Tak Disangka! Peretas Situs Bawaslu Ternyata Putus Sekolah dan Bantu Pamannya Jualan Bubur


    SURATKABAR.ID – Mister Cakil alias DS (18) merupakan sosok yang meretas (hacker) situs Bawaslu dan kini telah diamankan oleh Bareskrim Polri. Rupanya, DS diketahui sebagai anak berprestasi, meski kemudian ia tak menamatkan pendidikan SMP-nya dikarenakan keterbatasan dana.

    Menurut Isman (25) yang merupakan kakak DS, adiknya sehari-hari bekerja membantu pamannya berjualan bubur di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.

    “Dia sehari-hari ikut pamannya, bantuin dagang bubur di Jakarta. Kalau ke sini ya cuma sesekali doang,” ujar Isman kepada tim pers di kediamanya di Desa Cibuntu, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (04/07/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari laporan Kumparan.com, Kamis (05/07/2018).

    Diungkapkan Isman, sebagai kakak dirinya tak pernah melihat adiknya punya kemampuan di bidang komputer. Ia juga jarang melihat DS mengotak-atik komputer. Kendati demikian, Isman mengetahui DS sesekali pergi ke warung internet (warnet) untuk bermain game online.

    “Enggak tahu saya dari mana dia belajar. Beberapa kali sempat dia pamitan main ke warnet. Tidak ada buku-buku yang ia baca soal komputer. Tetapi memang, dia anak yang cerdas, saat SD selalu memperoleh peringkat pertama,” beber Isman bercerita.

    Baca juga: Soal KPU Larang Mantan Napikor Jadi Caleg, Fahri Hamzah: Tidak Bisa, Haknya Sama

    Menurut Isman, saat ini DS masih berada di Bareskrim Polri. Kondisi adiknya juga terlihat baik dan tidak tidur di ruang tahanan.

    “Saya terakhir ketemu, dia bilang di sini dikasih makan dan terjamin oleh komandannya. Ia pun dipisah dengan tahanan lain, jadi enggak tidur di ruang tahanan,” pungkas Isman kemudian.

    Sebelumnya, DS alias Mister Cakil ditangkap di Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu (30/06/2018). Menurut keterangan polisi, DS telah meretas 60 firewall situs, antara lain situs DPRD Banten dan situs belanja online dari dalam dan luar negeri. Polisi juga mengamankan sebuah handphone, 2 kartu SIM, 2 micro SD berkapasitas 16 GB.

    Hingga kini, polisi masih terus mendalami dari mana pelaku memperoleh kemampuan meretas situs-situs tersebut.

    Pelaku dijerat dengan pasal 46 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3 juncto. Pasal 30 ayat 1, ayat 2 dan ayat 3, dan atau pasal 48 ayat 1 junto. Pasal 32 ayat 1 dan atau pasal 49 jo pasal 33 undang-undang nomor 19 tahun 2016, tentang perubahan undang-undang nomor 11 tahun 2008, tentang ITE dan atau pasal 50 jo, pasal 22 huruf B undang-undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

    Dugaan Retas Situs Bawaslu dan KPU

    Menurut Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, pelaku telah melakukan Defacing (penggantian tampilan) dari situs Bawaslu RI. Penangkapan tersebut telah dikonfirmasi oleh Dirtipid Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo.

    “Benar ada penangkapan pelaku defacing situs Bawaslu,” ujar Rachmad kepada pers, Selasa (03/07/2018). Namun, Rachmad enggan membeberkan rincian kapan dan siapa pelaku yang ditangkap.

    Sebelumnya Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk mengungkap peretas situs Bawaslu tersebut.

    “Sama-sama kita tangani semua peristiwa yang terkait dengan cyber, kita tangani sama. Kalau itu memang ada pidananya kuat langsung kita sidik. BSSN kan sebagai aparatur negara yang memonitor yang mengawasi kegiatan-kegiatan cyber di Indonesia kalau misalnya itu ditemukan pidana nanti dalam peretasan ketemu tersangka nanti kita sidik,” papar Ari Dono.

    Diakui Ketua KPU RI Arief Budiman bahwa situs KPU telah diretas, sehingga pihaknya menunda sementara waktu penggunaan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) berbasis teknologi untuk menampilkan hasil Pilkada.

    Lebih lanjut, dikutip dari laporan Detik.com, kini pihak kepolisian masih mendalami keterkaitan DS dengan peretas situs KPU.

    “Lagi didalami (keterkaitan DS dengan peretas situs KPU). Kan baru kemarin (DS) kita tangkap,” kata Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Cyber Crime Bareskrim Mabes Polri, Kombes Asep Safrudin saat dihubungi pers, Selasa (03/07/2018) malam, melansir Detik.com.

    Belajar Retas Lewat Komunitas

    Menurut Asep, DS yang memang gemar mengutak-atik computer itu belajar meretas melalui komunitas hacker dan media sosial.

    “Dia pekerjaannya dagang. Terus, identitasnya itu tadi utak-atik (komputer). Dia belajarnya (meretas) dari komunitas hacker. Lewat media sosial, lewat komunitas-komunitas,” terang Asep.

    DS ditangkap Sabtu (30/06/2018) pekan lalu, pukul 13.00 WIB di Kramat Jati, Jakarta Timur. Selain meretas situs Bawaslu, pemuda 18 tahun itu juga meretas situs DPRD Banten.

    “Di antaranya website DPRD Banten, Yayasan Al Muslimwebsite belanja online dalam dan luar negeri dan masih banyak lagi. 60 (situs),” papar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.