Hilang di Hutan Belantara dan Bikin Tim SAR Menyerah, Yuli Dikabarkan Diambil Makhluk Astral Dijadikan Peliharaan


SURATKABAR.ID – Seorang warga Kepulauan Riau (Kepri) yang diketahui bernama Yuli hilang setelah masuk ke dalam Hutan Lingga, Minggu (16/12) lalu. Setelah sepekan dilakukan pencarian, namun tim SAR dan aparat tak kunjung menemukan titik terang atas keberadaan korban.

Akhirnya, seperti yang dilansir Grid.ID dari Kompas.com,  pencarian wanita berusia 38 tahun tersebut dihentikan pada Sabtu (22/12) kemarin. Pasalnya, meski sudah memasuki hari ketujuh, namun tanda-tanda keberadaan korban tak juga ditemukan.

“Hari ini resmi pencarian dihentikan. Hal ini juga disetujui dan diikhlaskan pihak keluarga korban,” ujar Kepala Siop dan Siaga BNPP Kelas A Tanjungpinang Eko Supriyanto ketika dimintai konfirmasi pada Sabtu (22/12) kemarin.

Eko mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan upaya pencarian semaksimal mungkin sejak hari pertama hingga hari ketujuh. Tak hanya itu. Ia juga mengungkapkan bahwa area pencarian juga sudah diperluas hingga sampai ke hulu sungai di Hutan Lingga, namun tetap tak membuahkan hasil.

“Tim yang melakukan pencarian yang terdiri Tim Pos SAR Lingga, TNI Polri serta masyarakat sampai mendirikan tenda posko di dalam hutan untuk memaksimalkan pencarian. Namun hasilnya tetap nihil,” jelas Eko lebih lanjut.

Baca Juga: Sadis! Biarkan Pitbullnya Terkam Satpam Sampai Dapat 22 Jahitan, Si Pemilik Sempat Katakan Ini Saat Kejadian

Saat dimintai tanggapan terkait isu yang dipercaya warga bahwa korban Yuli dibawa oleh kaum atau orang Bunian, Eko memilih bungkam. Ia menegaskan bahwa Yuli hanya tersesat dan terjebak di dalam hutan. Mengingat area hutan yang cukup luas dan sangat asri.

“Kalau hal itu saya tidak tahu, kami meyakini korban tersesat dan terjebak di dalam hutan. Karena hutan di Kabupaten Lingga cukup luas dan masih asri serta belum ada yang berhasil menembus hutan ini,” tandas Eko dengan tegas.

Menurut mitos yang dipercaya masyarakat Minangkabau dan Melayu di Sumatera, Indonesia dan di Malaysia Barat, orang Bunian atau kaum Bunian merupakan makhluk halus. Bentuk mereka seperti manusia dan tempat-tempat sepi, hutan, dan di rumah-rumah kosong menjadi tempat tinggal mereka.

Konon katanya, masyarakat Minangkabau mempercayai jika ada orang hilang di dalam hutan dan tak kunjung ditemukan, artinya mereka disembunyikan orang Bunian. Orang yang hilang akan diseret ke dunia orang Bunian.

Ada yang menyebut mereka dibawa dan dijadikan sebagai peliharaan orang Bunian. Beberapa kelompok masyarakan masih memegang mitos tersebut hingga saat ini. Dan bukan hanya masyarakan di Minangkabau saja yang mengenal mitos tentang orang Bunian.

Di Bengkulu, orang Bunian disebut Sebabah. Sebabah disebut berbentuk seperti manusia hanya bertubuh lebih kecil dengan kaki yang terbalik. Sementara masyarakat di padalaman memiliki pemahaman berbeda tentang orang Bunian.

Masyarakat pedalaman Sumatera menyebut orang Bunian dengan Gugua. Gugua berperawakan besar dengan bulu lebat, bersifat pemalu dan gemar meniru tingkah laku manusia. Lain dengan masyarakat Gunung Sebelat yang menyebut orang Bunian sebagai Uhang Pandak, berarti orang bertubuh pendek.

Meski makhluk ini dipercaya sudah ada sejak puluhan tahun lalu, namun hingga saat ini belum ada bukti fisik mengenai keberadaan mereka. Hanya ada beberapa orang yang melapor pernah bertemu orang Bunian tanpa sengaja.

Sebagian orang menganggap orang Bunian atau kaum Bunian bukan makhluk halus seperti yang selama ini dipercaya kebanyakan masyarakat. Mereka hanya makhluk seperti manusia dengan sedikit perbedaan pada fisiknya.