Berjasa Untuk Probolinggo, Inilah Kisah Heroik Serma Suroyo Pertahankan Markas dari Kepungan Belanda


SURATKABAR.ID – Markas Subdenpom menjadi saksi perjuangan Serma Suroyo dan dua prajurit lainnya melawan Belanda sampai titik darah penghabisan. Warga asli Probolinggo pasti sudah tak asing lagi dengan Markas Subdenpom dan Jalan Suroyo. Jalan Suroyo menjadi salah satu jalan protokol di Kota Probolinggo. Namun demikian, tak semua warga kota mengetahui sejarah siapa sosok Suroyo yang diabadikan dalam nama jalan tersebut.

Aksi teatrikal kontak senjata antara anak buah Mayor Abbusjarif dengan Belanda dalam agresi militer I di tahun 1947, tersaji dalam peringatan HUT TNI ke-72 pada 5 Oktober 2017 lalu. Dalam kontak senjata itu, Serma Suroyo (Soerojo) gugur bersama dua prajuritnya.

Seperti dilansir dari laporan JawaPos.com, Jumat (10/11/2017), cerita heroik tersebut juga tersaji dalam aksi teatrikal di Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Nama Serma Suroyo memang menjadi bagian penting dalam perjuangan rakyat melawan penjajah. Itulah mengapa namanya dijadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Probolinggo—agar abadi dikenang.

Kisah Serma Suroyo dan jasanya melawan pasukan Belanda di kawasan Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo pada Juli 1947 silam, hingga kini masih dikenang oleh warga Probolinggo.

Baca juga: Malahayati—Laksamana Wanita Pertama Dunia Asal Aceh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Cerita Serma Suroyo saat Agresi Militer Belanda I tak lepas dari pembuatan benteng-benteng pertahanan sebagai antisipasi menghadapi musuh. Sepekan jelang pertumpahan darah terjadi, pembuatan benteng ini dipercepat. Hal ini disebabkan oleh aktivitas Belanda yang kian menggarang.

Belanda sering mengganggu perahu-perahu nelayan yang mencoba mendekati pantai Probolinggo. Pesawat udara Belanda juga sering bermanuver di langit Probolinggo. Pada tanggal 20 Juli 1947, terdengar bunyi sirine tanda bahaya. Pesawat udara Belanda juga terbangnya semakin rendah.

Sirine berbahaya kembali berbunyi sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 WIB keesokan harinya. Tersiar berita tentang pendaratan Belanda di Pasir Putih. Pukul 16.00, tersebar berita bahwa Belanda sudah melalui Kraksaan menuju Probolinggo—tak tanggung-tanggung, dengan 8 tank. Pertempuran ini kemudian menggugurkan Serma Soeparman. Sedangkan Sersan Tilam, terluka.

Pukul 17.00, Belanda memasuki Kota Probolinggo. Tak ayal rakyat yang sedang berada di jalan menjadi sasaran kebengisan para tentara Belanda. Korban jatuh bergelimpangan akibat berondongan peluru penjajah. Tentara Indonesia masih tetap berusaha melawan meski pun kalah telak dalam persenjataan.

Mayor Abdurrasjid yang saat itu menjadi komandan meminta anak buahnya untuk tidak meninggalkan markas. Menjelang maghrib, kota akhirnya jatuh ke tangan penjajah.

Serma Suroyo berusaha mempertahankan markas hanya dengan 2 orang prajurit. Saat itu, mereka bertiga mendapat tugas piket mingguan di dalam markas, yang kini menjadi Subdenpom Probolinggo.

Teatrikal Kisah Heroik Serma Suroyo

Sosiodrama berlatar perang kolonial pertama pada 1947 di Probolinggo pada aksi teatrikal kontak senjata yang menyajikan kisah heroik Serma Suroyo diperankan oleh anggota TNI dari Kodim 0820 Probolinggo. Selain anggota TNI, guru dan pelajar di kota setempat juga ikut terlibat dalam pergelaran teatrikal tersebut. Sosiodrama disaksikan pejabat Kabupaten/Kota Probolinggo, Lumajang, Jember dan warga sekitar.

Komandan Kodim (Dandim) 0820 Probolinggo, Letkol Kavaleri, Depri Rio Saransi, mengatakan bahwa teatrikal atau sosiodrama yang digelar ini sengaja diambil untuk menceritakan kembali kejadian pada 21 Juli 1947, dimana pesawat tempur tengah terbang rendah di langit Probolinggo. Keesokan harinya, tiba-tiba terdengar kabar pesawat Belanda telah mendarat di Banyuwangi. Setelah itu, pesawat bergerak menuju Situbondo dan terus ke barat.

“Ini kami lakukan dengan mengambil tema seorang pejuang Serma Suroyo, sesuai apa yang diinginkan masyarakat Probolinggo, karena jasa dan perjuangannya Serma Suroyo, ini begitu sangat luar biasa di mata masyarakat,” tutur Dandim Depri Rio Saransi, melansir ReportaseNews.com.

Dari jasa perjuangannya itu, akhirnya kini nama Serma Suroyo diabadikan menjadi nama jalan di Kota Probolinggo. Ruas jalan ini membentang dari markas Kodim 0820 di ujung selatan, hingga alun-alun Kota Probolinggo di ujung utara.

Berhubungan dengan kisah tersebut, salah satu pejuang yakni Mayor Abdurrasjid yang merupakan pimpinan tertinggi militer di Probolinggo, kemudian mengutus 1 peleton untuk menghadang di Bukit Bentar. Namun, saat berangkat menuju Bukit Bentar, pasukan ini sudah bertemu dengan pasukan Belanda di kawasan Dringu.

Berdasarkan sejarah dari perjuangan itu, pertempuran antara dua pasukan tersebut rupanya menggunakan persenjataan yang tak seimbang. Tak ayal hal ini membuat para pejuang TNI pun harus gugur dalam pertempuran. Sementara itu, Serma Suryono, saat bertahan di markas Probolinggo, turut gugur dalam pertemputan sengit ini, seperti diceritakan di atas.

Baca juga: Dapat Video Kanker Bergerak di Atas Piring? Ini Fakta Dibaliknya

“Pada masa itu, prajurit TNI penuh pengorbanan dan dsn harus bertaruh nyawa demi membela tanah air indonesia. Mereka habis-habisan melawan musuh dasri Kolonial Belanda. Saya berharap bagi penerus bangsa harus lebih semangat dan mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi, demi bangsa dan negara Indonesia yang lebih baik ke depannya,” demikian Dandim Depri memungkasi.