CIA Dituding Terlibat G30S PKI, Soeharto Dijadikan Alat


SURATKABAR.ID – Peristiwa G30S PKI yang terjadi pada 1965 silam, menyisakan luka mendalam bagi Indonesia.

Pengakuan dari orang-orang yang mengalami langsung peristiwa tersebut hingga kini masih menjadi sorotan. Sebab, meski telah banyak buku yang membahasnya, namun rasanya masih ada misteri mengenai peristiwa berdarah tersebut.

Salah satunya adalah pengakuan dalam buku¬†“Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani”. Buku yang ditulis oleh salah satu pelaku utama ini memiliki isi yang cukup menarik.

Setelah dibungkam selama 29 tahun lamanya, bekas petinggi Angkatan udara tersebut akhirnya buka suara. Tak hanya itu, ia pun memberikan keterangan langsung mengenai apa yang diketahuinya soal G30S PKI.

“Menurut saya CIA itu sangat terlibat, dan Harto adalah tangan yang dipakai. G30S 1965 itu bikinan Harto,” ujar Omar saat diwawancarai oleh tempo.co pada 2001 silam.

Baca juga: Ada di Tibet, Ritual Pemakaman Ini Disebut Paling Mengerikan di Dunia

30 September 1965, pukul 16.00 WIB, Omar menyebutkan, ada laporan dari Asisten Direktur Intel AURI Letkol Udara Heru Atmodjo yang mengatakan bahwa ada gerakan di lingkungan AD untuk menjemput jenderal AD dan dihadapkan pada Presiden Soekarno.

Namun, hingga pukul 20.00 WIB, jadwal operasi belum juga ditentukan. Hal ini membuat Omar heran. Begitu pula soal daftar jenderal AD yang akan diculik. Sebab, dalam daftar tersebut yang diculik bukanlah jenderal yang memegang komando.

“Saya pribadi tambah merasa aneh karena Nasution dan A. Yani dalam satu paket sasaran, padahal keduanya bertentangan terus,” lanjutnya.

Lebih jauh, Omar menegaskan bahwa sebenarnya PKI tak punya kekuatan bersenjata. Oleh karena itu, Syam Kamaruzaman diduga menyarankan agar Aidit mempengaruhi TNI.

“Daripada kita (PKI) melatih orang mahal, kan sudah ada ABRI. Kita pengaruhi saja mereka. Kan gampang,” ujar Omar menirukan ucapan Syam pada Aidit.

Dari ide ini, akhirnya TNI pun dipengaruhi. Dari sini, rencana penculikan para jenderal dilakukan. Namun, penculikan tersebut kemudian dibelokkan menjadi pembunuhan.