Pernah Disebut Presiden Yang Gagal Memimpin, Begini Reaksi Soeharto Saat Itu


SURATKABAR.ID Sekitar 19 tahun lalu atau tepatnya pada 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Mayoritas masyarakat saat itu menilainya sebagai presiden yang gagal memimpin, meskipun saat ini malah banyak masyarakat yang merindukan masa –masa kepemimpinan Soeharto

Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Kekecewaannya tergambar jelas dalam pidato pengunduran dirinya, … Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan ke-7, namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Lalu apa pendapat Soeharto mengenai pendapat masyarakat yang menilai nya sebagai pemimpin yang gagal?

Dikutip laman Hmsoeharto.id via Otonomi, Soeharto menegaskan kalau selama berada di pucuk pimpinan, dia selalu berusaha mengerjakan tugasnya dengan baik dan pertimbangan. Usaha itu dinilai berhasil menurut ukurannya dan sesuai kemampuannya.

Baca juga: Terungkap! Inilah “Pegangan” Andalan Soeharto Kala Memimpin Indonesia

“Kalau ada orang lain yang melihat hasil pekerjaan saya itu dari segi yang lain, lalu menilai salah atau gagal, maka saya akan berkata, ‘itu urusan mereka’ dan saya percaya, apa yang saya kerjakan memohon petunjuk dan bimbinganNya. Itu adalah hasil bimbingan Tuhan,” kata pria kelahiran Bantul, Yogyakarta.

Dalam menjalankan tugasnya, Soeharto mengaku tak pernah merasa gagal. Apabila masyarakat menilai pekerjaan yang dilakukan kurang berhasil, Soeharto menjawab singkat.

“Saya mupus, pasrah. Artinya barangkali memang kemampuan saya cuma sampai di situ.”

Meski demikian, Soeharto juga memiliki pandangan terhadap masyarakat atau rakyatnya. Baginya rakyat adalah orang-orang yang membantunya memperoleh kemerdekaan, saat masa perjuangan. Bantuan dan dukungan rakyat membuat Soeharto berutang budi.

“Saya berpikir, selama melaksanakan kepercayaan dari rakyat sebagai Presiden, inilah kesempatan membalas budi rakyat itu. Membalas budi kepada rakyat Indonesia yang 80% terdiri dari para petani,” katanya.

Soeharto pun mengakui bahwa sebagai manusia diri nya pasti tidak luput dari yang namanya kesalahan. Ia pun menegaskan bahwa apa yang dianggap salah, bisa menjadi contoh bagi orang lain di kemudian hari.

“Saya pun tahu, saya tidak luput dari kesalahan. Maka seperti berulang kali pernah saya katakan, di sini pun saya ulangi lagi, hendaknya orang lain mengikuti contoh-contoh yang baik yang telah saya berikan kepada nusa dan bangsa, dan menjauhi hal-hal yang buruk yang mungkin telah saya lakukan selama saya memikul tugas saya,” ujar dia.