Benarkah Gigitan Capung Bisa Cegah Anak Mengompol? Ini Faktanya


SURATKABAR.ID – Banyak beredar asumsi di kalangan masyarakat yang menyebutkan bahwa gigitan capung bisa bikin anak berhenti ngompol. Benarkah? Berusaha menjawab pertanyaan tersebut, mari simak penjelasan yang dituturkan peneliti serangga dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rosichin Ubaidillah.

“Saya kira itu mitos ya, hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal tersebut,” ujar Rosichin yang juga profesor riset di bidang Zoologi LIPI pada Sabtu (06/01/2017). Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Tekno.Tempo.co, Minggu (07/01/2018).

Seperti diketahui, sudah sejak lama tersebar di Indonesia bahwa gigitan capung di pusar anak-anak bisa menghentikan kebiasaan mengompol anak yang bersangkutan. Belum jelas kapan pertama kali mitos itu mencuat. Namun yang jelas hal itu masih dipercaya hingga kini.

Alih-alih menyembuhkan, Rosiching berpendapat, gigitan capung malah bisa menyebarkan mikroba pathogen (penyakit) masuk ke dalam tubuh.

Baca juga: Astaga! Wajah Wanita Ini Rusak Akibat Minum Obat Sakit Gigi, Penyebabnya Tak Disangka

“Gigitannya jelas bisa melukai kulit anak yang masih rentan,” ia menandaskan.

Berdampak Psikologis

Selain itu, Rosichin melanjutkan, gigitan capung bisa membuat anak menjadi phobia terhadap serangga bersayap empat bermata besar itu.

“Secara psikologis tidak bagus untuk anak,” tukasnya.

Rosichin menjabarkan, apabila tujuannya hanya untuk mendisiplinkan anak agar terbiasa pergi buang air kecil sebelum tidur, semestinya orangtua bisa menggunakan cara lain yang lebih kreatif lagi efektif. Misalnya, dengan membuat acara pipis sebelum tidur itu jadi lebih menyenangkan.

Tahap Toilet Training

Melansir laman dokteranak.org, mengompol secara medis dikenal dengan sebutan Nocturnal Enuresis dan lebih banyak terjadi pada anak–anak atau orang lanjut usia. Mengompol masih dianggap wajar pada anak bayi dan balita yang belum selesai melewati tahap toilet training, karena mereka memang belum bisa menahan keinginan untuk buang air kecil. Ini disebabkan oleh perkembangan otot pada kandung kemihnya yang belum sempurna.

Namun, pada beberapa anak yang sudah melewati fase toilet trainingnya, mengompol kerap kali masih terjadi. Pada anak berusia diatas lima tahun dan pra sekolah dasar atau sekitar usia enam dan tujuh tahun, mengompol masih kerap dialami terutama pada anak laki-laki.

Seharusnya anak usia tujuh tahun sudah bisa mengontrol sendiri keinginannya untuk buang air kecil dan dapat menahan hingga mencapai kamar mandi karena otot kandung kemihnya sudah terbentuk dengan baik.

Apa Penyebab Anak Mengompol?

Apabila ketika mencapai usia tertentu anak masih saja mengompol padahal seharusnya tidak lagi, orang tua perlu mewaspadai adanya kemungkinan lain dari sekadar kemalasan anak untuk pergi ke kamar mandi sendiri. Ada beberapa penyebab yang memungkinkan anak mengompol yakni:

  1. Gejala penyakit, yakni adanya infeksi pada saluran kencing anak yang membuat anak sulit menahan keinginan buang air kecil.
  2. Faktor keturunan, apabila salah satu orang tua mempunyai sejarah pernah bermasalah dengan mengompol sewaktu kecil maka anak juga akan memiliki resiko serupa. Peluangnya akan lebih besar apabila kedua orang tua yang mempunyai masalah mengompol sewaktu kecil.
  3. Volume air kemih pada beberapa anak lebih banyak pada saat di siang hari, sementara biasanya pada sebagian besar anak volume air kemih pada malam hari hanya setengah dari produksi siang hari.
  4. Mengompol juga bisa disebabkan karena masalah psikologis yang dialami anak, misalnya bermasalah di sekolah, kurang kasih sayang orang tua, dan lainnya.
  5. Salah satu ciri anak yang mengalami masalah dengan mengompol adalah sangat sulit untuk dibangunkan. Dengan kata lain mereka biasanya tertidur sangat nyenyak.
  6. Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan akibat kelainan pada rongga mulut juga memiliki masalah dengan mengompol.
  7. Ukuran kandung kemih yang lebih kecil daripada yang dimiliki orang pada umumnya dapat menjadi salah satu penyebab anak mengompol. Kandung kemih yang kecil tidak cukup untuk menampung volume air seni dan akhirnya menyebabkan otot tidak mampu menahan keinginan buang air kecil.
  8. Anak tidak terbiasa pergi ke kamar mandi sendiri karena selalu mendapat bantuan dan tidak dibiasakan untuk belajar ke kamar mandi sendiri.

Menghentikan Mengompol Tanpa Obat

Kendati ada istilah medis untuk kebiasaan mengompol yang tak wajar ini, namun banyak juga cara pengobatan yang bisa dilakukan tanpa obat-obatan, selama masalahnya bukan penyakit yang memerlukan penanganan ahli medis. Cara menghilangkan kebiasaan mengompol pada anak tanpa obat adalah sebagai berikut:

  • Melalui terapi motivasi – Terapi ini bertujuan untuk memotivasi anak agar tidak ngompol dengan pemberian hadiah atau ganjaran yang menggugah minat anak. Jadi, anak dijanjikan hadiah apabila ia berhasil menghentikan kebiasaan ngompolnya. Cara untuk memberhentikan anak mengompol ini bisa dilihat dari catatan yang dibuat untuk mengetahui kemajuan anak. Akan tetapi perlu diingat bahwa cara ini hanya akan berhasil jika masalahnya hanya seorang anak yang malas untuk mulai bersikap mandiri. Jika anak tidak bisa mengontrol keinginannya untuk buang air kecil maka sebaiknya cara ini tidak digunakan.
  • Terapi perilaku – Terapi ini menggunakan alat yang bisa mengeluarkan alarm ketika anak mulai mengompol. Alat ini diletakkan di dekat alat kelamin anak, tepatnya di pakaian dalam atau bisa juga di seprai. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelembaban di pakaian dalam anak. Ketika anak mulai mengompol, alat tersebut akan berbunyi atau bergetar sehingga anak terbangun dan bisa melanjutkan buang air kecil di kamar mandi.
  • Latihan kandung kemih – Latihan ini biasanya dilakukan ketika anak memiliki kapasitas kandung kemih yang kecil sehingga ia harus belajar menahan keluarnya air kencing selama beberapa waktu dengan melatih otot-otot di sekitar kandung kemih

Baca juga: Bukan karena Matre! Ternyata Ini Sebabnya Kenapa Wanita Mandiri Lebih Suka Pria Mapan

  • Diet – Diet yang dimaksud adalah diet untuk mengurangi konsumsi bahan makanan tertentu. Makanan yang mengandung soda, kafein atau cokelat diduga dapat menimbulkan masalah dengan mengompol pada beberapa anak.