Meski Istri Khawatir, Sopir Truk Rela Jalan Kaki 26 Hari Demi Temui Jokowi


SURATKABAR.ID – Setelah berjalan kaki selama 26 hari lamanya, akhirnya Agus Yuda bisa bertemu dengan Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi). Sehari-hari bekerja sebagai sopir, truk, Agus Yuda mendapat respon dari rekan-rekannya yang tergabung di Serikat Pengemudi Truk Nasional (SPTN). Agus, yang baru sekitar 4 tahun menjadi sopir truk di pabrik karton Krian, Sidoarjo, bergabung dengan SPTN. Serikat ini bermarkas di Desa Ngrame, Pungging, Mojokerto.

Dari tempat inilah Agus memulai perjalanannya menuju Istana Negara, Jakarta, untuk menemui Presiden Jokowi. Bendahara SPTN Iis Indah Sari (34) menyebutkan, keberangkatan Agus ke Jakarta memang untuk menepati janjinya. Menurutnya, sudah lama Agus ingin menyampaikan aspirasi para sopir truk kepada Presiden Jokowi tepat di ulang tahun pertama SPTN.

“Rencananya, di ulang tahun SPTN tanggal 1 Mei, Agus sudah balik dari Jakarta, tapi molor sampai hari ini baru bisa bertemu Pak Jokowi,” ujar Indah saat dikonfirmasi wartawan, seperti dilansir dari laporan Detik.com, Selasa (08/05/2017).

Indah juga merupakan salah satu pendiri SPTN. Suaminya, Sinyo Setiawan, menjabat sebagai Penasihat SPTN. Sinyo juga merupakan rekan kerja Agus di perusahaan yang sama.

Kabar Agus akhirnya bisa bertemu dengan Presiden Jokowi membuat Indah dan rekan-rekan sesama sopir bahagia. Ia menuturkan, keluhan para sopir truk berkaitan dengan pungli (pungutan liar) dan premanisme di jalan. Mereka senang karena akhirnya keluhan mereka bisa didengar langsung oleh Jokowi.

Baca juga: Para Sopir Truk Mengaku Sering Dipungli, Wakapolri Justru Beri Reaksi Mengejutkan

Meski begitu, pihaknya juga mengaku ada sedikit kerisauan atas aksi Agus.

“Namun, kami juga takut, ini akan menjadi bumerang bagi kami, terutama soal pungli,” tukasnya.

Itulah sebabnya, Indah berharap pemerintah ke depannya bisa memperhatikan nasib para sopir truk. Selain memberikan solusi sehubungan pungli dan premanisme, para sopir berharap mendapat perlindungan dari kemungkinan pihak-pihak yang dirugikan oleh mencuatnya isu pungli sopir truk.

“Juga kalau ada kecelakaan di jalan, jangan selalu kami yang disalahkan. Kami minta pemerintah memperhatikan hal itu,” tegasnya.

Istri Agus Khawatir

Istri Agus, Siti Alimah (33), sempat khawatir. Siti Alimah menyebutkan keberangkatan sang suami pada Minggu (08/04/2018) dari Mojosari, Mojokerto, menemui Bapak Presiden dan Gubernur Jawa Tengah itu sebenarnya sudah lama. Namun niat berjalan kaki ini baru terlaksana pada kemarin itu.

“Saat akan berangkat hanya pamitan, minta doa restu, dan kami bersama anakku sempat mengantar ke Mojosari,” ujar Siti saat ditemui di rumahnya di Seimbang, Sukodono, Selasa (08/05/2018).

Menurut pengakuan Siti, dalam perjalanannya menuju Istana itu, Agus hanya ingin menyampaikan aspirasi teman-teman seprofesinya. Selama ini, para sopir mengeluhkan pungutan liar.

“Kami tidak berikan bekal apa pun, hanya doa supaya selamat dalam perjalanan. Namun juga sempat khawatir dan takut, tapi alhamdulilah sampai di Jakarta,” demikian Siti melanjutkan.

Siti menerangkan, sang suami memiliki semangat yang luar biasa dalam keinginannya berjalan kaki untuk menemui Gubernur Jawa Tengah dan Presiden Joko Widodo ini. Selain itu, kedua tokoh tersebut merupakan idolanya sejak dia menjadi sopir.

“Dia pernah cerita pada saat kami belum memiliki anak, ingin memperjuangkan teman-temannya sesama sopir. Dengan harapan pada saat sopir di dalam perjalanan tidak ada palakan dari oknum. Kasihan penghasilan sopir itu berapa,” ungkap Siti.

Sementara itu, di tempat terpisah, Kasman (55), warga Desa Temu, Kecamatan Prambon, yang merupakan paman Agus, mengatakan Agus itu masih merupakan warga Desa Temu. Kendati Agus sudah punya istri, status kependudukannya masih merupakan warga Desa Temu.

“Sebelumnya berangkat ke Jakarta memang sempat mengurus surat keterangan kepergian di desa ini. Dan sempat berpamitan dengan keluarga kami. Dia hanya mengatakan akan jalan kaki ke Jakarta,” imbuh Kasman.

Kasman menceritakan, sejak kecil Agus tinggal bersama kedua orang tuanya di Desa Temu. Namun, setelah menginjak SMP, Agus pindah ke Trenggalek mengikuti ibunya yang pulang kampung. Setelah lulus SMA, Agus kembali ke Desa Temu untuk mencari pekerjaan.

“Alhamdulillah, setelah lulus sekolah mendapat pekerjaan di salah satu pabrik di daerah Krian, tapi tidak terlalu lama. Karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi menjadi salah satu sopir di perusahaan swasta,” pungkas Kasman kemudian.