Remaja Indonesia Ikut Kontes Debat Internasional, Tetapi Netizen Malah Mencibir Pakaiannya


    SURATKABAR.ID  Empat pelajar SMA yang mewakili Indonesia dalam kompetisi debat Internasional menanggapi sejumlah komentar warganet di media sosial Facebook. Dalam ajang yang dilaksanakan di Bali tersebut, banyak netizen yang mempertanyakan gaya pakaian mereka.

    Dilansir dari bbc.com pada Minggu (10/8/2017), keempat pelajar tersebut telah menjalani proses diseleksi sejak tahun lalu ini berkompetisi dalam ajang World Schools Debating Championship (WSDC) di Bali hingga 11 Agustus kemarin.  Mereka bersaing dengan lebih dari 50 negara lain dalam debat bertema toleransi dan keberagaman.

    Pelajar yang ikut dalam WSDC, Nicholas Christianto mengatakan, debat itu menantang dan menegangkan dan dirinya merasa selalu dituntut untuk lebih baik dari penampilan-penampilan sebelumnya.

    Selain Nicholas, pelajar yang  satu group denganya yaitu; Ngurah Gede Satria Aryawangsa, Gracesenia Cahayadinata, dan Stephanie Elizabeth Purwanto. Persiapanya Mereka rutin membaca berbagai berita internasional di antara lain majalah terkenal dunia, The Economist dengan topik seputar politik, sejarah, hingga konflik timur tengah.

    Baca Juga: Nama Ibu Jokowi Dipakai untuk Nama Asrama Putri Sebuah Pesantren

    Namun, netizen banyak berkomentar dalam artikel mereka dimuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bukan hal yang serius, warganet menanyakan busana yang di pakai oleh keempat pelajar tersebut.

    Foto yang menyertai artikel di laman Facebook memicu berbagai komentar soal pakaian dan belahan dada.

    Seperti akun dengan nama Sudadi Allio Aliya yang menuliskan “Benerin Pakaianya”, selain itu, akun Fachri Noer juga berkomentar dengan kata-kata tegas, “Anda berdebat mewakili negara sedangkan pakaian Anda saja layak diperdebatkan,”.

    Ketika dimintai tanggapanya,  keempat pelajar tersebut mengaku cukup kecewa dengan berbagai komentar itu.

    “Sangat disayangkan, kita hidup di komunitas di mana seseorang bisa menghakimi orang lain dan menilai seperti apa orang lain itu dengan bagaimana orang itu berdandan,” kata Nicholas.

    Selain komentar bernada negatif, ada pula pengguna media sosial memberikan dukungan. Akun bernama Ade Intan Sumpah misalnya mengatakan, “proud of you guys! I wish waktu saya seumuran kalian, saya bisa sehebat kalian!!!”

    Sementara itu, Rizal Kuddah seorang supervisor seleksi WSDC regional provinsi Jawa Timu mengatakan sangat kecewa dengan komentar-komentar negatif yang ada pada halaman facebook tersebut.

    “sakit hati dan tidak terima anak didik saya dikomentari seperti itu. Proses seleksinya panjang dan berat. Kalau tidak baca materi debat, itu sama dengan b***h diri. Mereka harus baca jurnal internasional dengan banyak topik dari makro ekonomi sampai kajian timur tengah” ungkapnya.