ini sudah tidak lagi dapat diandalkan di masyarakat. Itulah sebabnya kubu nomor urut 01 diduga harus menggunakan cara tidak elok tersebut.

“Karena sudah tak laku, mereka kemudian harus memperalat tokoh-tokoh lokal seperti kepala desa, tokoh masyarakat dan lain-lain. Kita saksikan kok di lapangan dan videonya beredar di medsos,” papar Ferdinand menambahkan.

Baca juga: Heboh Grup WA Polri Berisi Percakapan Upaya Menangkan Jokowi-Ma’ruf, Begini Kata Polisi

Di lain pihak, Ferdinand meyakini aparat yang terjun ke dalam politik praktis hanyalah beberapa oknum dari institusi berbaju coklat itu. Anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini percaya, bahwa masih banyak polri yang berjiwa kesatria di institusi tersebut.

“Saya menyebutnya oknum ya. Polri tak sepenuhnya salah, karena saya percaya prajurit Polri masih banyak yang berjiwa netral dan berdiri sebagai benteng NKRI. Berjiwa tribrata, tidak menjadi pecundang dalam politik. Saya percaya itu,” tandasnya menegaskan.

Ferdinand Menyalahkan Cara Jokowi

Atas dasar itulah dirinya lantas menyayangkan Jokowi yang diduga menjadi dalang untuk menarik institusi Polri ke dalam politik di pilpres. Ia berpendapat cara ini tak baik untuk masa depan institusi polri di Indonesia.

“Kami tidak menyalahkan polisi, kami justru menyalahkan Jokowi sebagai pemimpin tertinggi bangsa ini yang menyeret-nyeret kepolisian ke kancah politik. Ini tidak baik. Merusak masa depan kepolisian kita yang sedang kita bangun profesional, tetapi di zaman Jokowi ini dirusak dan ditarik-tarik ke tengah politik,” ungkapnya.

Sebelumnya, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menyindir soal adanya isu abhwa sejumlah aparat telah dikerahkan untuk mendukung salah paslon di pemilihan presiden 2019. Hal seperti ini dinilai dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Secara pribadi, Mantan Danjen Kopassus itu percaya bahwa Jokowi punya komitmen menegakkan demokrasi. Namun demikian, dengan adanya desas-desus itu, tentu situasi ini jadi tak bisa dipandang sebelah mata.

“Dengan sistem sebaik apapun kalau will (keinginan) untuk menjalankan demokrasi tidak dijalankan dalam pemerintahan, saya khawatir distrust (rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang berjalan) ini bertambah,” beber Prabowo dalam debat keempat pilpres di Hotel Sharingla, Jakarta, Sabtu (30/03/2019).

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadizly membantah tudingan Prabowo Subianto soal adanya pengerahan aparat untuk mendukung salah satu paslon di pilpres. Sebaliknya, TKN meyakini aparat tetap netral dalam pilpres 2019.

“Tidak betul ada mobilisasi aparat untuk mendukung salah satu paslon. Presiden selalu menegaskan bahwa TNI, POLRI dan ASN menjaga netralitas. Politik TNI dan POLRI adalah Politik Negara,” demikian Ace menegaskan ketika dikonfirmasi, Minggu (31/03/2019).

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.