Sindir Kuis Ikan ala Jokowi, Rocky Gerung: Pembodohan


    SURATKABAR.ID – Saat berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kerap menggelar kuis ikan berhadiah sepeda.

    Kuis ini menjadi salah satu ciri khas Jokowi. Videonya saat memberikan kuis pun berulang kali viral di media sosial dan menjadi sorotan netizen.

    Menurut Rocky Gerung, kuis yang kerap dilakukan Presiden itu merupakan sebuah bentuk pembodohan. Sebab, pertanyaan itu hanya bertaraf pada kemampuan menghapal. Seharusnya, Jokowi memberikan pertanyaan yang membuat anak menggunakan logika mereka untuk berpikir.

    “Kini, setiap ada Presiden, dia (anak) buru-buru menghapal nama ikan. Karena itu, namanya pembodohan, dipaksa menghapal,” ujar Rocky di Gedung Juang, Jakarta, Senin (30/7/2018), dilansir cnnindonesia.com.

    Baca juga: Agus Absen Saat SBY Sowan ke Rumah Prabowo, Demokrat: Ini Tidak Membutuhkan Kehadiran AHY

    Rocky melanjutkan, seharusnya ‘Presiden Pintar’ memberikan pertanyaan yang mampu membuat anak berpikir kritis. Salah satu contohnya adalah pertanyaan ‘Kenapa ikan tidak bisa memanjat pohon?’.

    “Bayangkan kalau kuis ini datang dari seorang Presiden. Maka si anak akan bertanya kepada orang tua dan kepala sekolah. Hal ini akan memancing anak berpikir keras,” ujarnya.

    Dengan begitu, bukan tak mungkin ada pelajaran logika dasar bagi anak SD. Menurut Rocky, ini merupakan salah satu revolusi mental.

    “Kalau pertanyaan cerdas datang dari yang cerdas akan terjadi kritisisme dia enggak akan menghapal lagi. Itu yang disebut revolusi mental merubah paradigma. Tapi itu kalau presidennya punya otak,” tegas Rocky.

    Saat berkunjung ke daerah-daerah alias melakukan blusukan, Presiden Jokowi memang kerap melontarkan kuis mudah pada peserta yang hadir.

    Selain menanyakan nama-nama ikan, Jokowi kadang juga menanyakan soal nama menteri hingga meminta peserta membacakan Pancasila. Biasanya, mereka yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapatkan hadiah berupa sepeda.

    Kuis ala Jokowi ini belakangan juga menjadi inspirasi bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.