Desanya Tak Tersentuh Bantuan, Warga Korban Gempa Donggala Meninggal Kelaparan


SURATKABAR.ID – Salah satu warga korban dampak gempa dan tsunamidi Desa Malei, Kecamatan Balaisang Tanjung, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) dikabarkan meninggal dunia karena kelaparan. Informasi ini didapatkan dari warga bernama Harjo (38). Harjo sendiri juga merupakan korban yang berasal dari Desa Malei. Ia merupakan tetangga desa korban yang disebutkan meninggal karena kelaparan.

Menukil JawaPos.com, Minggu (07/10/2018), Harjo menuturkan bagaimana kondisi memprihatinkan ribuan warga korban bencana di tujuh desa di kecamatan Balaisang Tanjung, Donggala. Pasalnya mereka tak tersentuh bantuan logistik, sehingga tak pelak berimbaslah kepada meninggalnya seorang korban akibat kelaparan.

Harjo menyambung, sebelum diketahui meninggal dunia, warga tersebut sempat turun ke kampung untuk mencari makanan. Namun sayang, sebagian warga di kampung yang mempunyai kios penjual beras juga turut mengungsi. Sehingga tak sempat membeli beras.

“Saya kurang tahu usia tepatnya itu berapa tapi yang jelas dia itu laki-laki baru sudah lanjut usia. Diperkirakan mati kelaparan karena paginya, dia turun ke kampung cari makanan. Jadi sorenya begitu langsung meninggal diperkirakan mati kelaparan,” demikian dipaparkan Harjo saat ditemui di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Sabtu (06/10/2018).

Sayangnya, Harjo mengaku kurang begitu mengingat nama jelas korban yang meninggal, pada Kamis (04/10/2018) sore lalu itu. Pria yang berprofesi sebagai pedagang di kios-kios sederhana di desanya ini mengaku, dampak gempa berkekuatan 7,4 SR yang melanda pada Jumat lalu tersebut telah meratakan nyaris sebagian besar rumah-rumah, lahan perkebunan dan jalanan terjal masuk desa.

Baca juga: Pemerintah Batasi Bantuan dari Negara Lain untuk Sulteng, Ternyata Ini Alasannya

Harjo menggambarkan bahwa letak tujuh desa berdampingan di kecamatan setempat memang dikelilingi kawasan pegunungan. Di bawah gunung, tak begitu jauh dari bibir pantai, desa berjajar sepanjang kawasan pesisir. Sebagian besar warga desa berkebun dan berprofesi sebagai nelayan. Adapun jaraknya dari Kota Palu sekitar 120 kilometer, sehingga membuat desanya dan keenam desa lainnya itu betul-betul terisolasi dan jauh dari perhatian dan bantuan logistik.

“Sampai saya tinggalkan itu waktu kemarin (Jumat) sama sekali belum ada masuk logistik di sana. Itu di tenda-tenda pengungsian warga-warga disana, kelaparan itu orang. Sudah berapa hari dengan ini, warga saya liat terakhir ada saja yang makan pisang, singkong, itu saja yang dipakai bertahan hidup itu di tenda, itu pun tidak bisa cukup mungkin karena hanya kebun yang kita ambil,” bebernya menjelaskan.

Saat gempa terjadi pada Jumat (28/09/2018) lalu, ia sempat menyelamatkan ratusan jiwa. Dengan menggunakan mobil truk, warga setempat diangkut secara bergantian untuk menyelamatkan diri ke atas kawasan gunung.

Desanya dan enam desa lain, memang tak terkena tsunami, namun dampak gempa, meluluhlantakkan sebagian besar bangunan semi permanen hingga lahan perkebunan milik warga disana.

Bantuan Tak Kunjung Datang

“Saya kurang tahu waktu saya tinggal desa itu sudah masuk bantuan atau belum, yang jelas terakhir sekali itu sampai masuk hari kelima kemarin dulu itu belum ada saya liat bantuan logistik, mau beras, mau apa-apa, belum ada yang saya lihat masuk,” sambungnya menuturkan.

Dari desanya ke Kota Palu, Harjo sendiri juga harus menempuh kurang lebih delapan jam perjalanan melalui darat. Mewakili enam desa lainnya, kedatangannya hanya untuk melaporkan ke pemerintah setempat bahwa disana sama sekali belum tersalurkan bantuan logistik. Pusat distribusi logistik pasca bencana saat itu hingga saat ini dipusatkan di Makorem 132/Tadulako, Kota Palu.

Harjo melanjutkan, Pemerintah Donggala sama sekali belum memerhatikan kondisi di desanya serta enam desa lainnya. Harapan Harjo, setelah ia berhasil melaporkan kondisi desanya yang memprihatinkan ini, bantuan logistik berupa beras dan kebutuhan dasar lainnya, tak lupa juga bantuan medis seperti obat-obatan, bisa tersalurkan segera dan secepatnya.

“Kalau terlalu lama, mau ditahan-tahan jangan sampai jatuh lagi korban-korban lain. Sudah kena musibah bencana, ada lagi nanti yang mati karena kelaparan, kan itu kasian sekali. Warga kita di sana butuh sekali itu, bantuan-bantuan logistik disana,” tukasnya memelas penuh harap.