Sistem Pembayaran Elektronik Non-Tunai Ternyata Bikin Masyarakat Tambah Boros


SURATKABAR.ID – Bagi kebanyakan orang, saat ini sistem pembayaran elektronik jadi lebih diminati lantaran lebih mudah, cepat dan praktis. Seorang warga bernama Cory Ruth Manurung (32 tahun) bahkan pernah menikmati 1,5 tahun hidup di Sydney, Australia tanpa harus membawa banyak uang tunai. Namun terlepas dari segala kemudahan yang ditawarkannya, transaksi elektronik non-tunai ternyata  disinyalir bisa membahayakan kondisi finansial masyarakat.

Mengutip Tirto.ID, Jumat (09/11/2018), sistem pembayaran elektronik ini malah membuat banyak orang jadi lebih boros lantaran berbagai kemudahan yang diberikannya. Seperti yang dikisahkan Cory Ruth Manurung mengenai pengalaman pribadinya dalam menggunakan uang elektronik non-tunai.

“Kebetulan semua tempat di Sydney support transaksi apapun pakai kartu,” ungkap Cory kepada awak media, Rabu (07/11/2018).

Meski begitu, ia juga mengklaim bahwa hidup tanpa uang tunai tak serta-merta membuat pengeluarannya membengkak. Ini dikarenakan layanan perbankan di Australia menyediakan segudang fasilitas yang memudahkan Cory untuk mengawasi pengeluarannya. Salah satu fasilitas itu membuat Cory bisa mematok kuota uang belanja dalam kartu pembayaran.

“Sudah ada jatah mingguan,” tukas wanita yang bekerja sebagai analis di Garuda Indonesia tersebut.

Baca juga: Terjerat Utang Fintech, Wanita Ini Didesak Jual Organ Tubuh Hingga Coba Akhiri Hidup

Kemudahan selama hidup di Australia itu tidak ditemukan Cory di Indonesia. Ia merasa was-was saat tak tahu sisa uang yang ia miliki.

“Kalau di [Indonesia] pakai debit jadi gampang gesek. Sering kecolongan juga, ‘Lho, kok uang gue sudah segini?’,” ujarnya seraya tertawa sambil menambahkan bahwa situasi itu kerap terjadi karena ia merasa tak punya faktor ‘penghalang’ yang mampu membuatnya menahan pengeluaran.

Lain lagi kisah Dibya Pranata (24 tahun) yang situasinya agak berbeda. Mahasiswa S2 itu justru takut kesulitan mencatat pengeluaran saking mudahnya menggunakan perangkat pembayaran non-tunai elektronik.

“Kadang boros karena enggak kerasa bayarnya. Gampang, tinggal tap aja. Intinya boros sih [karena] enggak dihitung,” sebut Dibya blak-blakan.

Beruntung, sistem perbankan online yang Dibya gunakan sudah dilengkapi sistem notifikasi. Alhasil, ia mendapat semacam peringatan (notifikasi) tiap kali bertransaksi.

“Jadi lebih ngingetin, jadi lebih irit,” tukasnya.

Iajugamengakui, keterbatasan toko yang tak menyediakan alat pembayaran elektronik non-tunai juga menjadi faktor lain yang secara tak langsung dapat menekan pengeluarannya.

“Karena ga semua terima kartu, jadi kadang ga bisa beli beberapa makanan atau barang,” lanjut Dibya.

Cashless Society

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, jumlah transaksi uang elektronik di Indonesia kian meningkat. Pada 2011 saja contohnya, tercatat nominal transaksi uang elektronik mencapai Rp 981 milyar. Kemudian pada 2017 lalu, jumlahnya naik lagi mencapai Rp 12,375 triliun. Hingga pada 2018, angka transaksi hingga bulan September kembali naik hingga Rp 31,6 triliun.

Jelas bahwa pertumbuhan ini mengindikasikan uang elektronik telah semakin lazim digunakan masyarakat. Fenomena ini tak lepas dari gencarnya promosi perusahaan-perusahaan fintech baru seperti PT Visionet Internasional (anak perusahaan Lippo Group) dengan produk andalan OVO.

Visionet meluncurkan promosi 1 Rupiah per perjalanan jika pengguna memakai aplikasi jasa kendaraan online Grab. Saat ini Grab memang telah terintegrasi dengan layanan OVO.

OVO juga gencar memperluas jangkauan layanannya. Sebagai contoh, pada Minggu (04/11/2018), layanan uang elektronik dari Lippo itu secara resmi terintegrasi dengan layanan e-commerce Tokopedia, menggantikan layanan uang elektronik TokoCash yang diinisiasi oleh Tokopedia sendiri.

Tak hanya itu, sejumlah sales point OVO pun dapat dengan mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan milik Lippo misalnya.

Tak kalah kencang, PT Dompet Anak Bangsa (anak usaha Go-Jek) juga mendorong penggunaan uang elektronik Go-Pay. Selain terintegrasi dengan Go-Jek yang merupakan salah satu aplikasi layanan transportasi terpopuler di Indonesia, Go-Pay pun sering memberikan promosi layaknya OVO.

Beberapa waktu lalu, Go-Jek memberikan diskon besar-besaran untuk pembelian produk restoran seperti seperti CFC (California Fried Chicken), Wingstop, dan Hoka-Hoka Bento. Go-Jek juga menawarkan poin bagi pengemudi Go-Jek yang turut mempromosikan Go-Pay kepada pelanggan.

Pengguna aktif Go-Pay diklaim mencapai 11 juta orang per Oktober 2017, sementara OVO diklaim telah diunduh oleh lebih dari 60 juta ponsel pintar.

Rupanya, promo-promo ini sukses menarik perhatian konsumen. Misalnya, seperti seorang pengguna OVO dan Go-Pay bernama Indriani Pratiwi (25 tahun), akan mengalihkan pembeliannya pada barang-barang yang masuk dalam promo kedua sistem pembayaran tersebut.

“Kalau makan malam biasanya beli di tempat A. Tapi karena ada promo kalau pakai OVO/Go-Pay di tempat B, berarti malam ini aku belinya di tempat B,” ungkap Indri.

Meski begitu, Indri mengakui bahwa metode pembayaran menggunakan OVO ataupun Go-Pay masih cukup rumit sebab harus membuka aplikasi atau memindai QR Code, tak seperti kartu elektronik yang hanya butuh tap pada alat khusus saja.

Masih menurut data Bank Indonesia, pada periode Januari hingga Agustus 2018, jumlah transaksi pembayaran digital naik 3 kali lipat mencapai 1,78 miliar transaksi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 (480 juta transaksi).

Bikin Rakyat Lebih Konsumtif?

Peneliti LIPI Wasis Raharjo Jati dalam penelitiannya berjudul Less Cash Society: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia (PDF) pada 2015 menuturkan, teknologi berperan besar mendorong kelas menengah Indonesia agar lebih konsumtif melalui kehadiran alat pembayaran elektronik non-tunai.

Wasis menuliskan, di negara-negara maju kehidupan tanpa uang tunai turut membentuk karakter belanja impulsif (impulsive buying) kelas menengah, di mana orang membeli barang tanpa direncanakan. Untuk memenuhi kebiasaan itu, saldo dalam jumlah besar pun menjadi suatu keharusan.

Tampaknya, kini Indonesia tengah mengarah ke sana. Dalam survei yang dilakukan DailySocial.id dengan JakPat Mobile Survey Platform pada 2017, disebutkan sebanyak 73,79 persen responden menyisihkan Rp 250.000 atau kurang per bulannya, untuk transaksi uang elektronik.

Hanya sekitar 42 persen yang merasa uang elektronik telah mempermudah pengendalian pengeluaran. Namun pada 2017, perlu dicatat bahwa promosi penggunaan uang elektronik yang dilakukan oleh layanan macam OVO dan Go-Pay belum segencar 2018.

Laporan CNBC mengungkapkan, penggunaan kartu kredit telah membuat konsumen mengeluarkan uang antara 12 hingga 18 persen lebih banyak dibandingkan saat mereka menggunakan uang tunai. Hal yang sama juga berlaku pada sistem pembayaran melalui ponsel pintar.

Diungkapkan Ross Steinman, profesor jurusan psikologi di Widener University, penggunaan uang tunai sebenarnya tak membantu orang mengontrol pengeluaran. Sebaliknya, belanja dengan uang fisik membuat konsumen selalu teringat bahwa mereka benar-benar sedang mengeluarkan uang.

“Jika Anda benar-benar menyerahkan uang fisik, Anda dapat merenungkan apa yang telah Anda lakukan untuk mendapatkan uang itu,” tandas Steinman.