Setelah Titi Wati Kini Viral Sunarti, Dokter Akan Bedah Lambungnya Untuk Atasi Obesitas


SURATKABAR.ID – Pembedahan bariatrik atau bedah lambung akan dilakukan oleh tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung terhadap Sunarti (39). Sebagaimana diketahui, wanita asal Karawang ini jadi tak dapat beraktivitas lantaran terhambat oleh obesitas. Berat badannya mencapai 250 kg dan suaminya pergi meninggalkan begitu saja. Sehingga saat ini, pembedahan lambung akan dilakukan untuk percepat akselerasi penurunan berat badan yang membebani.

Melansir reportase Kompas.com, Selasa (05/02/2019), Reno Rudiman selaku Dokter Spesialis Konsultan Bedah Digestif (bedah pencernaan) RSHS Bandung menyebutkan bedah bariatrik ini merupakan upaya penurunan berat badan penderita obesitas.

Caranya yakni dengan mengangkat atau mengurangi sebagian lambung dari penderita secara permanen. Dengan harapan, langkah ini dapat mengontrol asupan makannya.

Ada pun alat penunjang operasi bariatrik ini disebut stepler. Yang mana alat ini akan mengecilkan lambung penderita obesitas dengan memotong 2/3 lambungnya.

Alat ini hanya digunakan sekali, dan bisa didapatkan secara impor dari Amerika Serikat. Harganya pun tak main-main, sekali operasi bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta Rupiah.

Baca juga: Wanita di Palangkaraya Ini Berbobot 350 Kg karena Sering Minum Air Es, Kisahnya Viral

“Alat namanya stepler, dia seperti stepler khusus buat lambung. Alat ini digunakan untuk memotong sebagian lambung penderita obesitas,” tukas Dokter Reno dalam konferensi persnya di RSHS Bandung, Senin (04/02/2019).

Menurut Reno, memang operasi bariatrik ini menjadi pilihan terakhir penderita obesitas yang frustasi dengan program dietnya. Pasalnya, penderita obesitas kerap disertai penyakit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit lainnya.

Sehingga Reno melanjutkan, operasi ini bisa menurunkan berat badan penderita obesitas secara drastis sekaligus menjadi obat bagi penyakitnya itu.

Pada pelaksanaannya, operasi ini tak akan hanya mengangkat sebagian lambung penderita obesitas. Tindakan ini juga akan menjadikan lambungnya berukuran kecil, yang juga berperan mengangkat sensor lapar pasien.

“Akan secara drastis menurunkan berat badan yang tadinya berlebih (obesitas) menjadi normal,” sebut Reno.

Sebenarnya persiapan operasi ini bisa dimulai oleh tim dokter dalam waktu kurang lebih sekitar dua minggu.

“Persiapan satu sampai dua minggu saja. Biasanya diet hanya seminggu. Setelah seminggu dua minggu baru tindakan (operasi bariatrik),” bebernya menerangkan.

Syarat Operasi Pengecilan Lambung

Saat hendak melakukan tindak operasi bariatrik ini, ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan dokter. Tim dokter salah satunya harus mempersiapkan betul pemeriksaan rekam medis pasien. Hal itu dilakukan agar penyakit yang diderita pasien tak akan menyulitkan atau mengganggu proses operasi.

“Misalkan ada penyakit paru, itu kan pembiusan perlu fungsi paru yang baik, kalau fungsi paru pas-pasan ketika dibius nanti collapse, kemudian fungsi jantung, kekuatan jantung ini harus bagus, kalau pas-pasan nanti ketika dibius pasti drop,” tandasnya.

Selain itu, sewaktu pasien memilih operasi bariatrik, pasien sebelumnya juga harus melaksanakan program diet yang telah disusun tim dokter.

“Biasanya sih harus ada usaha dulu bisa dengan diet, jadi contohnya juga seperti di negara lain sistem asuransinya itu menanggung operasi bariatrik kalau dia sudah membuktikan bahwa dia sudah terapi diet dan gagal, jadi gak bisa datang dan langsung di operasi saja, syaratnya ketat juga,” demikian ia menjelaskan.

Sebelumnya kasus serupa terjadi menimpa Titi Wati asal Palangkaraya. Serupa dengan Sunarti, bobot tubuh Titi Wati mencapai 350 kg atau 3,5 kuintal. Sehingga jangankan untuk berdiri, agar berbaring pun Titi harus dibantu orang lain. Sama halnya seperti Sunarti yang harus dibantu oleh setidaknya empat orang dewasa.