Miris! Demi Likes Banyak, Lokasi Bencana Tsunami Jadi Tempat Selfie?


SURATKABAR.ID – Memposting foto di social media dengan berbagai latar demi mendapat likes atau love kini jadi hal yang wajar dilakukan. Namun, kali ini sejumlah orang malah memanfaatkan lokasi bencana tsunami di Banten sebagai tempat untuk berfoto selfie. Kondisi miris ini bahkan ikut direportasekan oleh media internasional asal Inggris, The Guardian.

Mengutip Tekno Liputan6.com, Kamis (27/12/2018), media asal Inggris itu lantas menulis, ada sejumlah perempuan yang mendatangi lokasi bencana di Provinsi Banten demi mendapatkan ‘perfect selfie’.

Orang-orang itu berfoto di depan tanah yang dibanjiri air dengan sejumlah kendaraan dan sampah yang terbawa gelombang tsunami pada Sabtu (22/12/2018) malam.

Dalam sebuah foto, ada empat wanita berhijab yang tersenyum ke arah kamera smartphone. Salah satunya bahkan mengacungkan jari, membentuk huruf V.

Tak tanggung-tanggung, para pencinta wefie ini sengaja bepergian berjam-jam untuk mencapai lokasi. Kemudian di sana mereka melakukan wefie dan mengunggahnya di media sosial.

Baca juga: Mencekam! Tsunami Anyer Tewaskan 168 Orang, 745 Lainnya Luka-luka

Salah satunya bahkan mengaku datang dari Cilegon. Mereka memang tak datang dengan tangan kosong. Para pencinta selfie ini sebelumnya melakukan bakti sosial dengan membawa sejumlah pakaian untuk didonasikan.

“Foto ini diunggah ke Facebook sebagai bukti bahwa kami benar ke sini dan memberikan bantuan,” tutur wanita yang mengaku bernama Solihat.

Makin Banyak Dapat Likes

Solihat menambahkan, banyak orang menganggap bahwa berfoto selfie sebagai hal dangkal. Namun, pilihan background selfie yang tak biasa bisa menunjukkan makna lebih.

“Ketika orang-orang melihat foto tempat bencana, mereka sadar mereka ada di posisi yang lebih baik. Foto lokasi bencana akan mendapatkan tanda likes lebih banyak. Mungkin karena itu mengingatkan orang lain untuk bersyukur,” tukasnya.

Akibat sapuan gelombang tsunami, banyak tubuh korban yang terbawa dan terseret, termasuk di jalanan tempat orang-orang ber-selfie itu.

Apakah Pantas?

Saat ditanya mengenai apakah kepantasan ber-selfie di depan lokasi bencana atau mayat, Solihat menjawab, “Tergantung dari niatnya. Jika ber-selfie untuk pamer, jangan. Tapi kalau untuk berbagi kesedihan dengan orang lain, oke saja,” jawabnya.

Sayangnya, dari berbagai gambar yang dijepret oleh jurnalis The Guardian Jamie Fullerton, tak terlihat bahwa orang-orang itu mengambil selfie sambil menunjukkan kesedihan mereka.

Pasalnya, seperti dilaporkan Fullerton, ada seorang wanita dengan pakaian mirip tentara justru menghabiskan waktu setengah jam mengarungi tengah lapangan yang banjir agar bisa berfoto selfie dengan sebuah mobil SUV yang sudah rusak.

Kecewa dengan Mereka yang Selfie

Sementara itu, Bahrudin yang merupakan pemilik mobil SUV yang mobilnya rusak, mengaku kecewa dengan para pecinta selfie yang jauh-jauh datang ke desanya. Pria yang jadi ketua petani lokal ini berdiri di kubangan air dengan boot-nya. Ia menyampaikan kekecewaannya saat ditanya bagaimana perasaannya melihat lokasi bencana malah jadi populer di media sosial.

Tak menyesal datang dari jauh, seorang gadis usia 18 tahun bernama Valentina Anastasia mengaku dirinya tak kecewa harus mengunjungi lokasi bencana meskipun ia datang dari Jawa Tengah. Ia mengaku dirinya tak masalah harus berkendara dengan mobil selama tiga jam dari Jakarta setelahnya.

“Saya ingin melihat lokasi bencana, kerusakannya, dan orang-orang yang terdampak,” ujarnya kepada The Guardian.

Saat ditanya berapa banyak foto selfie yang diambil, dia malah tersenyum.

“Banyak. Untuk media sosial dan grup WhatsApp,” jawabnya kemudian.

Dia pun lantas kembali mengambil banyak foto selfie dengan smartphone-nya. Semua foto diambil dengan berlatarkan orang-orang sedang mengevakuasi kendaraan rusak di belakangnya.

Barangkali, besar kemungkinan para pendatang ini menyikapi situasi di lokasi bencana layaknya dark tourism. Bagaimana menurut Anda?

 

 

Ada pun melansir laporan Kaltim.TribunNews.com, jumlah korban meninggal tsunami bertambah menjadi 430 orang. Data ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

“Update H+4, pada hari ini, Rabu 26 Desember 2018, tercatat total 430 korban meninggal,” tutur Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (26/12/2018).

Korban meninggal paling banyak tercatat di Kabupaten Pandeglang yakni 290 korban. Kemudian, di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, tercatat 113 korban jiwa. Sementara, di Kabupaten Serang, Banten, tercatat ada 25 korban meninggal dunia. Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, jumlah korban tersebut kian menurun.