Geger di LBH Jakarta yang Diduga Acara PKI, Begini Klarifikasi Polisi dan TNI


SURATKABAR.ID – Massa dari berbagai organisasi anti-korupsi menggeruduk dan mengepung kantor LBH, Jakarta di Menteng menjelang berakhirnya acara “Asik Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi”.

Pihak Kepolisian dan TNI menyatakan acara yang berlangsung di LBH Jakarta tidak membahas tentang komunisme dan juga Partai Komunis Indonesia (PKI). Massa yang mengepung diharapkan untuk pulang dan menempuh jalur hukum

Acara tersebut digelar merupakan respon setelah kegiatan diskusi tentang sejarah 65 yang dilakukan di Gedung YLBI, yang dihentikan paksa oleh pihak Kepolisian. Suyudi Ario Setyo, Kapolres Metro Jakarta Pusat yang mendatangi lokasi kejadian menyebutkan jika ia bersama dengan Kapolda Metro Jaya serta Komandan Distrik Militer TNI telah melakukan komunikasi dengan pihak LBH Jakarta terkait hal itu.

Baca juga: Pesantren Takeran, Saksi Bisu Kebengisan dan Kekejaman PKI 18 September 1948

“Saya dan Pak Dandim menyampaikan untuk kita berhati-hati menyikapi permasalahan ini. Saya sebagai Kapolres dan representasi hukum, kamtibmas di wilayah Jakarta Pusat, Pak Dandim representasi keamanan negara,” ujarnya, Senin (18/9/2017) seperti yang diwartakan oleh CNNIndonesia.com

Ia juga meyakinkan kepada semuanya jika acara yang digembar-gemborkan di medsos bahwa itu PKI merupakan hal yang tidak benar. Edwin Adrian Sumantha, Dandim 0501/Jakarta Pusat BS memastikan jika acara itu tidak memiliki unsur PKI sama sekali. Oleh sebab itula, dia meminta massa yang melakukan aksi di luar gedung LBH untuk tenang.

Tidak hanya meminta untuk tenang, ia juga menuturkan agar massa membiarkan panitia acara itu untuk pulang.

Baca juga: TNI Akan Putar Film G30S/PKI, Jokowi: Akan Lebih Baik Kalau Ada Versi yang Paling Baru

“Saya minta tenang, karena yang di dalam juga tak bisa keluar, biarkan mereka pulang,” kata Edwin usai menemui perwakilan LBH Jakarta di dalam gedung malam ini.

Salah seorang pendemo menyebutkan jika sejarah 1965 merupakan sejarah kelam sehingga tak perlu ada yang diluruskan. Hal tersebut terkait dengan seminar tentang peristiwa 1965 yang digelar oleh LBH Jakarta pada Sabtu yang lalu, namun karena mengundang kehebohan akhirnya dibatalkan.