Menengok Rumah Tua Cimanggis, Situs Sejarah Kolonial di Depok


SURATKABAR.ID – Gedung peninggalan Jenderal Albertus van Der Parra yang dikenal sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda, atau yang biasa disebut Rumah Tua Cimanggis, kini mulai terlihat baik. Padahal, sebelumnya bangunan yang diperkirakan berdiri di Depok, Jawa Barat, sejak tahun 1775-1778 itu nyaris ambruk dan terbengkalai.

Mengutip laporan Viva.co.id, Minggu (16/12/2018), Ratu Farah Diba selaku Ketua Umum Depok Herittage Community, merupakan satu dari sekian peneliti dan ahli sejarah yang memperjuangkan situs bersejarah tersebut. Upayanya kini mulai membuahkan hasil. Bangunan seluas 1.000 meter persegi itu bisa dinikmati oleh banyak pihak, tanpa harus takut roboh.

Ilalang dan rimbunnya pohon yang tadinya menutupi bangunan pun, sekarang telah bersih. Namun, Farah menegaskan, upaya pelestarian atas rumah bersejarah itu masih berlanjut.

“Langkah selanjutnya, kami berupaya agar bangunan ini direvitaslisasi. Saat ini, sedang dalam tahap pembahasan,” ungkapn Ratu Farah Diba saat ditemui awak pers di rumah tua itu Sabtu (15/12/2018).

Upaya tersebut akan melewati sederet proses yang cukup panjang. Mengingat lahan, tempat bangunan itu berdiri merupakan milik Kementerian Agama. Harapannya, Pemkot Depok dapat mensurati Kemenag, agar bangunan itu bisa dihibahkan.

Baca juga: Keris Kyai Nogo Siluman, Pusaka Sakti Pangeran Diponegoro yang Direnggut Belanda

 

“Setelah disepakati, kami ingin merivitalisasi, karena kalau restorasi itu kan harus seratus persen asli. Tetapi, kalau revitalsiasi bisa mendekati sampai 70 persen. Tentu, sebelumnya akan dilakukan kajian. Hasilnya akan menjadi rujukan, termasuk teknis pelaksanaannya nanti seperti apa,” tukasnya.

Ia mengatakan, rumah tua itu memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Dibangun pada 1775-1778, rumah itu peninggalan Albertus van Der Parra untuk istri keduanya, yakni Yohanna van Der Parra. Berdasarkan hasil kajian peneliti, ornamen di rumah itu terbilang langka di Indonesia, karena sangat modern pada zamannya.

 

“Di sini, ada empat kamar tidur. Di depan itu kamar utama dan kamar anaknya. Di ruang tengah ruang utama. Di belakang ruang keluarga. Yang membedakan kamar utama dan kamar anak bisa dilihat dari ornamen atau hiasan fentilasi di atas pintu yang berbentuk gambar bayi,” beber Farah.

 

Di bagian belakang bangunan terdapat beranda yang dahulu digunakan oleh keluarga bangsawan itu untuk menikmati teh sambil melihat pemandangan yang tadinya merupakan situ atau danau. Namun kini telah menjadi hamparan permukiman padat penduduk.

Sebelum disahkan sebagai cagar budaya, bangunan itu sempat diisukan hendak dirobohkan untuk kepentingan proyek pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Akan tetapi, belakangan pengembang proyek memastikan bangunan tetap terjaga dan tidak akan dihancurkan.

Sarat Cerita Mistis

Sementara itu, berbagai media lain seperti CNNIndonesia.com dan Metro.Tempo.com mengisahkan berbagai cerita mistis yang tersebar dari penuturan masyarakat.

Rumah yang dibangun pada 1775 itu sempat dihuni oleh beberapa keluarga karyawan Radio Republik Indonesia atau RRI, salah satunya Siti Shaleha, 77 tahun. Sejak 1969 sampai 2002, Siti Shaleha sempat tinggal di dalam bangunan bersejarah itu. Wanita warga kompleks Pemancar RRI itu memberi saran agar kalau mengunjungi Rumah Cimanggis terlebih dahulu mengucapkan salam.

“Jadi sudah sering berkomunikasi dan tidak saling mengganggu dengan makhluk halus penghuni rumah, hal seperti bisa dipercaya bisa juga tidak,” sebut Siti Shaleha yang akrab dipanggil Nenek Fauzi kepada pers, Sabtu (20/01/2018).

Nenek Fauzi menuturkan, pernah ada rombongan siswa SMK dari Pancoran Mas yang ingin melakukan foto bersama untuk perpisahan sekolah. Sudah diingatkan jangan sampai petang kalau mau mengambil gambar.

“Dasar anak-anak ya,  tetap aja bandel, pas mau pulang tiba-tiba salah satunya jatuh pingsan karena kesurupan,” imbuhnya.

Sambil menunjukkan lokasi siswa SMK pingsan di dekat pintu gerbang belakang Pemancar RRI, Nenek Fauzi menceritakan bahwa dirinya dipanggil untuk melihat kondisi anak perempuan itu. Sempat berkomunikasi dengan makhluk yang merasuki siswa SMK agar tidak mengganggu.

“Wujudnya sih Noni Belanda, nenek sempat tanya kenapa ikuti anak ini, katanya si Noni mau ikut saja,” tukasnya.

Waktu itu sudah makin malam, kata Nenek Fauzi, dirinya meminta kepada rombongan siswa itu untuk pulang saja sambil membawa temannya yang kesurupan. Mereka akhirnya berboncengan tiga dengan anak cewek itu di tengah biar tidak jatuh.

“Sempat bilang ke Si Noni untuk ikut saja, tapi ingat pulang kalau memang tidak mau mengganggu.”

Nenek Fauzi melanjutkan selain Si Noni Belanda, masih banyak makhluk halus lain yang jadi penghuni Rumah Cimanggis. Ada juga anak kecil berusia sekitar 10 tahun bersama Omanya.

“Ada juga Pak Haji sih, jadi macam-macam yang sudah tinggal di situ, jadi ingat saja beri salam kalau datang,” cetusnya.

 

Hikmatul Yakin, Satpam Pemancar RRI menceritakan bahwa Rumah Cimanggis kerap dijadikan sebagai lokasi syuting acara misteri. Dunia Lain dan Petualangan Misteri pernah beberapa kali mengunjungi tempat ini.

“Dulu paranormal Ki Joko Bodo pas ke sini langsung mengakui keangkeran bangunan peninggalan Belanda ini,” ujarnya.

Diungkapkan Yakin, beberapa orang juga biasa datang mengambil batu atau tanah dari Rumah Cimanggis. Mereka ingin menjadikan benda-benda tersebut sebagai jimat.

“Kalau orang-orang seperti ini kalau saya dapat pasti saya larang, biasanya mereka disuruh ke sini oleh gurunya untuk sempurnakan ilmu,” paparnya.