Bertemu Suku Kanibal Pemburu Kepala di Kalimantan, Pelancong Norwegia Tuturkan Kisahnya


SURATKABAR.ID – Carl Alfred Bock, seorang pelancong asal Norwegia menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan suku kanibal pemburu kepala di pedalaman Kalimantan. Suku itu bernama Dayak Tring yang dikabarkan kejam dan keji.

“Perjalanan dari Kotta Bangoen ke permukiman Tring memakan waktu empat hari,” ungkap Carl Alfred Bock, melansir laman TribunNews.com, Sabtu (22/09/2018).

Harapannya, Carl dapat menjumpai suku Dayak Tring di Moeara Pahou. Diketahui, suku Dayak Tring ini merupakan cabang keluarga suku Bahou. Namun karena sampai tiga hari tak berjumpa seorang pun, Carl berencana memasuki kampung mereka.

“Namun, Sultan dan pengikutnya berkata bahwa perjalanan menuju ke sana sangat tidak aman,” tutur Carl Alfred Bock.

“Suku itu kanibal, dibenci, juga ditakuti oleh tetangga suku mereka.”

Baca juga: 7 Negara Terkecil yang Tak Banyak Dikenal, Republik Molossia Hanya Dihuni 7 Orang!

Sultan Aji Muhammad Sulaiman khawatir suku Dayak itu akan beranggapan bahwa rombongannya bersiap menyerang mereka.

“Saya harus melihat mereka karena mendengar kisah bahwa mereka keji dan kanibal. Pemerintah kolonial berharap saya dapat memberikan laporan tentang kebiadaban itu,” pinta Bock.

“Dan, saya pasti disalahkan kalau tidak menyaksikan mereka,” imbuhnya.

Telapak Tangan Terbaik untuk Dimakan

Akhirnya Sultan meluluskan permintaan Bock dengan mengirimkan sebuah perahu dengan seseorang yang akan meminta suku Dayak Tring untuk menampakkan diri. Namun, seminggu sudah berlalu dan tak ada kabar. Anehnya lagi, perahu itu tak kunjung kembali.

“Apakah mereka telah terbunuh dan dimakan?” pikir Bock yang menjadi semakin gelisah.

Tak ayal, Sultan pun turut gusar. Ia kemudian mengirimkan perahu besar yang dipimpin seorang Kapitan Bugis. Beruntung, tiga hari kemudian perahu kembali bersama sekitar 40 warga Dayak Tring, termasuk empat perempuan.

“Seorang pendeta perempuan mempersilakan saya untuk mengambil gambar sosoknya,” tutur Bock.

“Hal yang paling menakjubkan adalah lubang telinganya panjang berbandul cincin logam […] Selanjutnya, ketiadaan alis.”

Wanita itu mengizinkan Bock untuk mengamati secara detail bagian tubuhnya.

“Kembangan tato di bagian paha juga menjadi hal yang menarik,” imbuhnya.

“Rambut mereka yang pendek menjadi pembeda dengan para perempuan suku-suku lainnya; dan warna kulit mereka yang lebih cerah ketimbang suku-suka Dayak lainnya, kecuali orang-orang Punan,” paparnya.

Sambil mengulurkan kedua tangannya, pendeta wanita tadi berkata kepada Bock bahwa telapak tangan merupakan bagian terbaik untuk dimakan. Dia juga menunjuk lutut dan dahi, sambil berkata dengan bahasa Melayu “Bai, bai” (baik), demikian Bock bercerita.

“Menunjukkan bahwa otak dan daging lutut merupakan hidangan lezat bagi sukunya.”

Pertemuan dengan Kepala Suku

Kemudian seorang kepala suku Dayak kanibal menyambangi tempat menginap Bock. Namanya, Sibau Mobang. Dia datang bersama pendampingnya—seorang wanita dan dua orang pria.

“Saat dia memasuki rumah panggung saya,” tulis Bock, “Dia berdiri beberapa saat, tanpa bergerak ataupun berkata, memandangi saya dengan tatapan dalam, sementara saya sedang berpura-pura tidak mengamatinya. Lalu, dia duduk dengan pelan sekitar dua meter dari kaki saya.”

Menurut Bock, Sibau tampak berusia sekitar 50 tahun, ompong dan kempot, kulitnya coklat kekuningan, dan agaknya sakit-sakitan. Sejumput rambut kaku menghias kumis dan dagunya. Kupingnya menjuntai dan ditindik dengan lubang besar. Semua penampilan laki-laki itu kian menambah kesan angker tentang dirinya.

“Matanya mengekspresikan tatapan mata binatang buas,” tandas Bock yang mencoba melukiskan sosok laki-laki itu, “Dan di sekitar matanya tampak garis-garis gelap, seperti bayang-bayang kejahatan.”

Namun, “Lengan kanannya, yang berhias gelang logam, kondisinya lumpuh,” lanjut Bock, “Untuk alasan itulah dia menempatkan senjata mandaunya di sisi kanan, dan selama beberapa tahun telah banyak korban dijatuhkan oleh dia yang haus darah ini dengan tebasan tangan kirinya.”

Tidak Makan Orang Tiap Hari

Kepada Bock, Sibau berkata bahwa sukunya tidak makan orang setiap hari. Mereka makan daging dari berbagai satwa, nasi, dan buah-buahan liar. Namun, ujar sang kepala suku, sudah setahun ini mereka tidak makan nasi karena kegagalan panen.

Bock yang saat itu tengah melukis Sibau, kemudian buru-buru menyajikan seketel nasi yang baru saja masak kepada mereka. Lalu, dengan taburan garam, mereka menyantap nasi pulen itu.

Sebagai kenang-kenangan, Bock juga memberikan hadiah berupa uang dua dollar kepada setiap orang yang telah dilukisnya. Selain itu, rombongan Dayak kanibal mendapat sepikul beras, untaian tasbih manik-manik, dan kain blacu yang panjangnya sekitar 22 meter untuk dibagi bersama.

Sementara itu, kepala suku Sibau malah memberikan kenang-kenangan yang membuat merinding bagi penerimanya. Bock mendapatkan dua tengkorak—laki-laki dan perempuan tanpa rahang bawah—trofi dari pesiar berburu kepala. Semuanya dibungkus daun pisang.

Diketahui, Carl Alfred Bock merupakan naturalis dan pelancong berkebangsaan Norwegia. Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Saat itu usianya masih 30 tahun.

Kisah penjelajahannya ini dibukukan dalam The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881. Buku itu berhias 37 litografi dan ilustrasi, umumnya tentang orang dan budaya Dayak.

Sibau juga memberikan kepada Bock sebuah perisai kayu yang dicat dengan pola warna semarak.

“Perisai itu dipercaya sebagai harta istimewa,” tukas Bock, “Berhiaskan helai-helai rambut yang diambil dari korban manusia.”