Menyoal Imbauan Nahdliyin Harus Pilih Jokowi, Gus Sholah: Kalau Saya Pribadi…


SURATKABAR.ID – Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng yang juga merupakan adik kandung Gus Dur, KH Sholahuddin Wahid angkat bicara menanggapi imbauan Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali ke Khittah 1926 dan tidak menjadi rebutan di dunia politik.

Hal tersebut sama seperti ajakan putri kedua almarhum Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid) yang sebelumnya menyuarakan imbauannya agar NU secara organisasi tetap berada di posisi netral selama Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Saya sepakat, struktur NU perlu duduk bareng untuk menyamakan persepsi. Karena sekarang NU sudah menjadi alat politik, khususnya PKB,” jelas pria yang lebih akrab disapa Gus SHolah tersebut, dikutip dari Republika.co.id pada Senin (20/8/2018).

Gus SHolah mengakui, secara kultural tidak ada masalah antara NU dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun secara organisasi, NU akan dirugikan jika ditarik ke PPP ataupun ke PKB.

Pasalnya, kader NU sendiri tidak hanya ada di PPP dan PKB, melainkan tersebar di berbagai partai politik. “Seharusnya NU berada di atas semua partai politik. Jadi NU seharusnya menempatkan diri di atas semua politik praktis,” tegasnya.

Baca Juga: Dijenguk Yenny Wahid, Ahok Berpesan Agar Meniru Seperti Gus Dur

Lalu terkait imbauan Rais Aam NU, yang mengharuskan kaum nahdliyin untuk memilih Joko Widodo (Jokowi), Gus Sholah buka suara. Menurutnya, seharusnya ada pertimbangan matang terlebih dahulu sebelum mengeluarkan imbauan tersebut.

Pertimbangannya saat ini semata-mata untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat berada di posisi nomor satu, di atas kepentingan lain-lain, termasuk juga kepentingan NU. “Kalau saya pribadi pegangan saya memilih kepentingan rakyat diutamakan, kedua kepentingan agama Islam. Baru kepentingan NU.”

Ia mengakui, beberapa partai politik, khususnya PPP dan PKB, menunjukkan cara berpolitik yang tidak elok kepada Mahfud MD. “Banyak warga NU yang saya ngobrol mereka kecewa, karena caranya,” ungkap Gus Sholah.

Secara pribadi, Gus Sholah sendiri tidak mempermasalahkan penunjukkan KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres)  yang akan mendampingi calon presiden (capres) Jokowi. Meski demikian, ia menilai, hal tersebut justru bisa menjadi beban bagi Kiai Ma;ruf.

“Pak Ma’ruf baik. Cuma Kiai Ma’ruf sudah sepuh. Kita khawatir tugas ini membebani beliau. Walaupun dokter menyatakans ehat, tetapi orang dengan usia sudah 70 tentu berbeda dengan mereka yang berusia 50,” jelas Gus Sholah kemudian.

Diberitakan sebelumnya, putri almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur, Yenny Wahid mengimbau agar NU berjalan sesuai dengan Khittah NU 1926 yang digulirkan dalam Muktamar ke-27 NU pada tahun 1984 di Situbondo.

Khittah NU 1926 yang dimaksud ditegaskan bahwa secara organisasi NU dilarang melakukan politik praktis meski yang maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) adalah Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“NU tidak boleh ebrpolitik praktis. Itu semua sudah menyadari. Dan saya kira ini sudah menjadi pegangan sikap kita semua,” tutur Yenny yang ditemui dalam acara Istighasah Kubra di halaman Masjid Jami’ Nurul Islam Koja, Jalan Cipeucang II, Koja, Jakarta Utara pada Minggu (19/8) malam.

Meski demikian, menurut Yenny, warga NU tetap dibebaskan untuk berpolitik dan juga dapat menentukan pilihan siapapun calon pemimpinnya. Bahkan, ia menambahkan, warga Nu bisa menjadi tim sukses dari pasangan Jokowi-KH Ma;ruf Amin maupun pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]