Premium Batal Naik Harga, Timses Prabowo Sebut Jonan Bisa Kena Pasal Hoax


SURATKABAR.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000 per liter.

Rencananya, harga tersebut akan diberlakukan pada taggal 10 Oktober 2018 mulai pukul 18.00 WIB.

Namun, selang beberapa menit setelah Jonan mengumumkan kenaikan tersebut, Kementerian ESDM menyebut bahwa rencana tersebut ditunda. Penundaan ini dilakukan atas arahan Presiden Joko Widodo dan menunggu kesiapan PT Pertamina (Persero).

Penundaan ini pun menjadi sorotan Anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo. Menurutnya, penundaan kenaikan harga BBM tersebut merupakan bentuk inkonsistensi.

Baca juga: Pertimbangkan 3 Alasan Ini, Jokowi Tunda Naikkan Premium

Tak hanya itu, anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tersebut juga menanggpinya dengan guyonan soal hoax.

“Jika memakai terminologi sekarang, harusnya Menteri Jonan bisa dikenakan pasal-pasal hoax he-he. Periksa Jonan dong pak Polisi,” ujat Drajad dalam pesan singkatnya, Kamis (11/10/2018), seperti dilansir dari cnnindonesia.com.

Disamping kelakarnya tersebut, Drajad mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan bukti menajemen pemerintahan yang acak-acakan. Menurutnya, Jonan mengumumkan kenaikan BBM tanpa koordinasi.

“Apa Menteri Jonan nyelonong sendiri mengumumkan kenaikan harga premium tanpa persetujuan Presiden? Apa kebijakan se-strategis itu, dan menyangkut hajat hidup rakyat banyak, tidak dibahas dalam rapat kabinet?” tegas Drajad.

Manajemen yang acak-acakan ini sebelumnya juga terlihat dari ribut-ribut soal impor beras. Menteri Perdagangan dan Kepala Bulog memiliki pandangan yang berbeda soal impor beras hingga saling sindir di media. Ada pula permasalahan dalam pengangkatan menteri warga negara asing, serta sejumlah peristiwa lainnya.

Sementara itu, soal kenaikan harga BBM jenis premium, menurut Drajad tinggal menunggu waktu. Sebab, keuangan Pertamina kini tengah terpukul akibat harga minyak dunia yang menanjak.

“Dari kejadian ini terlihat pemerintah tidak siap menghadapi kenaikan harga minyak,” tukasnya.