Kapitan Pattimura Ternyata Bernama Asli Ahmad Lussy dan Muslim?


SURATKABAR.ID – Sebelum uang Rp 1.000 gambar Cut Meutia dikeluarkan, sosok Kapitan Pattimura sudah terpampang di uang kertas pecahan Rp 1.000 yang dulu. Kapitan Pattimura dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang gigih melawan penjajah Belanda. Oleh pemerintah, Pattimura dijuluki sebagai “Thomas Matulessy” atau “Thomas Matulessia”. Namun kini muncul polemik bahwa nama asli Pattimura adalah Ahmad Lussy.

Mengutip SindoNews.com, Jumat (26/10/2018) belakangan sejarawan mengungkap bahwa nama asli Kapitan Pattimura ialah Ahmad Lussy. Pattimura lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 dan meninggal dunia di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 di usia yang masih terbilang muda—34 tahun.

Sedangkan info versi pemerintah Indonesia, bahwa Pattimura lahir 8 Juni 1783 di Haria di daerah Saparua, Maluku Tengah. Ia lahir dari ibu bernama Fransina Tilahoi dan ayahnya, Frans Matulessy.

Penulis buku Sejarah Perjuangan Pattimura (1954), M Sapija, menyebutkan dalam tulisannya, “…Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahualu. Sahualu bukan nama orang, tetapi nama sebuah negeri yang terletak di sebuah teluk di Seram Selatan.”

Sementara itu, sejarawan Mansyur Suryanegara berpendapat lain. Dalam bukunya berjudul Api Sejarah (2009), Mansur Suryanegara menyatakan bahwa nama asli Pattimura adalah Ahmad Lussy. Atau dalam bahasa Maluku disebut sebagai “Mat Lussy” yang lahir di Hualoy, Seram Selatan.

Baca juga: Berkat Bukti-bukti Ini, Akhirnya Terjawab Sudah Apa Agama Gajah Mada

Menurut Mansyur, Pattimura ialah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau yang saat itu diperintah oleh Sultan Abdurrahman. Sultan Abdurrahman sendiri juga dikenal dengan julukan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/asisten Allah)—yang dalam bahasa Maluku disebut “Kasimiliali”.

Siapa Sebenarnya Thomas Matulessy dan Pattimura?

 

Dikatakan bahwa Pattimura itu sebenarnya merupakan nama marga di Desa Latu dan Hualoy Seram Barat Maluku Tengah. Pattimura sendiri berarti “Raja yang merendahkan diri”. Di Desa Haria Pulau saparua (Malteng), tempat lahir Thomas Matulessy, tidak ada marga Pattimura.

Menurut M Sapija, saat perang Pattimura ada yang bernama Thomas. Namun Thomas yang dimaksud tersebut merupakan Thomas Hehanusa. Ia adalah seorang mantan serdadu Inggris pada waktu itu. Dia berasal dari Desa Titawaai Pulau Nusalaut. Turunannya sampai saat ini ada di Dessa Hualoy. Thomas Hehanusa merupakan seorang Kristen yang kemudian masuk Islam. Setelah menjadi mualaf, ia berganti nama menjadi Sinene Hehanusa atau Kapitan Latuleanusa.

Dari sejarah Pattimura yang ditulis M Sapija, disebutkan bahwa gelar Kapitan itu adalah pemberian Belanda. Padahal, fakta sebenarnya juga tidak demikian.

Kapitan Patimura Muslim yang Taat

Ahmad Lussy, atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy ialah sosok bangsawan dari Kerajaan Islam Sahulau. Sejarawan Mansyur Suryanegara mengungkapkan, Pattimura adalah seorang muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga ulama. Sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku ialah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Lembaga dakwah Alhadiid juga menuturkan dalam artikelnya, bahwa buku Biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit dinilai ada kejanggalan. M Sapija tak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan.

Kemudian ada kejanggalan yang menambahkan marga Pattimura adalah Mattulessy. Padahal, di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari M Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

Sejarawan Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku merupakan kerajaan Islam. Di antaranya adalah Kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-Raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku. Mansyur pun tak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan satu agama saja.

Penulis buku ‘Menemukan Sejarah’ yang menjadi best seller ini juga mengkritik M Sapija yang menyebut gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Mansyur Suryanegara menerangkan bahwa leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis).

Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Itulah sebabnya tingkah laku sosial mereka dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, maka akan muncul kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai suatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma.

Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Kendati kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “Kapitan” melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy

Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal.

Pertama, adanya kekhawatiran rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie).

Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yakni monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi merupakan polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda.

Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lussy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia.

Saat Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, saat itu pula Belanda mendapat pukulan berat. Akhirnya Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta.

Belanda pun semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan ditangkap pasukan Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy dan kawan-kawannya menjalani hukuman gugur di tiang gantungan.

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun, nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, perlu upaya meluruskan sejarah.

Laman TribunNews.com terbitan Sabtu (19/08/2017) menyebutkan teori serupa dikemukakan oleh website islamedia.id.  Dari pernyataan di dalam website tersebut, tertulis Pattimura memiliki nama Islam yakni Ahmad Lussy, dan biasa disebut Mat Lussy.

Menurut Islamedia.id ditulis: “Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia umumnya.”

Referensi Sejarah Mengenai Kepahlawanan Pattimura bisa ditelaah dari:

  • “Verhuel Herinneringen van een reis naar Oost Indien” (1835-1836),
  • JB Van Doren (1857), “Thomas Matulesia, Het Hoofd Der Opstandelingen Van Het Eiland Honimoa”,
  • PH van der Kemp (1911), “Het herstel van het Nederlandsche gezag in de Molukken in 1817″,
  • M Sapija (1954), Sejarah Perjuangan Pattimura”, Penerbit Djambatan,
  • Ben van Kaam (1977), “Ambon door de eeuwen”,
  • M Nour Tawainella (2012), “Menggali sejarah dan kearifan lokal Maluku”,
  • Mansyur Suryanegara (2009). “Api Sejarah”.