Setnov Pernah Dibilang Kebal Hukum oleh Nazaruddin, KPK: Pelan-pelan


SURATKABAR.ID – Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua DPR Setya Novanto baru pertama kali ditetapkan sebagai tersangka pada kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). Meski sebelumnya Setnov pernah terkait sejumlah perkara, namun tak satupun yang masuk pengadilan.

Melihat kasus unik ini, beberapa kalangan menggambarkan Setya adalah sosok yang memiliki keahlian dalam membebaskan diri dari segala macam jeratan hukum. Yang paling menghebohkan adalah pernyataan dari mantan anggota DPR Muhammad Nazaruddin, seperti dilansir Tribunnews.com.

“Setya Novanto ini, saya yakin, (penegak hukum) tidak akan berani. Tidak akan berani. Orang ini Sinterklas, kebal hukum. Tidak akan berani walaupun saya bilang, sudah jelas buktinya,” ujar mantan Partai Demokrat pada Januari 2014, dikutip dari laman Tribunnews.com, Kamis (5/10/2017).

Namun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan bahwa meski Setya Novanto sebelumnya memenangkan praperadilan, posisi Ketua DPR ini dinilai tak cukup aman. Pasalnya, lembaga antirasuah terus melakukan pengkajian lebih lanjut untuk kembali menyematkan status tersangka pada Setya Novanto.

Baca Juga: Beri Ucapan HUT Ke-72 TNI, SBY Berpesan Agar Polri dan TNI Lakukan Ini

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Thony Saut Situmorang ketika dimintai konfirmasi terkait kemungkinan untuk mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru untuk suami dari Deisti Astriani Tagor tersebut, seperti diwartakan Jpnn.com.

“Ya, kita lagi kaji secara detail seperti apa langkah-langkah kita. kita ini pelan-pelan. Intinya adalah itu tidak boleh berhenti. Itu harus lanjut karena kami digaji untuk itu,” tandas Saut Situmorang ketika ditemui di Gedung KPK Jakarta, Kamis (5/10), dikutip dari Jpnn.com, Kamis (5/10/2017).

Tak ingin terburu-buru dalam menentukan langkah yang akan diambil dalam menyikapi terlepasnya Novanto dari status yang ditetapkan KPK, pria kelahiran Medan Belawan ini memastikan pihaknya harus tetap waspada terhadap kelemahan-kelemahan yang mungkin ke depannya menjadi penghambat.

“Tapi harus kalem, harus pelan, harus prudent. Kemudian kita mengevaluasi lagi di mana lobang-lobangnya harus kita tutup. Kelemahan-kelemahan harus kita tutup. Oleh sebab itu, kita harus pelan-pelan dulu untuk kemudian kita prudent ke depan,” tambahnya lebih lanjut.