Miris! Tak Punya BPJS dan KIS, Remaja Ini Hanya Bisa Terkulai Tanpa Daya di Kasur Selama 9 Tahun


SURATKABAR.ID – Kehidupan seorang remaja harus terampas dari dirinya usai ia diserang penyakit aneh yang tak diketahui 9 tahun yang lalu. Dan kini Deni Saputra yang sudah ebrusia 16 tahun hanya bisa tergolek lemah tanpa daya di atas ranjang.

Dilansir dari laman Detik.com, Sabtu (21/7/2018), karena penyakit tersebut Deni kehilangan kemampuannya untuk berjalan. Bahkan untuk duduk saja ia tak sanggup. Lantaran kondisi tubuhnya yang begitu lemah, ia terpaksa harus meninggalkan bangku pendidikan.

Ketika ditemui di kediamannya, di Desa Sentul RT 10, RW 4, Blok IV, Kecamatan Tembelang, Jombang, Deni terbaring lemah di atask kasur. Kedua tangan dan kakinya nyaris yanya tinggal tulang dan kulit. Tak heran ia kesulitan untuk beraktifitas.

“Awalnya Deni kelas 1 MI (Madrasah Ibtidaiyah), usianya saat itu 7 tahun. Berdirinya sulit, kakinya menyilang, kalau jatuh tak bisa bangun,” jelas Parti (46), ibu Deni ketika ditemui di kediamannya, pada Sabtu (21/7), seperti yang dikutip dari laman Detik.com.

Hanya tinggal bersama sang ibu dan kakeknya Semin (67), Deni rupanya telah ditinggal sang ayah Saiful Hakim untuk selama-lamanya. Padahal ketika itu ia baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK).

Baca Juga: Misterius! Lebih Sadis dari Kopi Jessica, Ini Kasus Mengerikan yang Masih Terselubung Hingga Sekarang

Terkait penyakit yang menyerang putranya, Parti mengaku sudah melakukan segala upaya untuk menyembuhkan Deni. Salah satunya adalah dengan membawa Deni berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Jombang.

Namun sayangnya, tanpa memdapatkan penjelasan mendetail tentang jenis penyakit anak semata wayangnya, pihak dokter RSUD Jombang hanya merujungnya untuk berobat di Surabaya. “Dokternya tak bilang sakitnya apa, hanya dirujuk ke Surabaya,” tutur Parti.

Lantaran keterbatasan biaya, wanita paruh baya ini memutuskan untuk tidak membawa Deni berobat ke Rumah Sakit Umum dr Soetomo, di Surabaya. Pasalnya, jika biaya pengobatan Deni di Jombang masih ditanggung Pemda, tidak demikian dengan Surabaya.

Menurut Parti, dirinyalah yang harus menanggung semua biaya pengobatan sang putra karena mereka tak memiliki BPJS Kesehatan, ataupun Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Saya tak ada biaya, hanya obat jalan sama terapi di Jombang,” ungkap Parti pilu.

Wanita ini bekerja sebagai tulang punggung keluarganya. Dengan menjadi buruh rumah tangga, Parti hanya mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu per minggu. Meski hidup serba terbatas, ia berharap putranya masih bisa sembuh kembali. “Saya berharap anak saya diberi kesembuhan,” ujar Parti.