Tuntutan Udara Bau dari Warga Sukoharjo Malah Berujung Bui


SURATKABAR.ID – PT Rayon Utama Makmur atau PT RUM, diduga telah melanggar izin lingkungan. Mereka memproduksi gas berbahaya karbon disulfida yang nihil dibahas dalam AMDAL pendirian pabrik. Sejak Oktober 2017, warga Sukoharjo di sekitar pabrik yang memproduksi serat rayon untuk kepentingan industri tekstil dan garmen itu mencium bau busuk. Bau busuk seperti bau kotoran tersebut tak pelak membuat mereka pusing, mual dan semaput.

Dilansir dari Tirto.ID, Jumat (02/11/2018), tak jarang sebagian warga sana harus memakai masker tiap hari. Dan ini termasuk anak-anak kecil yang tubuhnya masih rentan. Mau tak mau mereka harus memakai masker, bahkan selagi kegiatan belajar di sekolah. Namun PR Rayon Utama Makmur mengklaim pencemaran udara dan limbah cair yang baunya busuk menusuk itu tak berbahaya.

Apabila hendak ditinjau ulang, perlakuan para penegakan hukum dalam kasus pencemaran limbah PT RUM cenderung tumpul ke atas namun tajam ke bawah.

Genta, seorang anak usia 13 tahun, lantas menulis surat singkat untuk ibunda Presiden Joko Widodo, Sudjiatmi. Diketahui, Ibunda Kepala Negara lokasi rumahnya dapat ditempuh hanya sejam dengan naik mobil dari lokasi pabrik PT Rayon Utama Makmur. Itulah sebabnya Genta mengalamatkan surat tersebut kepadanya Ibu Sudjiatmi.

“Untuk Eyang Putri Pak Jokowi, bebaskan ayahku. Ayah saya bukan penjahat,” tulis Genta. Lantaran menuntut udara sehat, selama 4 tahun ayahnya harus dibui di balik jeruji besi.

Baca juga: Waspada! Tak Hanya Merusak Paru, Polusi Udara Ternyata Membuat Orang Jadi Bodoh

Dituduh Merusak Pabrik

Ayahnya, Sukemi Edi Susanto, ditangkap oleh polisi karena dituduh merusak pabrik. Sukemi kini mendekam di balik penjara Kedungpane, Semarang, setelah divonis 2 tahun 3 bulan pada awal Agustus lalu oleh PN Semarang.

Pertengahan Oktober kemarin, status vonisnya dinaikkan 4 tahun penjara dalam sidang banding oleh Mahkamah Agung di Jakarta.

Genta membawa surat itu bersama ibunya, Veny Ike Anjarwati, dengan berjalan kaki dari rumahnya di Desa Plesan, Sukoharjo, menuju rumah ibunda sang presiden di Kota Surakarta.

Surat itu urung diberikan langsung setelah para polisi secara berlapis mengadang ibu dan anak itu di perbatasan Surakarta.

“Saya berikan ke Kasat Intel, namanya Pak Bowo, dia berjanji akan mengantarkan,” ungkap Veny, ibunda Genta, kepada pers pada awal September lalu.

Genta memohon agar ayahnya dibebaskan karena tak bersalah lewat surat itu. Sebab, sang ayah tengah memperjuangkan apa yang menjadi hak hidup seorang warga: menghirup udara sehat agar kedua adiknya tak terus merengek dan terbangun dari tidur saban malam karena tersiksa “bau tahi” dari pencemaran udara PT RUM.

Aroma Bak ‘Bau Tahi’

Sejak Oktober 2017 hingga Februari 2018, lalu berlanjut dari akhir September kemarin, aroma mirip tangki septik bocor menjadi santapan bagi Genta dan kedua adiknya. Jika baunya sedang sangat menyengat, bahkan bisa sampai ke dalam rumah. Tak ayal aroma busuk itu bikin pusing dan mual-mual. Genta bahkan harus memakai masker saban belajar di sekolah.

Bau yang tercium juga berbeda-beda—terkadang seperti bau kopi Luwak yang baru diseduh, pernah tercium seperti petai busuk, tapi yang lebih sering adalah bak bau tahi. Hal ini praktis membuat Sukemi bersama warga lain di sekitar pabrik menuntut PT RUM menghentikan operasionalnya.

Di bawah Forum Komunikasi Masyarakat [Desa] Plesan, Gupit, Celep, Pengkol (FKM-PGCP), Sukemi rajin melayangkan protes di depan pabrik PT RUM sejak 27 Oktober 2017. Saban aksi, Sukemi jarang absen. Ia bahkan mengajak Veny dan ketiga anaknya saat ratusan warga di Kecamatan Nguter menggelar aksi di depan kantor parlemen daerah Sukoharjo.

Belakangan, warga kesal karena tuntutan mereka diabaikan para politikus daerah dan Bupati Wardoyo Wijaya. Alhasil mereka pun mendatangi pabrik PT RUM pada akhir Februari. Hal ini pun berbuntut kericuhan. Sukemi bersama keempat warga lainnya dituding melakukan pengrusakan fasilitas PT RUM.

Bersama Brillian Yosef Nauval, Kelvin Ferdiansyah Subekti, Sutarno, dan Mohammad Hisbun Payu, Sukemi ditangkap. Dua warga lain, Bambang Hesti Wahyudi dan Danang Tri Widodo, ditangkap dengan pasal karet lewat UU ITE karena menimbulkan sentimen SARA.

Merekalah jajaran yang termasuk paling vokal melawan pencemaran limbah cair dan udara dari PT RUM, yang kepemilikannya terkait dengan keluarga pendiri PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex, hanya sekitar 20 menit dari lokasi PT RUM, juga sama-sama di Sukoharjo.

Sritex merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia yang berdiri pada 1966 di Solo, yang memproduksi seragam militer untuk TNI maupun negara-negara adidaya termasuk NATO.

Kejanggalan Penangkapan

Luboy (ayah Brillian), pada 14 Maret 2018 dini hari, marah besar saat mengetahui lima pria tanpa seragam polisi bersenjata laras panjang mengatakan anaknya terlibat “pencurian.”

Kadung nekat, Luboy memacu motornya mencari Brillian yang malam itu tak pulang ke rumah. Luboy menemukan anaknya tidur di rumah tetangga di Desa Juron, Kecamatan Nguter. Sampai di rumah, Luboy menyerahkan anaknya dan meminta polisi menyerahkan surat penangkapan.

Namun, polisi hanya mengeluarkan kertas kosong, “Enggak ada tertulis nama anak saya, langsung minta KTP,” lalu menulis nama Brillian di surat tersebut, sebut Luboy.

Melihat itu Luboy bingung dan baru diberitahu setelahnya—anaknya ditangkap “terkait PT RUM.” Malam itu juga anaknya dibawa ke Polda Jateng di Semarang.

Elly, ibu Brillian, menuturkan bahwa saat aksi protes berbuntut ricuh di depan PT RUM itu anaknya hendak mengantar seorang teman yang akan pulang ke Kota Sukoharjo. Saat melihat peristiwa di depan pabrik, Brilian turun dari motor dan ikut bersama sejumlah kawan melihatnya. Dalam persidangan, Brilian dinyatakan melanggar pasal perusakan.

Menurut Luboy dan Elly, alat bukti yang dipakai dalam persidangan PN Semarang itu “tergolong lemah.” Pengadilan menghadirkan saksi dari pihak polisi yang tak melihat Brillian memecahkan kaca Pos Satpam. Luboy berkata bahwa pengadilan memakai bukti-bukti dari video-video yang beredar di media sosial.

Penuturan Elly, Brillian pernah ikut demo di kantor bupati dan parlemen daerah Sukoharjo. Pemicunya, adik perempuan Brillian menderita sesak napas bahkan harus memakai tabung oksigen sejak “bau tahi” dari pencemaran lingkungan PT RUM saban hari tercium hingga rumahnya.

“Padahal jarak rumah kami jauh,” ungkap Luboy.

Perasaan bingung dan marah juga disampaikan Indri, orangtua Kelvin Ferdiansyah Subekti. Belasan polisi mendatangi rumahnya di Desa Plesan tanpa mengetuk pintu dan mencari-cari anaknya.

Polisi-polisi itu mengaku sebagai “teman Kelvin” padahal “teman anak saya enggak begini,” kata Indri, menggambarkan perawakan dan gelagat seram polisi.

Polisi langsung mendatangi Kelvin yang tengah pulas. Sama seperti Brillian, apa yang disebut “surat penangkapan” berupa kertas kosong lalu diisi oleh polisi setelah Kelvin diminta menyerahkan KTP.

“Saya enggak terima,” tukas Indri. “Anak saya digelandang seperti teroris. Dari dalam rumah sampai depan dipaksa jalan oleh tiga orang,” sambungnya.

Dalam persidangan, Kelvin dinyatakan terlibat merusak pos keamanan PT RUM, dituduh memecahkan kaca dan membakar buku tamu serta merusak pagar belakang PT RUM.

“Padahal anak saya enggak tahu sama sekali. Buktinya cuma lihat lewat video-video. Kelvin dibilang merusak pagar, padahal saat itu pagarnya sudah rusak,” imbuh Indri.

Begitu juga penangkapan terhadap Sukemi Edi Susanto, ayah Genta. Polisi-polisi mengepung seluruh rumahnya di Desa Plesan. Polisi juga merampas telepon genggam Veny, istri Sukemi, dan baru dikembalikan seminggu setelah suaminya ditangkap.

Mohammad Hisbun Payu (Iss) ditangkap di Jakarta oleh rekan-rekannya, selagi hendak melaporkan kasus pencemaran lingkungan PT RUM ke Komnas HAM. Pada malam hari, polisi menangkapnya saat ia pergi ke sebuah minimarket. Polisi memaksanya naik mobil, memborgol lengannya, lalu langsung dibawa ke Semarang.

Merasa Dikriminalisasi

Baik Sukemi, Brillian, Kelvin, Iss, dan Sutarno, melalui pengacaranya dari Lembaga Bantuan Hukum Semarang, menyatakan penangkapan mereka merupakan usaha “kriminalisasi”.

Kelimanya divonis 2 tahun penjara. Mahkamah Agung menaikkan vonis menjadi 4 tahun penjara pada pertengahan Oktober lalu. Sementara Bambang Hesti Wahyudi dan Danang Tri Widodo, yang dijerat pasal karet UU ITE, divonis 3 tahun penjara.

Keluarga-keluarga dari warga yang “dikriminalisasi” ini berharap anak, suami, ayah mereka mendapatkan keadilan dan bisa segera dibebaskan dari hukuman berat hanya karena menyuarakan protes yang menjadi haknya: mampu menikmati derajat kesehatan setinggi-tingginya.

Mereka tak ingin keluarga dan warga sekitar pabrik terus-menerus mencium “bau tahi” dari pencemaran limbah cair dan udara PT RUM. Tapi, mereka justru malah dibui.

Serupa harapan Genta dalam suratnya kepada Ibunda Jokowi:

“Eyang, ayah saya bukan penjahat, ayah saya hanya memperjuangkan lingkungan dan udara bersih untuk masa depan saya. Bebaskan ayah saya dan keenam aktivis lainnya. Semoga Eyang sehat selalu dan bisa melihat cucunya besar.”

Smiak video reportasenya sebagai berikut: