Kritik Pedas, Budiman Sujatmiko Sebut Status Ulama Sandiaga Seperti Mi Instan


SURATKABAR.ID – Politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko menyinggung pernyataan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahwa bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno adalah seorang ulama. Menurut Budiman, seseorang menjadi ulama tidak bisa karena momentum politik, melainkan proses yang dijalankan sejak lama.

“Tidak ada pemimpin yang benar itu tiba-tiba jadi ulama mendadak. Memangnya itu sertifikat yang bisa dibeli,” kata Budiman saat menghadiri acara deklarasi Komunitas Muda Amin Indonesia di Rumah Pemenangan Jokowi – Ma’ruf, Jalan Cemara, Jakarta Pusat, Rabu (19/9/18) dilansir dari jpnn.com.

Budiman juga menanyakan kepada putri Ma’ruf yaitu Siti Haniatunnisa bagaimana perjalanan ayahnya itu menerima status ulama. Status ulama, menurut Budiman, sangat membutuhkan proses yang panjang dan konsisten.

“Kalau segala sesuatu serba instan, ulama instan, pemimpin instan, ramah tiba-tiba saat butuh, rendah hati saat butuh, naik Metromini saat dipotret, padahal keseharian tidak seperti itu,” kata dia.

Baca Juga: Kontroversi Penyebutan Ulama, MUI Beberkan 3 Tahap yang Harus Dilalui Sandiaga

Oleh karena itu, Budiman menilai, ulama yang disematkan kepada Sandi seperti mie instan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana negeri ini jika dipimpin orang yang seperti itu.

“Mari pilih pemimpin yang lahir dari bawah berproses. Sebelumnya jadi gubernur, wali kota, tukang kayu. Pak Ma’ruf sebelum jadi ulama berproses, sebelum jadi ketua MUI, Rais Aam PBNU, jadi kiai kampung. Mari tinggalkan yang instan hanya untuk kemenangan instan,” kata dia.

Tidak hanya Budiman, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah tak sepakat menyebut calon wakil presiden Sandiaga Uno sebagai ulama. Menurut dia, ulama adalah tokoh yang mendalami ilmu-ilmu khusus.

“Sedangkan Sandiaga itu pedagang, bukan ilmuwan,” katanya saat ditemui di gedung Nusantara III, kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu, (19/09/18) dilansir dari tempo.co.

Fahri menilai, ada kekacauan dan kekeliruan berpikir yang dialami para penyebut Sandiaga ulama. Salah kaprah ini muncul lantaran tekanan akan kepentingan politis menjelang pemilihan presiden 2019. Musababnya, kubu Jokowi mengusung Ma’aruf Amin yang berlatar belakang tokoh agama.

“Tapi tak lantas karena Kiai Ma’aruf adalah ulama dan Sandiaga juga ulama,” katanya. Ia tak menyoalkan pemaknaan ulama yang berarti ilmuwan secara leksikal atau sesuai dengan kamusnya. Hanya, ia tak sepakat bahwa Sandiaga tepat diberi julukan yang biasanya dikenakan untuk guru besar agama itu.