Menangkan Persidangan Kasus Pelecehan, Taylor Swift Dapat Ganti Rugi 1 Dollar AS


SURATKABAR.ID – Taylor Swift yang merupakan artis musik pop country akhirnya memenangi  perkara pelecehan seksual setelah enam hari proses persidangan di Denver, Senin (14/8/2017). Seperti dinyatakan oleh juri, David Mueller yang adalah penyiar radio tersebut terbukti bersalah melecehkan Swift dengan cara meraba bagian bokongnya pada sesi pemotretan pada Juni 2013. Atas kemenangannya itu, hakim memberi ganti rugi sebesar 1 dollar AS atau sekitar Rp 13.500 bagi Swift.

Juri juga menyatakan bahwa Andrea, ibu Swift, dan tim manajemennya tidak ikut campur dengan kontrak kerja Mueller dengan radio KYGO. Demikian sebagaimana diwartakan kembali dari Kompas.com, Selasa (15/8/2017).

Setelah putusan itu dibacakan, Swift terlihat memeluk para pengacaranya, juga ibunya sambut mengucapkan “thank you” kepada para juri.

Pada Jumat (11/8/2017), Swift mendapat kemenangan pertama. Hakim memutuskan menolak tuntutan Mueller yang menyebut Swift menyebabkan dia dipecat dari radio tempatnya bekerja. Hakim menyebut tuduhan Mueller tidak memiliki bukti cukup.

Baca juga: Diduga Memiliki Sabu, Artis Rio Reifan Ditangkap Polisi

Dalam sebuah pernyataan tertulis yang dikutip dari People, Swift mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang, termasuk hakim dan juri.

“Saya berterima kasih kepada Hakim William J Martinez dan para juri atas pertimbangan mereka yang hati-hati. Juga kepada kuasa hukum saya, Doug Baldridge, Danielle Foley, Jay Schaudies dan Katie Wright yang telah berjuang untuk saya dan siapa pun yang merasa dibungkam dalam kasus pelecehan seksual,” beber Swift.

Sejak 2013, perkara ini memang berlangsung cukup lama, yakni empat tahun, dengan dua tahun persidangan.

“Secara khusus saya berterima kasih kepada siapa pun yang memberikan bantuan selama saya menghadapi perkara yang berlangsung empat tahun dan dua tahun persidangan,” tambah Swift.

Mendonasikan Bantuan untuk Perempuan Korban Kejahatan Seksual

Pelantun lagu “Blank Space” itu menyadari bahwa ia memiliki sumber daya yang membantunya menanggung biaya selama proses hukum berlangsung.

“Harapan saya adalah membantu orang-orang yang suaranya seharusnya didengar. Karena itu saya akan mendonasikan bantuan kepada beberapa organisasi yang membantu para korban kejahatan seksual,” ujar perempuan kelahiran 13 Desember 1989 itu.

Kuasa hukum Swift, Baldridge, menyebutkan kepada dewan juri bahwa penyanyi itu menyuarakan kaum perempuan. Dia juga menyebut perkara itu tentang pelecehan seksual di tempat kerja.

“Seorang perempuan dilecehkan. Dia melaporkannya dan malah dituntut. Itu tidak masuk akal. Dia (Swift) ingin mengatakan pada semua orang bahwa mereka bisa mengatakan ‘tidak’ bila ada yang melecehkan, siapa pun dia,” tandas Baldridge.

Ia juga menerangkan, ganti rugi sebesar 1 dollar AS memiliki nilai simbolis, yakni “sesuatu yang tidak ternilai bagi kaum perempuan di mana pun”.

“Maknanya adalah ‘tidak’ berarti ‘tidak’. (Nilai itu) menyatakan kepada setiap perempuan bahwa merekalah yang menentukan apa yang pantas pada diri mereka sendiri,” tegas Baldridge.

Persidangan kasus itu berlangsung selama enam hari berturut-turut. Namun itu hanya bagian puncak dari proses hukum yang sudah berlangsung selama dua tahun.

Awalnya David Mueller menuntut Swift pada 2015 dengan alasan ia kehilangan pekerjaan setelah tim pengawal Swift menuduhnya meraba bokong penyanyi itu pada acara meet and greet di Pepsi Center, Denver, pada Juni 2013.

Mueller membantah tuduhan tim Swift dan menyebut rekannyalah yang melecehkan penyanyi itu.

Baca juga: Tegur Penghuni Rusun, Djarot: Beli Pulsa dan Rokok Bisa, Masak Bayar Sewa Rusun Enggak Mampu?

Kepada People, waktu itu pihak Swift menegaskan sudah memberikan bukti langsung kepada stasiun radio itu. Keputusan pemecatan Mueller diambil secara independen oleh radio tersebut.

Sebulan setelah tuntutan Mueller, Taylor Swift mengajukan tuntutan balasan. Mantan pacar Tom Hiddleston ini lantas membeberkannya secara rinci terkait pelecehan seksual yang terjadi menimpanya.