Fenomena Ghosting: Saat Dia yang Kamu Cintai Pergi Tanpa Alasan dan Kejelasan


SURATKABAR.ID – Dalam dunia IT dan istilah komputerisasi, ghosting merupakan suatu kondisi error saat sebuah objek atau huruf yang tak dikehendaki muncul berulang di sepanjang halaman. Tapi lain ceritanya jika hendak menilik ghosting dalam dunia percintaan. Ghosting alias Caspering (dari asal kata Casper, film) merupakan istilah yang biasanya dipakai saat orang yang Kamu cintai tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Pernah mengalaminya? Atau jangan-jangan malah melakukannya?

Seolah lenyap ditelah oleh bumi, perilaku ghosting ini kerap menyerang percintaan kaum Millennial. Pasalnya, milenial memang identik dengan pemanfaatan teknologi dalam mendekati orang yang disukai. Sehingga tak heran jika sejak beberapa waktu belakangan ini, ghosting menjadi fenomena baru di mana seseorang menghilang dalam suatu hubungan secara tiba-tiba. Dan ia menghilang tanpa kejelasan atau sebab yang pasti.

Mengutip Tirto.ID, Minggu (17/02/2019), saat sedang sayang-sayangnya, si dia bersikap cuek dan menghilang layaknya hantu di tengah-tengah pedekate atau hubungan pacaran. Tahu-tahu pesan singkatmu tak dibalas, akun media sosial di-unfollow, hingga nomormu diblokir olehnya.

Namun tak banyak yang menyadari, faktanya ghosting ini merupakan salah satu kekejaman emosional. Seperti kisah seorang bernama Mawar yang kini berusia 27 tahun. Semasa Sekolah Menengah Pertama pada medio 2003, Mawar menjalin hubungan asmara dengan pria yang berbeda sekolah dengannya. Hubungan terjalin selepas si pria mendekatinya tak kurang selama sebulan.

Namun, hubungan tak berlangsung lama. Selepas tiga bulan, hubungan mereka kandas. Mawar beralasan, si pria dianggapnya “enggak seru” dan “sok pintar”. Sayangnya, alasan itu tak disampaikan. Alih-alih mengutarakan pada si pria, Mawar memilih meninggalkannya tanpa kejelasan. Ia memutuskan memblokir akses komunikasi si pria.

Baca juga: Duh! Selain Poligini & Poliandri, Kini Poliamori Makin Digemari?

“Sampai sekarang, (blokir SMS dan telpon) belum gue buka,” kata Mawar menjelaskan.

Karena urusan yang belum tuntas itu, si pria masih berusaha berkomunikasi dengannya. Ia bercerita, si pria sampai-sampai mengirim pesan langsung (Direct Message) ke akun Facebook teman Mawar. Lagi-lagi, Mawar tetap diam tak mengindahkan upaya komunikasi si mantan.

Waktu itu, belum ada istilah untuk menggambarkan tindakan Mawar. Namun, sejak 2011, dunia mengenal istilah ghosting, yang diartikan sebagai tindakan memutuskan hubungan, atau menghilang begitu saja tanpa penjelasan apa pun. Umumnya ghosting menjelaskan tindakan memutus saluran komunikasi seperti memblokir telepon, SMS, WhatsApp, atau akun-akun media sosial lainnya.

Dalam bentuk paling usang, ghosting dicirikan seperti enggan bertemu kembali dengan sang mantan, hingga tak membukakan pintu saat ia datang. Dalam definisi sederhana, ghosting bisa pula diartikan “ditinggal ketika sayang-sayangnya”.

Masuk ke Dalam Collins English Dictionary

Istilah ghosting populer setelah media sosial dan aplikasi kencan digunakan sebagai sarana baru menjalin hubungan. Empat tahun setelah istilah ghosting muncul, kata ini kemudian masuk ke dalam Collins English Dictionary.

Mengapa istilah yang digunakan adalah ghosting? Sederhana, sebab yang jadi korban akan selalu merasa dihantui bayang-bayang mantan.

Akademisi Illinois State University bernama Susan Sprecher mengatakan di dalam “Two Sides to the Breakup of Dating Relationship”, bahwa putus hubungan dapat membuat seseorang stres, merasa kesepian, depresi, hingga marah yang tak berkesudahan.

Dalam kasus ghosting, seperti dibeberkan Jennice Vilhauer dalam tulisannya di Psychology Today, orang yang diputuskan dengan cara “dihantui” akan mengalami perasaan batin yang lebih dari itu. Vilhauer dalam artikelnya menjabarkan beberapa cerita dari mereka yang jadi korban ghosting.

“Aku merasa seperti orang idiot, aku kayak dijadikan badut, dan aku merasa tidak dihargai.”

“Rasanya seperti kena pukul di lambung. Satu-satunya hal yang lebih parah ketimbang putus adalah menyadari ada seseorang yang menganggap kamu tak layak diputus dengan baik-baik.”

Ghosting itu salah satu bentuk siksaan paling kejam dalam hubungan kencan.”

Vilhauer juga menulis, salah satu alasan terjadinya ghosting adalah karena salah satu pihak ingin menghindari ketidaknyamanan emosionalnya sendiri. Namun, pelaku ghosting tak memikirkan bagaimana perasaan lawannya. Ghosting merupakan bentuk lanjutan dari sikap diam pasangan. Dan tindakan ini adalah “kekejaman emosional”.

Dalam “Ghosting and destiny: Implicit theories of relationships predict beliefs about ghosting” (2018), Gili Freedman menulis ghosting terjadi akibat komunikasi pasangan yang “enggak nyambung”.

Ghosting lazim terjadi bagi mereka yang memulai hubungan melalui daring (dalam jaringan) seperti melalui Tinder atau Facebook. Sehingga rasanya, berhenti berhubungan dengan seseorang yang Kamu cintai seperti berhenti berlangganan Spotify atau Netflix, yang tampaknya berkonsekuensi kecil pada diri sendiri. Tapi dalam ghosting, tindakan ini berdampak besar bagi emosi orang lain.

Lalu, kenapa ghosting kerap kali lebih terasa menyakitkan ketimbang diputus?

Ghosting itu membuatmu bingung harus bereaksi apa. Apakah kamu harus khawatir? Bagaimana kalau mereka sakit dan masuk rumah sakit? Apakah kamu harus marah? Atau mungkin dia sedang amat sibuk, dan bakal menghubungi lagi dalam waktu dekat?” tulis Vilhauer.

Vilhauer, yang menulis buku Think Forward to Thrive: How to Use the Mind’s Power of Anticipation to Transcend Your Past and Transform Your Life, lalu menjelaskan. Salah satu aspek paling mengerikan dari ghosting adalah Kamu tak hanya jadi mempertanyakan tentang hubungan yang dia jalani, tapi juga meragukan dirimu sendiri.

Dalam kasus ini, Kamu kerap menyalahkan diri seraya bertanya-tanya kenapa ini terjadi.

“Apa salahku sampai jadi begini?”. Atau, “Kok aku tidak bisa membaca karakter seseorang?”

Vilhauer melanjutkan, tindakan menyalahkan diri sendiri tersebut adalah salah satu akibat dari rasa kepercayaan diri yang ambruk.

Bentuk Kekejaman Emosional

Vilhauer, mengutip makalah Richardson, Hammock, dan Janit (2012), menulis bahwa ghosting berada satu tingkat daripada sekadar mendiamkan. Dan tindakan ini, menurut pakar kesehatan jiwa, sering dianggap sebagai bentuk dari kekejaman emosional.

Lalu bagaimana cara memulihkan kondisimu dari ghosting?

Tak ada cara yang mujarab dan paten selain “membiarkan waktu yang menyembuhkan.” Bertemu dengan orang baru juga bisa menjadi caramu beranjak dari ghosting. Atau, melakukan hal-hal yang membuat perhatianmu teralih, mengerjakan kembali sejumlah hobi yang mungkin sempat terbengkalai dan lain sebagainya.

Beberapa pakar psikologi pun menyarankan tindakan mencintai diri sendiri, semacam membaca afirmasi seperti: dia tidak layak untukmu, biar saja dia hilang, Kamu adalah orang baik dan akan selalu baik-baik saja—dengan ataupun tanpa dia.

Lantas, apa saran dari Vilhauer?

“Gunakan energimu untuk fokus ke hal-hal yang membuatmu bahagia,” pungkasnya.