Miris! Ini Fakta Psikologis Selfie di Lokasi Terdampak Tsunami


SURATKABAR.ID – Sejumlah media asing menyoroti tindakan masyarakat Indonesia yang menjadikan lokasi terdampak tsunami Selat Sunda sebagai latar belakang selfie.

Sejumlah orang beramai-ramai datang ke lokasi terdampak bencana dengan alasan untuk memberikan bantuan sosial. Namun, mereka juga berfoto ria yang kemudian diunggah ke media sosial.

Salah satu pelaku selfie mengaku, aksinya tersebut bertujuan untuk menggugah perasaan banyak orang untuk ikut merasakan apa yang dialami para korban.

Mengenai fenomena tersebut pengamat sosial budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati menyebutnya bukan sebagai hal baru. Menurutnya, fenomena ini muncul karena perkembangan teknologi yang mengubah sensitivitas sosial masyarakat.

“Teknologi digital mendorong perubahan perilaku masyarakat. Perubahan dalam hal sensitivitas sosial mereka,” tutur Devie, Kamis (27/12/2018), seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Baca juga: Miris! Demi Likes Banyak, Lokasi Bencana Tsunami Jadi Tempat Selfie?

Akibat perubahan sensitivitas tersebut, motif seseorang saat mengunjungi lokasi bencana pun ikut berubah. Selain untuk memberikan bantuan, menurut Devie, juga muncul ‘motif digital’.

Devie menuturkan, ‘motif digital’ tersebut tak lain untuk eksis di media sosial, mendapatkan likes, serta komentar.

“Mereka ke sana tidak semata-mata hanya memberikan bantuan sosial, tapi ada keinginan untuk insentif digital yang membuat dokumentasi mereka mendapatkan apresiasi,” terang Ketua Program Studi Komunikasi Vokasi UI tersebut.

Seharusnya, saat datang ke lokasi bencana, ada interaksi sosial dengan para korban. Sebab, dukungan yang dibutuhkan bukan hanya materi, tapi juga moral.

Namun, dengan adanya aksi foto yang memanfaatkan suasana, justru dapat mengakibatkan para korban makin terluka.

“Ini menjadi catatan bagi banyak pihak, jangan sampai mengeksploitasi bencana alam untuk kepuasan diri Anda. Untuk like, atau bahkan mendapatkan keuntungan ekonomi. Itu melukai kemanusiaan,” tegasnya.

Devie juga menyebut bahwa, fenomena selfie di lokasi bencana sudah sering terjadi, hampir di seluruh belahan dunia. “Di luar negeri yang disebut lebih cerdas juga sama. Jadi bukan di Indonesia saja, tapi sifatnya global,” kata Devie.