Anak dan Cucunya Mengenakan Sorban dan Bercadar, Tak Disangka Wiranto Bilang Begini


SURATKABAR.ID – Beberapa waktu belakangan beredar sebuah foto yang menampilkan anak dan cucu Wiranto yang mengenakan sorban dan cadar.

Foto tersebut diambil ketika Wiranto bersama keluarganya memakamkan cucunya, Ahmad Daniyal Al Fatih, belum lama ini. Tak disangka, foto tersebut langsung viral di media sosial.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan tersebut juga mengakui bahwa foto tersebut viral. Wiranto juga memberikan penjelasan mengenai foto tersebut.

Ia menegaskan, sebagai orangtua, ia mempersilakan anggota keluarganya untuk mengenakan pakaian apa pun selama tak berniat untuk pamer tentang keislaman.

“Karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumu lah yang lebih utama,” terang Wiranto dalam keterangan tertulis, Rabu (21/11/2018), seperti dilansir dari tempo.co.

Baca juga: Hotman Paris Tiba-tiba Ucapkan Terimakasih Pada Jokowi, Ternyata Ini Penyebabnya

Wiranto melanjutkan, ia selalu memberikan kebebasan kepada keluarganya selama tak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang selama ini ia tanamkan.

“Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini,” lanjutnya.

Tak hanya itu, beberapa tahun sebelumnya, publik juga sempat dihebohkan kabar soal putranya, Zainal Nurizky yang meninggal ketika mendalami pendidikan Alquran di Afrika Selatan. Kala itu, menurut Wiranto banyak yang menyebut sang anak menganut Islam radikal. Padahal, Zainal telah meminta izin Wiranto untuk menimba ilmu di tempat tersebut.

“Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal di sana karena sakit, di saat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani,” tegas Wiranto.

Wiranto menegaskan, selama ini ia selalu menekankan kepada negaranya untuk selalu membedakan agama dan ideologi negara. Sebab, keduanya memiliki tujuan yang berbeda.

“Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara,” terang Wiranto.