Berbanding Kontras dengan 4 Tahun Lalu, Sandiaga: Uang Rp 100.000 Dapat Apa Sekarang?


SURATKABAR.ID – Sandiaga Salahuddin Uno yang merupakan bakal cawapres menilai uang Rp 100.000 saat ini nilainya jauh berbeda dibandingkan empat tahun lalu. Sandiaga menyampaikan hal itu saat menyinggung kondisi perekonomian Indonesia. Menurutnya, saat ini kondisi ekonomi Tanah Air sedang mengalami pelemahan.

“Rp 100.000 dapat apa sekarang? Bandingkan dengan empat tahun yang lalu. Rp 100.000 empat tahun lalu sama sekarang coba. Kita jujur kepada diri kita sendiri,” tutur Sandiaga, sebagaimana ditukil dari laporan Kompas.com, Rabu (12/09/2018).

Sandiaga melanjutkan, itulah sebabnya ia bersama Prabowo menawarkan konsep ekonomi yang berpihak kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sehingga dengan demikian daya beli masyarakat akan meningkat dan harga kebutuhan pokok menjadi stabil.

Ia juga menambahkan, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang tegas, akan lebih banyak lapangan pekerjaan yang hadir untuk rakyat Indonesia.

Baca juga: Sandiaga Sebut Tempe Setipis ATM, Ekonom: Oposisi Jangan Manfaatkan Pelemahan Rupiah

Ketika ditanya apakah ia akan mengembalikan nilai Rp 100.000 kini seperti empat tahun lalu, ia tak menjawab dengan tegas.

“Soal Rp 100.000, intinya daya beli masyarakat kami akan perkuat. Harga-harga kami akan buat stabil. (Tidak) fluktuatif. Sudah kami buktikan di DKI kemarin,” imbuh Sandiaga yang juga merupakan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Tempe Setipis ATM Jangan jadi Olokan

Sandiaga juga meminta agar ucapannya yang menyebutkan tempe kini setipis kartu ATM karena mahal jangan dijadikan bahan olokan. Menurut Sandiaga, ia menyampaikan hal itu usai berbincang dengan warga di Duren Sawit, Jakarta, sehingga itu merupakan jeritan rakyat.

“Yang saya sampaikan itu adalah suara dari rakyat. Itu dari Bu Yuli dan rekannya di Duren Sawit. Itu exactly. Word by word yang disampaikan mereka,” ujar Sandiaga saat ditemui di kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (11/09/2018).

“Kalau misalnya teman-teman itu mengartikannya sebagai suatu jeritan masyarakat, iya. Apakah ini hiperbolisme? Mungkin iya. Tapi menurut saya itu yang disampaikan masyarakat dan kita enggak boleh mendiskreditkan, mem-bully,” papar Sandiaga dengan lugas.

Ia kemudian menyampaikan, semestinya publik melihat pernyataannya itu sebagai bentuk nyata terkait kesenjangan ekonomi yang terjadi di masyarakat.

Apa lagi, imbuh Sandiaga, saat ini kedelai sebagai bahan baku tempe masih impor. Alhasil, dengan nilai tukar Rupiah yang masih lemah, ia meyakini harga tempe akan naik.

“Tempe pasti akan naik harganya. Ini udahlah. Semua udah nulis. Kesejahteraan desa menurun. Dengan kedelai yang diimpor itu dollarnya naik, ya pasti akan naik harga tempe. As simple as that,” papar Sandiaga.

“Jadi do not be overdramatic atau melodramatic terhadap isu. Harga-harga masih akan naik. semua juga sudah mengakui. Jangan juga denial, gitu lho. Kita accept-lah. Jangan saling menjatuhkan. Cari solusinya,” pungkasnya menyudahi.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.