Wow! Ini Pernyataan Polisi Terkait Pemblokiran Akun Facebook Abu Janda


SURATKABAR.ID – Kepolisian menjadikan pemblokiran akun milik Permadi Arya alias Abu Janda oleh Facebook sebagai informasi tambahan. Seperti yang diketahui, akun Abu Janda diblokir karena aktivitasnya yang dianggap tak wajar. Bahkan dikait-kaitkan dengan penyebaran hoaks Saracen.

“Mengenai data Facebook, akan kami jadikan petunjuk sebagai salah satu alat bukti nantinya,” jelas Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo ditemui di Mabes Polri, Jakarta, pada Senin (11/2), seperti yang dikutip dari Republika.co.id.

Namun demikian, Dedi mengaku belum dapat memastikan apakah Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri bakal langsung memproses informasi tersebut dengan kasus Saracen. Ia hanya menyatakan, jika bukti menguatkan untuk dilakukan pengembangan lanjutan, polisi akan memproses.

“Polri akan melakukan proses penegakan hukum sesuai dengan fakta-fakta hukum yang ada. Siapa pun yang terlibat, kita tindak sesuai dengan fakta hukum yang ditemukan oleh penyidik Ditsiber,” ungkap Dedi lebih lanjut.

Facebook menjelaskan alasan pihaknya menghapus page kepunyaan Permadi Arya. Seperti ditukil dari laman resmi Newsroom Facebook, alasan akun, halaman, grup Facebook, maupun akun Instagram dihapus bukan karena kontennya, melainkan karena terlibat perilaku tak autentik yang terkoordinasi di Facebook Indonesia.

Baca Juga: Dituduh Terkait Saracen, Abu Janda Bakal Tuntut Mark Zuckerberg Rp 1 Triliun

Selain itu, akun atau grup yang dihapus tersebut juga dianggap telah menyesatkan orang lain. Facebook juga menyebut, semua page, akun, dan grup tersebut memiliki benang merah dengan sindikat online Saracen.

“Kami menghapus page, grup, dan akun berdasarkan tindakan dan aktivitas mereka di Facebook, bukan karena konten yang diunggah,” jelas Head of Cybersecurity Policy Facebook Nathaniel Gleicher, seperti yang dikutip dari Newsroom Facebook.

Glaicher mengungkapkan, dalam hal penghapusan akun tersebut, biasanya orang-orang di balik aktivitas saling terkait satu dengan yang lain. Dan untuk mempresentasikan diri mereka sendiri dengan menggunakan akun palsu.

Kasus Saracen sendiri merupakan kasus yang beberapa waktu lalu oleh polisi diklaim sebagai sindikat penyebaran hoaks. Saracen memuat informasi-informasi yang dinilai menyudutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Akan tetapi, hingga detik ini kasus tersebut tak juga jelas ujungnya. Pasalnya, polisi tidak berhasil mengungkap tersangka hingga bos yang berkaitan langsung dalam pengoperasian kelompok Saracen yang meresahkan tersebut.

Orang-orang yang ditangkap polisi dalam kasus tersebut malah dijatuhi vonis dengan pasal yang sama sekali tak ada kaitannya dengan penyebaran hoaks. Jasriadi, orang yang awalnya disebut-sebut polisi sebagai pentolan Saracen bahkan dalam persidangan tak terbukti sah menyebarkan hoaks. Ia justru dijerat dengan pasal akses ilegal lantaran mengakses informasi milik orang lain.