Menilik Tradisi Marosok, Cara Unik Jual-Beli Ternak di Minangkabau


SURATKABAR.ID – Bumi pertiwi Indonesia memang kaya akan beragam budaya dan tradisi. Seperti salah satu tradisi unik bernama Marosok yang dimiliki Masyarakat Minangkabau. Pernah mendengarnya? Jika Anda mengunjungi Pasar Ternak Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Anda akan menemukan hal unik dan menarik di sana. Keunikan itu bukan hanya karena pasar tersebut hanya dibuka pada hari Selasa saja, tapi juga jika menilik tingkah laku orang-orang di sana yang lain daripada yang lain.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai ciri khas Pasar Ternak Batusangkar ini, kesampingkan dulu segala gambaran dan asumsi mengenai pasar yang pada umumnya ada di Indonesia—yakni suasana ramai riuh rendah transaksi antara pedagang dan pembeli dilakukan secara terbuka atau hiruk-pikuk lainnya. Pasalnya, aktivitas di Pasar Ternak Batusangkar ini jauh dari keramaian dan keterbukaan.

Sebaliknya, seperti dilansir dari reportase Liputan6.com, Sabtu (24/02/2018), transaksi cukup dilakukan ‘berduaan’ antara pembeli dan penjual dengan menggunakan bahasa isyarat. Tanpa berbicara, kedua pihak cukup bersalaman dan memainkan masing-masing jari tangan mereka untuk bertransaksi.

Yang menarik, rupanya hal ini tak hanya ditemukan di Pasar Ternak Batusangkar saja. Tradisi Marosok ini dilakukan oleh hamper semua pasar ternak disana, termasuk salah satunya di Pasar Ternak Koto Baru. Masyarakat setempat biasa menyebut tradisi ini dengan sebutan marosok (artinya ‘meraba’) yang berlangsung di hari jual-beli ternak atau pakan taranak.

Mengutip laporan MinangkabauNews.com, pedagang dan pembeli akan saling berjabat tangan layaknya bersalaman seraya memainkan jari-jari tangan sebagai bahasa isyarat dari nilai-nilai angka Rupiah yang mereka sepakati. Menariknya lagi, saat transaksi berlangsung biasanya tangan mereka akan ditutupi oleh kain sarung. Bahkan ada yang ditutupi dengan handuk, topi dan lainnya. Hal ini bertujuan agar orang lain tak melihat proses transaksi tersebut. Dengan begitu, harga ternak hanya diketahui oleh pihak penjual dan pembeli saja.

Umumnya, ada sekitar seratus pemilik ternak dengan jumlah hewan antara 150 hingga 200 ekor yang dijual di pasar-pasar ternak tersebut.

“Semua transaksi jual beli secara Marosok biasanya dilakukan dengan kata sepakat. Tak ada yang berkecil hati, tak ada saling curiga mencurigai. Semua transaksi tanpa paksaaan karena semua dilakukan dari niat di hati dari sang pembeli dan penjual. dan semua sepakat saling berlapang hati bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wa Taala,” kata Pak Datuak dari Kota Padang Panjang (X Koto) selaku salah satu pedagang yang hendak menjual ternaknya.

Sewaktu tawar menawar berlangsung, penjual dan pembeli saling menggenggam, memegang jari, menggoyang ke kiri dan ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap menggenggam erat tangan yang lain seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati. Semua aktivitas jemari tangan itu dilakukan dalam diam, demikian melansir laporan Suara.com.

Dalam tradisi Marosok ini, setiap jari melambangkan angka puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan Rupiah. Contohnya, ada pedagang yang ingin menjual ternak seharga Rp 6,4 juta. Maka dia akan memegang telunjuk pembeli yang melambangkan sepuluh juta Rupiah. Setelah itu, empat jari yang lain digenggam dan digoyang ke kiri. Ini berarti Rp 10 juta dikurangi Rp 4 juta. Sedangkan untuk menunjukkan Rp 400 ribu, empat jari yang digoyang tadi digenggam lagi dan dihentakkan. Jika disepakati, transaksi berakhir dengan harga Rp 6,4 juta.

Bagaimana jika pembeli ingin menawar seharga Rp 6,2 juta? Maka ia cukup menggenggam dua jari dan menggoyangnya ke kiri. Kalau ingin ditambah Rp 50 ribu lagi, si empunya ternak akan memegang satu ruas jempol pembeli sambil mematahkannya ke bawah. Maka harga ternak itu menjadi Rp 6,25 juta.

Jika menjelang momen perayaan Idul Adha, tradisi Marosok di sana kian marak dilakukan. Tak ada yang mengetahui secara pasti terkait kapan Marosok ini bermula. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, konon tradisi ini sudah dimulai ratusan tahun lalu—sejak zaman raja-raja di Minangkabau—hingga diterima dan dilanjutkan secara turun temurun sampai sekarang.