Luar Biasa! Terjebak di Kutub Utara Saat Jalani Ekspedisi, Penjelajah Ini Pakai Cara Menjijikkan untuk Lolos dari Es


SURATKABAR.ID – Nama Peter Freuchen masuk dalam salah satu daftar orang-orang yang memiliki kehidupan menarik. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran di Universitas Kopenhagen, penjelajah Kutub Utara, jurnalis, penulis, antropolog, sekaligus seorang anti-Nazi.

Ketika usia Freuchen menginjak 20 tahun tepatnya pada 1906, seperti dilansir dari laman Grid.ID, pada Senin (6/8/2018), ia melakukan petualangan dan berlayar jauh menuju utara, di mana ia dipertemukan dengan antropolog Denmark dan penjelajah Kutub Utara bernama Knud Rasmussen.

Mereka kemudian menjalin persahabatan, lantas melakukan ekspedisi untuk melintasi Greenland. Dan satu ekspedisi Freuchen yang paling berkesan adalah Ekspedisi Thule pada tahun 1912. Dalam ekspedisi tersebut, Freuchen bersama tim dihadang badai salju dan membeku.

Dikarenakan tidak ada tombak ataupun belati, bukan berarti Freuchen kehilangan akal. Ia menciptakan belati yang dibuat dari kotoran bekunya, lalu memecahkan es menggunakan senjata buatannya tersebut. Mereka pun berhasil meloloskan diri.

Freuchen menikahi seorang wanita Inuit Navarana Mequpaluk pada tahun 1911. Keduanya dikaruniai dua orang anak. Namun usia sang istri tak panjang. Mequpaluk meninggal di tahun 1921 karena epidemi flu Spanyol.

Baca Juga: Tak Ingin Kalah dari Jepang, 3 Pria Belanda Ini Malah Temukan Gunung Emas di Papua

Ia lantas memutuskan kembali ke Denmark dan menjadi anggota Partai Sosial Demokrat. Di Denmark, Freuchen rutin menulis untuk surat kabar politik, Politiken. Dan di tahun 1924, ia mengakhiri masa dudanya dengan menihaki Magdalena Vang Lauridsen.

Disayangi mertua, karir Freuchen sebagai jurnalis menanjak. Sang mertua bahkan mendirikan majalah Ude of Hjemme di tahun 1925. Frauchen dipilih sebagai kepala editor. Meski memiliki karir cemerlang, namun Freuchen tetap saja melakukan perjalanan ke utara.

Tahun 1926, tragedi menghampiri Freuchen. Ketika ia kembali ke markas usai ekspedisi, ia terlambat menyadari bahwa kakinya terserang radang dingin. Tak ingin menunggu kondisi menjadi lebih parah, Freuchen memutuskan mengamputasinya meski tanpa obat bius.

Selama Perang Dunia II pecah, Freuchen yang memang merupakan Yahudi, aktif menyebarkan propaganda anti-Nazi. Di tengah perang, Freuchen bercerai dengan Vang Lauridsen, tepatnya di tahun 1944.

Hanya berselang setahun, ia kembali menikah. Kali ini dengan seorang ilustrator mode Denmark bernama Dagmar Cohn. Keduanya pindah dan tinggal di Amerika. Sejak itu, Freuchen memulai karir dengan bekerja untuk Vogue.

Kepopuleran Freuchen meningkat pasca bergabung dengan New York Explores Club. Semuanya berkat buku-buku petualangan hasil tulisannya. Ia hidup hingga usia 71 tahun dan meninggal karena serangan jantung tiga hari setelah merampungkan buku terakhirnya Book of the Seven Seas.