Duh! Selain Poligini & Poliandri, Kini Poliamori Makin Digemari?


SURATKABAR.ID – Monogami berasal dari Bahasa Yunani: monos, artinya “satu” atau “sendiri”. Sedangkan gamos artinya “pernikahan”. Monogami merupakan kondisi di mana seseorang hanya mempunyai satu pasangan saja dalam pernikahannya. Namun, tak hanya monogami. Masyarakat juga mengenal istilah poligami, poligini, poliandri dan kini poliamori yang konon malah semakin digemari.

Poligini sendiri merupakan salah satu bagian dari poligami. Poligini merupakan sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sebagai istrinya dalam waktu yang bersamaan. Tapi ini berbeda juga dengan poliamori.

Melansir Tirto.ID, Jumat (04/01/2019), praktek poliamori hanya dilakukan oleh kalangan hippie tua saja di tahun 1990-an. Tapi kini, kondisinya berbeda. Apa itu poliamori? Menurut laman Wikipedia, Poliamori merujuk pada perilaku romantisme manusia yang ditujukan kepada lebih dari satu orang. Bahkan berbeda dengan pernikahan pada umumnya, poliamori ini tak selalu dilakukan dengan lawan jenis, melainkan dengan sesama jenis yang lebih dari dua orang.

Morgan dan Oliver merupakan pasangan Noni (23)—wanita yang tinggal di kota tepi pantai North Berwick, Skotlandia. Ia dan Morgan berkenalan lewat aplikasi Tinder. Mereka lalu memutuskan untuk bersama, meski Morgan yang berprofesi sebagai administrator itu sudah punya pacar. Tahun 2016, Noni pun menjalin kasih dengan Oliver usai keduanya pentas bersama di festival seni Edinburgh Fringe.

Keputusan untuk memacari dua pria sekaligus ini diambil Noni bukan tanpa sebab. Rupanya ia kerap merasa takut jika harus menjalani hubungan monogami. Kepada BBC, Noni menuturkan bahwa ide berpasangan dengan lebih dari satu pacar dalam waktu yang sama ini dikenalnya dari pacar Morgan—namanya Hannie. Morgan dan Hannie telah berpacaran selama empat tahun. Malahan, mereka tetap bersama bahkan sewaktu pria 27 tahun itu menjalin kasih dengan Noni.

Baca juga: 10 Potret Dara Arafah, Si Cantik yang Viral Karena Video Sindiran Kocaknya

Berbeda dengan Morgan, Oliver tak mengencani siapa pun selain Noni. Hingga Februari tahun 2018, mereka telah bersama selama 18 bulan. Meski begitu, ia diperbolehkan untuk menjalin hubungan dengan orang baru.

“Jika hal itu terjadi maka terjadilah tapi saya bukan pihak yang mencari. Pada waktu yang sama, saya juga tak menutup diri terhadap ide itu,” ungkapnya kepada BBC. Sewaktu ditanya soal ini, Noni menerangkan bahwa dirinya bakal senang jika Oliver menemukan seseorang yang baik.

Agar hubungan yang tercipta dapat bertahan, ketiganya berusaha untuk menjalin komunikasi dengan baik. Bagi Noni, relasi dengan kedua pasangannya itu sama-sama membutuhkan komitmen sehingga ia tak mengistimewakan salah satu di antara mereka. Noni menilai ia akan terus mempraktikkan gaya hidup yang dikenal dengan istilah poliamori itu, termasuk saat kelak membangun sebuah keluarga.

Poliamori: Dulu dan Sekarang

Di tahun 1997, penulis sekaligus pendidik sex bernama Janet W. Hardy menelurkan buku berjudul The Ethical Slut: A Guide to Infinite Sexual Possibilities. Ia menulisnya bersama seorang ahli terapi keluarga bernama Dossie Easton. Pengalaman relasi non-monogami yang menyinggung soal casual sex (bercinta tanpa komitmen), pernikahan terbuka, cara mengatur hubungan sex dengan banyak orang, dan strategi melawan kecemburuan dibahas dalam karya itu. Buku Hardy dan Easton pun laris manis di pasaran. Sebanyak 200.000 ribu eksemplar buku itu ludes terjual.

Rolling Stone menyebutkan bahwa pada saat Hardy dan Easton meluncurkan The Ethical Slut: A Guide to Infinite Sexual Possibilities, poliamori masih sedikit diterima dan dipahami. Orang yang mempraktikkannya pun masih terbatas pada kalangan hippie tua.

“Tapi sekarang, ketika saya berbicara pada hadirin poliamori, mereka terdiri dari golongan profesional muda. Hal ini sangat berbeda,” tukas Hardy.

Quartz menyebutkan bahwa praktik terbuka poliamori pada 1960-an dan 1970-an umumnya dilakukan secara berkelompok. Para praktisinya juga mempunyai pandangan politik yang jelas: menolak gaya hidup konvensional seperti bekerja dari pagi hingga sore. Mereka mengumpulkan makanan bersama-sama dan membaginya dengan rata, termasuk urusan pasangan untuk ditiduri.

Kini penganut poliamori bisa jadi tak lagi menolak pekerjaan konvensional atau gaya hidup kaum kelas atas. Tapi, Quartz menjelaskan bahwa unsur politik tetap ada. Pasalnya, pola hubungan poliamori pelan-pelan mengubah struktur dasar masyarakat.

Kepada The Guardian, Hardy menyebutkan adanya perbedaan kebutuhan menjadi alasan mengapa semakin banyak orang bisa dan ingin bahagia tanpa harus mempraktikkan monogami.

“Keadaan berubah cepat. Saya lihat anak muda tak memiliki kebutuhan yang sama dengan generasi sebelumnya dalam menentukan apa yang mereka sukai di ranjang atau dalam hubungan. Semua tersaji di atas buffet yang besar dan mereka mencoba sedikit dari segala yang ada,” bebernya.

Lebih lanjut lagi, rasa skeptis pada monogami juga menjadi faktor yang menentukan. Hal ini membuat orang lebih terbuka terhadap kemungkinan lain. Kata seorang Psikolog klinis bernama Deborah Anapol, kepercayaan terhadap monogami sedang goyah. Hal ini membuat orang bersikap terbuka pada praktik-praktik hubungan romantis yang lebih bisa diandalkan.

Berdasarkan penelitian Sarah M. Johnson, dkk yang berjudul “Development of a Brief Measure of Attitudes Towards Poliamory” (2015), poliamori lebih bisa diterima oleh kalangan muda, tertarik pada lawan jenis, memandang sex sebagai aktivitas yang positif, memiliki banyak pasangan seksual, mempunyai hasrat sex yang besar, dan gemar mencari sensasi seksual.

Dari riset yang melibatkan 430 responden itu, jenis kelamin tak berpengaruh signifikan pada tingkat penerimaan atas praktik poliamori.

Plus Minus Poliamori

Noni tak mengerti mengapa ia mesti berpura-pura membatasi banyaknya cinta yang ia berikan ke lebih dari satu orang di dunia ini. Alhasil, wanita belia yang baru berusia 23 tahun itu menyambut baik ide praktik poliamori. Poliamori sendiri merupakan bentuk relasi non-monogami konsensual yang menekankan pada koneksi emosional di antara beberapa partner.

Sama halnya dengan Noni, Alex Sanson menjalani hubungan dengan William, Mike, dan Laura yang juga saling mengencani satu sama lain. Wanita berumur 28 tahun ini mengatakan pada The Guardian bahwa ia tak pernah menyukai monogami.

“Hal yang tidak saya sukai soal monogami adalah ide tentang memiliki seseorang dan menjadikannya belahan jiwa, seakan-akan Anda tak pernah merasa komplit sebelum bertemu si dia. Saya suka poliamori karena saya bisa sepenuhnya mengendalikan diri saya sendiri dan tak seorang pun bisa menguasai saya. Saya tak perlu memiliki Anda. Kita semua bebas,” ujarnya.

Ia punya keyakinan yang sama dengan Sanson. Laki-laki berusia 30 tahun itu sungguh-sungguh meyakini kemerdekaan diri sehingga berani berterus terang pada kekasihnya bahwa ia tak bisa tahan dalam relasi monogami.

“Kami berusaha keras agar hubungan kami berjalan, tapi kami berada di jalan berbeda karena ia seorang monogamis dan saya tidak,” ungkapnya pada The Guardian.

Studi Terri D. Conley dan Amy C. Moors bertajuk “More Oxygen Please!: How Polyamorous Relationship Strategies Might Oxygenate Marriage” (2014) yang dilansir BBC mengungkapkan bahwa orang-orang poliamori memang menjaga lingkaran sosial agar tetap luas sehingga pertemanan yang terjalin pun lebih banyak. Sewaktu berpisah, mereka lebih jarang memutus kontak dibandingkan pasangan yang berada dalam hubungan monogami.

Menurut riset Conley dan Moors, orang-orang yang terlibat dalam poliamori juga mempunyai tingkat kecemburuan rendah karena sejak awal memang dituntut untuk menjaga relasi dengan lebih dari satu pasangan.

Kendati demikian, penulis buku The Polyamorists Next Door: Inside Multiple-Partner Relationships and Families, Elisabeth Sheff menuturkan poliamori juga menyimpan sisi negatif. Poliamori bisa berujung pada hubungan yang rumit lantaran melibatkan lebih dari satu hubungan pada waktu yang sama.

“Relasi romantis bisa sangat emosional, dan intensitas itu dapat terasa berkali-kali lipat karena banyak orang yang terlibat dalam hubungan,” ucapnya.

Selain itu, Sheff mengatakan bahwa negosiasi yang salah sewaktu menjalani poliamori bisa membuat hubungan pasangan bubar.

“Jika seorang penganut monogami mesti menyetujui relasi nonmonogami dalam tekanan baik dalam bentuk finansial, emosi, fisik, eksplisit, implisit, bahkan secara tak sadar maka bencana pada akhirnya akan datang,” paparnya.

Pasangan yang memutuskan untuk berkeluarga dan mempunyai anak lebih lanjut pun akan menghadapi problem jika berada dalam hubungan poliamori. Sheff bilang, anak bisa merasa sedih jika orang tua mereka berpisah dengan pasangan yang dekat dengannya. Apabila ia hidup di dalam grup poliamori dengan anggota yang banyak, maka si anak itu akan mungkin lebih sering mengalami kesedihan tersebut.

Di sisi lain, anak juga merasa tak senang jika diawasi oleh banyak orang dewasa seperti dalam keluarga poliamori. Kebohongan mereka lebih mudah terbongkar lantaran para orangtua telah saling berkomunikasi.

Pelekatan stigma sosial pada anak keluarga poliamori pun masih terjadi. Menurut penelitian Maria Pallotta-Chiarolli berjudul “These Are Our Children: Polyamorous Parenting” (2012), orang luar percaya bahwa anak keluarga poliamori mempunyai isu “the deficit model” yang berarti mereka terpengaruh secara negatif oleh gaya hidup para orangtua.