Terciduk! Polisi Bekuk Guru yang Sebarkan Hoax ‘Megawati Larang Adzan’


SURATKABAR.ID – Beberapa waktu lalu, sebuah berita hoax soal Megawati Soekarnoputri melarang adzan sempat viral di media sosial. Berita palsu itu disebar oleh seorang pria yang diketahui berprofesi sebagai guru. Pada Rabu (21/02/2018), Tim Subdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri kini telah menangkap pelaku yang bernama Sandi Ferdian (34) tersebut. Sandi menyebarkan hoax soal Megawati yang meminta pemerintah menghentikan adzan.

“Tersangka menyebarkan berita bohong dan konten SARA melalui grup WA (WhatsApp) dan sosial media,” ujar Kasubdit I Direktorat Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar, seperti dikutip dari Detik.com, Kamis (22/02/2018).

Polisi membekuk tersangka di Jl KS Tubun, Taman Asri Baradatu, Kecamatan Way Kanan, Lampung pada Rabu (21/02/2018).

“Tersangka bekerja sebagai guru,” imbuh Kombes Irwan Anwar.

Kombes Irwan Anwar kemudian melanjutkan dengan memaparkan hoax yang disebar pelaku.

“Dia pemilik akun FB Sandi SiKumbang yang menyebarkan berita: ‘Megawati minta pemerintah tiadakan adzan di masjid karena suaranya berisik’,” sambungnya.

Pelaku yang bernama Sandi itu juga memposting tulisan berkonten SARA di akun Facebook Sandi Sikumbang yang berbunyi, “’Selamatkan anggota kami. Anggota PKI adalah anggota paling suci sedangkan Islam itu sesat’,” demikian Irwan menirukan postingan tersebut.

Tak ayal, unggahan pelaku menjadi viral di media sosial. Bahkan, tersangka mengklaim bahwa berita itu didapatnya dari sebuah media nasional.

“Menurut keterangan tersangka berita tersebut didapat dari Media Indonesia dan di-copy berita selanjutnya disebarkan melalui akun FB Sandi SiKumbang,” beber Irwan.

Sedangkan, mengutip laporan Tirto.co.id, polisi juga telah menangkap seorang tersangka bernama Dedi Iswandi  pada (15/02/2018). Serupa dengan Sandi, Dedi juga telah membuat berita palsu yang berkenaan dengan PDIP. Diketahui, Dedi telah menyebarkan hoax yang intinya sama dengan Sandi.

Dari unggahannya, Dedi mengaku mengambil berita dari situs media Tempo. Ia menulis, ”Demi kenyamanan dan toleransi, PDIP menyetujui suara adzan ditiadakan di Indonesia.”

Klarifikasi Media Indonesia

Sementara itu, Media Indonesia melalui situsnya telah membuat klarifikasi. Berita yang dibagikan oleh sejumlah masyarakat dianggap bukan buatan Media Indonesia. Selain logo  MI yang berbeda, bahasa yang digunakan oleh ‘media palsu’ itu tidak sesuai dengan prinsip MI.

“Media Indonesia mengikuti kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan naskah beritanya,” demikian dijelaskan dalam klarifikasi tersebut.

“Sejumlah kejanggalan terlihat dari judul yang dibuat, seperti nama ketua umum DPP PDI Perjuangan itu ditulis terpisah. Kemudian penggunaan judul, Media Indonesia tidak menggunakan huruf kapital dalam penjudulan. Kesalahan fatal lain ialah berita tersebut mencomot logo Media Indonesia (MI) yang lama. Sebagai informasi, sejak awal tahun lalu, Media Indonesia sudah mengganti logo tersebut dengan logo yang baru,” demikian bunyi penggalan klarifikasi Media Indonesia seperti dikutip dari laman situsnya.

Sandi dan Dedi kini ditahan kepolisian. Dari tersangka Sandi, polisi menyita satu buah ponsel berikut SIM Card dan fotocopy resi KTP.

Kedua tersangka sama-sama dijerat dengan Pasal 14 ayat 2 Undang Undang Republik Indonesia No 1 tahun 1946 dan Pasal 45 A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 16 Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.