Puluhan Toko Ditutup, Ratusan Karyawan PT Hero Supermarket Tuntut 3 Hal Ini


SURATKABAR.ID – PT Hero Supermarket Tbk telah menutup sebanyak 26 toko di Pulau Jawa dan Sumatera sepanjang tahun 2018. Dari angka tersebut, yang paling banyak berada di wilayah Jabodetabek. Hal ini tentu berdampak terhadap ratusan karyawan.

“Sebanyak 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut,” jelas General Manager Corporate Affairs PT Hero Supermarket Tbk Tony Mampuk ketika dimintai konfirmasi pada Jumat (11/1) kemarin, seperti dikutip dari Tempo.co.

Tony mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan tengah berhadapan dengan masalah besar terkait bisnis sehingga perlu diambil langkah efisiensi. Adapun tujuannya adalah demi keberlangsungan usaha. “Di toko yang tutup itu dari pucuk pimpinan sampai yang paling bawah terkena PHK,” jelasnya.

“Karyawan yang terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) mendapatkan hak sesuai dengan undang-undang Kementerian Tenaga Kerja RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” imbuh Tony lebih lanjut.

Menurut Tony, dari total 532 karyawan PT Hero Supermarket yang dipecat, sebanyak 92 persen di antaranya mengaku dapat memahami keputusan dari perusahaan. “Sebanyak delapan persen yang menolak itu melakukan unjuk rasa,” tuturnya.

Baca Juga: Jutaan Orang Menganggur Setiap Bulan, Ini Pendidikan yang Dibutuhkan untuk Masuk Dunia Kerja

Ada tiga tuntutan yang disampaikan para karyawan yang menggelar aksi unjuk rasa, yakni pekerjakan kembali karyawan, perbaiki hubungan industrial, serta hapus union busting. “Padahalserikat pekerja ini sudah ada 18 tahun yang lalu, kalau kami melakukan union busting, saat ini mereka tidak ada,” tegas Tony.

Serikat Pekerja PT Hero Supermarket Tbk (SPHS) menggelar aksi demonstrasi di Kantor Pusat PT Hero Supermarket Tbk, Pondok Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dalam keterangan tertulis, SPHS menyatakan penolakan atas pemutusan hubungan kerja sepihak.

Tak hanya itu, SPHS juga menolak pelanggaran perjanjian kerja bersama (PKB) yang diberlakukan di perusahaan. Mereka juga menuntut penghentian upaya-upaya menghalangi kebebasan berserikat serta berorganisasi yang dilakukan oleh pihak yang mengatasnamakan dirinya manajemen.

Menurut SPHS, keputusan manajemen Hero Supermarket untuk menutup toko sudah sepatutnya terlebih dahulu disosialisasikan bersama dengan serikat pekerja. Hal tersebut sebagaimana yang telah disepakati dalam PKB. Pasalnya, penutupan toko berujung pada pemutusan hubungan kerja para karyawan. Berdasarkan PKB, jika ada karyawan yang masih ingin bekerja harus diupayakan ditempatkan di toko yang masih beroperasi.