Mengungkap Misteri The Great Blue Hole, Lubang Bawah Laut Kedua Terdalam Dunia


SURATKABAR.IDThe Great Blue Hole yang misterius merupakan lubang runtuhan bawah air di lepas pantai Belize. Lubang itu terletak di dekat pusat Karang Lighthouse, sebuah atol kecil yang berjarak 70 kilometer dari daratan dan Belize City. Lubang dalam bentuk melingkar, lebih dari 300 meter di seluruh dan dalam 124 meter. Anda mungkin pernah mendengar The Great Blue Hole, atau bahkan sudah pernah mengunjunginya. Tapi jiak berbicara mengenai isinya, tak banyak yang tahu seperti apa lubang di bawah laut terdalam kedua di dunia ini.

Dilansir dari NationalGeographic.Grid.ID, Selasa (11/12/2018), lubang raksasa yang terletak di 70 km pesisir Belize, Amerika Serikat ini pernah diteliti dan didokumentasikan oleh Jacques Cousteau. Jacques Cousteau sendiri merupakan seorang ahli biologi kelautan pada tahun 1971. Ia kemudian menyebutkan bahwa situs ini adalah satu dari lima situs menyelam terbaik di dunia.

Setelah itu situs dengan panjang 318 meter dengan kedalaman 125 meter ini menjadi sangat populer bagi para penyelam.

Tak hanya kedalamannya saja yang membuat The Great Blue Hole tersohor di seluruh dunia. Letaknya yang berada di tengah terumbu karang terbesar kedua di dunia—Belize Barrier Reef—juga membuat namanya kian dikenal.

Bahkan UNESCO telah mengukuhkannya sebagai situs warisan dunia.

Baca juga: Heboh! Sejarawan dan Arkeolog Temukan Kota Kuno Penuh Misteri di Tengah Laut, Begini Bentuknya

Di balik nama besarnya, The Great Blue Hole masih menyisakan misteri. Belum ada yang pernah menyentuh dasar lubang yang diperkirakan terbentuk sejak akhir zaman es ini.

Richard Branson selaku pendiri Virgin Group pun tertarik untuk memecah misteri tersebut. Branson dan Fabien Cousteau, cucu dari Jacques Cousteau, bersama para ahli akhirnya menyelami The Great Blue Hole.

Dengan menggunakan kapal selam, Branson dan tim akhirnya mampu mengalahkan kedalaman maksimal yang bisa dijelajah oleh para penyelam sebelumnya, yakni melebihi 40 meter.

Selain menjadi orang-orang pertama yang menyelami dasar The Great Blue Hole, mereka juga menjadi pihak yang mempunyai gambar dengan resolusi tinggi mengenai isi dari lubang raksasa ini.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, para peneliti kemudian mengumpulkan dan menganalisis data ilmiah mengenai kualitas air dan bakteri yang ada di sana. Mereka juga menemukan fakta bahwa di dasar lubang ini hanya tersedia sedikit kandungan oksigen.

Bahkan sedimen dalam The Great Blue Hole mampu menunjukkan periode kekeringan ekstrem yang terjadi selama abad ke-10, yang mungkin ikut ambil bagian dalam runtuhnya peradaban suku Maya pada 800 hingga 1.000 SM.

Tim juga menemukan fakta bahwa The Great Blue Hole tak selalu terendam air laut. Bukti ini didapatkan dari adanya stalaktit besar di dinding bagian selatan.

“Ini juga membuktikan bahwa permukaan laut dulunya jauh lebih rendah dan naik secara dramatis karena perubahan iklim,” ungkap Branson.

Penyelaman ini mempunyai misi yang lebih dalam dibandingkan hanya sekadar menyentuh dasar The Great Blue Hole. Menurut Branson, hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai konservasi laut. Di samping itu, ia juga ingin agar masyarakat sadar dan ikut membantu melindungi 30 persen lautan pada tahun 2030 nanti.