Inilah 7 Fakta di Balik Penembakan Satu Keluarga yang Terobos Razia Polisi di Lubuklinggau


SURATKABAR.ID – Sebuah mobil Honda City bernomor polisi BG 14 88 ON warna hitam dihujani tembakan oleh pihak kepolisian dengan tragis. Pasalnya, kejadian itu menewaskan seorang nenek usia 55 tahun dan penumpang lainnya yang masih bocah terluka kritis. Insiden itu terjadi pada saat rombongan keluarga yang berada dalam mobil itu melintas di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Selasa (18/4/2017), sekitar pukul 11.00, menuju undangan kerabatnya.

Aksi penembakan yang dilakukan aparat kepolisian itu berawal ketika mobil yang ditumpangi tujuh orang itu tak mau diberhentikan saat razia. Bahkan, mobil itu juga hampir menabrak anggota kepolisian dan masyarakat saat mencoba menerobos.

Penembakan mobil oleh anggota Kepolisian itu sontak menyita perhatian publik, terlebih satu penumpang dinyatakan meninggal dunia. Demikian sebagaimana diterbitkan dalam Tribun, Rabu (19/4/2017).

Berikut inilah fakta terlengkap dari insiden berdarah tersebut.

Baca juga: Honda City Berisi Keluarga yang Mau Hajatan Diberondong Tembakan Polisi

  1. Lokasi kejadian penembakan

Pada Selasa (18/4/2017), polisi menggelar razia di sekitar jalan Lingkar Barat Kota Lubuklinggau. Aksi kejar-kejaran antara anggota polisi dan sebuah mobil Honda City berwarna hitam bermula saat mobil itu ngebut dan menerobos razia.

Pengejaran terhenti di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, Kota Lubuklinggau, tepatnya di jalan raya samping Bank Mandiri Simpang Periuk. Saat pengejaran itu terhenti, mobil sudah dalam keadaan terkepung.

  1. Jumlah Anggota keluarga yang ada di dalam mobil

Rombongan keluarga itu terdiri dari 7 orang yang terdiri dari seorang ibu, anak, dan cucu-cucunya. Anggota keluarga adalah Surini (55) yang tewas, Diki (29), Indra (32), Novianti (31), Dewi Arlina (35), Genta Wicaksono (3), Galih (6).

  1. Tujuan satu keluarga

Rombongan satu keluarga itu berasal dari Desa Blitar Kecamatan Sindang Beliti Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu. Dalam rangka menghadiri undangan kerabatnya di K‎ecamatan Muarabeliti Kabupaten Musirawas, mereka berangkat dari rumah pada Selasa (18/4/2017) pagi.

Tampak perwakilan pihak kepolisian mengucapkan belasungkawa kepada Kaswan (60), suami korban.

  1. Akibat penembakan yang dilakukan anggota kepolisian

Saat aksi pengejaran itu terjadi, anggota kepolisian telah melepaskan tembakan peringatan ke udara namun tak digubris. Polisi pun menembak ban mobil tetapi peluru memantul ke badan mobil dan mengenai penumpang.

Seluruh penumpang segera dibawa ke RS Siti Aisyah. Atas peristiwa itu, satu orang tewas, yakni Surini (55).

Beberapa anaknya mengalami luka tembak, Diki (29) di bagian punggung, Indra (32) di tangan bagian kiri, Novianti (31) di lengan sebelah kanan dan Dewi Arlina (35) di lengan sebelah kiri. Sementara itu, cucu Surini, Genta Wicaksono (3) mengalami luka di atas telinga sebelah kiri karena diduga terserempet peluru.

Sedangkan anak lainnya, Galih (6), tidak mengalami luka.

  1. Alasan polisi melepaskan tembakan

Menurut keterangan Kapolda Sumatera Selatan Irjen Agung Budi Maryoto, mobil hampir menabrak tiga polisi dan masyarakat yang melintas di sekitar jalan raya.

Petugas kepolisian pun memberikan tembakan peringatan.

Berdasarkan standar operasional, upaya peringatan awal agar kendaraan berhenti saat razia adalah gerakan tangan.

Jika terjadi perlawanan dari pengemudi, dilakukan tembakan peringatan ke udara sebanyak tiga kali.

  1. Surini diduga melindungi anaknya dari berondongan senjata polisi

Aksi kejar-kejaran polisi yang menegangkan dan berakhir tragis ternyata menyisakan cerita pilu. Seorang narasumber media Sriwijaya Post, mengungkapkan penuturan yang mengejutkan.

Saat mendekati mobil, ia melihat semua penumpang yang keluar dalam kondisi bersimbah darah. Ada sekitar empat lubang seperti pada bagian belakang mobil Honda City itu.

Menurutnya, sopir mobil tersebut adalah seorang laki-laki dan di sampingnya ada laki-laki lain yang memangku anak-anak.

Sedangkan di bagian belakang, ada beberapa perempuan dan satu orang anak-anak. Surini yang tewas tertembak berada tepat di samping anak kecil dan merupakan seorang nenek.

  1. Nasib polisi yang melakukan aksi penembakan

Hingga berita ini diterbitkan, polisi tersebut dibawa ke Palembang untuk menjalani pemeriksaan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri.

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Agung Budi Maryoto memberikan keterangan, jika petugas kepolisian terkait terbukti bersalah, maka ia akan langsung diproses pidana.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyesalkan penembakan

Terkait insiden tersebut, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyesalkan penembakan polisi terhadap warga sipil yang menerobos razia itu harus terjadi. Hal itu disampaikannya saat cipta kondisi yang digelar personel gabungan jajaran Polres Lubuklinggau dan Polsek Timur I Kota Lubuklinggau, Selasa (18/4/2017).

Tito telah menerima laporan mengenai peristiwa di Lubuklinggau. Berdasarkan laporan yang diterimanya, warga sipil ditembak lantaran menerobos razia. Saat diberhentikan aparat, warga itu, dicurigai akan menabrak anggota polisi.

“Sehingga anggota polisi itu beranggapan, ini adalah pelaku kejehatan,” tutur Tito di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017).

Baca juga: Diduga Penyusup, Polisi Bekuk Sekelompok Massa Mencurigakan di TPS Jaktim

Anggota kepolisian itu, melakukan pengejaran. Kemudian, melakukan melayangkan tembakan peringatan. Tapi, warga yang diduga pelaku kejahatan tak berhenti, dan terus menancap gas kendaraan roda empatnya.

“Akhirnya ditembak, dan mengakibatkan ada keluarga yang meninggal. Saya sangat menyesalkan. Inilah sebetulnya pentingnya kemampuan diskresi kepolisian,” ungkap Tito.