Mutilasi Singa Di Afrika: Kepala Dan Cakarnya Digunakan Untuk Ilmu Hitam Dan Perdagangan Ilegal


000singa111SURATKABAR.ID – Tiga ekor singa telah diserang di Afrika Selatan. Bukan hanya dipenggal, bagian-bagian cakarnya pun telah dimutilasi dengan brutal.

Pemiliknya, Andre De Lange yang seorang petani mengatakan bahwa kemungkinan besar pelaku membantai hewan kepunyaannya tersebut untuk digunakan dalam keperluan ilmu hitam.

“Kasihan sekali hewan-hewan ini, mereka tidak diberikan hak untuk hidup sama sekali,” ujarnya seperti dilansir dalam dailymail.co.uk, Kamis (12/01/2017).

Rentetan gambar demi gambar kemudian diambil oleh Andre untuk dijadikan barang bukti. Diduga pelaku pembantaian tiga ekor raja hutan tersebut adalah pemburu dengan motif untuk memenuhi syarat tertentu dalam penggunaan ilmu hitam.

Kronologi peristiwa dapat diketahui bahwa pemburu meracuni kucing besar di kandang mereka, memotong pagar terlebih dahulu kemudian melepas serta memenggal kepala hewan dan juga memotong cakar mereka.

000leo333

Baik kepala singa mau pun cakar kaki, keduanya diyakini digunakan dalam ilmu hitam dengan istilah ‘muti’. Saat ini para petugas dari spesialis Kejahatan Okultisme Satuan Afrika Selatan sedang bekerja sama Andre De Lange untuk mengungkap kasus tersebut.

Ada pun De Lange dan anaknya yang berumur 10 tahun menemukan bangkai hewan mereka telah tak bernyawa karena dimutilasi tak lama setelah matahari terbit, pada Kamis (12/01/2017).

Disebutkan peristiwa ini merupakan kedua kalinya terjadi menimpa De Lange. De Lange hidup di Afrika Selatan sebagai seorang petani. Selain itu ia juga menjalankan sebuah taman safari singa bagi wisatawan.

Tahun lalu, tiga kucing jantan raja hutan juga sama-sama tewas dan dipenggal. Sementara itu, beberapa singa dan dua harimau lainnya juga ditemukan dalam keadaan telah dimutilasi.

De Lange mengatakan dalam MailOnline: ‘Kasihan hewan saya, mereka tidak diberi martabat hidup sama sekali. Mereka menderita, kematian datang dengan cara yang sangat menyakitkan dan kemudian mereka hanya dipotong-potong. Saya diberitahu bahwa kepala dan cakar mereka mungkin akan dibawa ke perbatasan. Mungkin ke Mozambik atau keluar negeri,” sesalnya.

000leo111De Lange, seperti tampak pada foto, sedang memeluk kedua ekor singanya yang untungnya selamat dari racun pemburu. Ia masih tak habis pikir, bagaimana mungkin para pemburu tersebut berhasil melewati sistem keamanan yang canggih pada tamannya itu.

Tak jauh dari perbatasan Zimbabwe dan Mozambik, serangan serupa juga terjadi di Letaba River Lodge, di luar wilayah Tzaneen di Limpopo Province. Masyarakat setempat percaya para pemburu bekerja untuk sejumlah pelanggan tertentu, yang tinggalnya mungkin di negara Afrika lain, karena ada permintaan yang tinggi untuk ramuan sihir di seluruh benua.

Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa bagian kepala dan cakar singa tersebut sengaja diambil untuk memenuhi pesanan para kolektor dari Timur Jauh, alias diperdagangkan secara ilegal.

“Mereka dibunuh lalu diselundupkan berdasarkan pesanan. Rupanya kepala singa dan kaki dianggap sangat kuat dalam pengobatan tradisional. Apa yang menimpa hewan kami di Afrika Selatan sekarang, dengan perburuan ini, tentunya memilukan. Dan sepertinya si pemburu tega saja melakukan hal sebiadab itu. Tahun lalu, bagi saya sangat mengerikan rasanya saat pertama kalinya singa saya dibunuh dengan cara seperti ini. Tetapi sekarang saya merasa seperti … ingin melarikan diri saja dari kenyataan seputar satwa liar ini..” sambung De Lange  lirih.

Meski begitu De Lange masih merasa bersyukur karena mampu mencegah anaknya yang baru berusia 10 tahun menyaksikan sisa adegan mengerikan dari pembunuhan tersebut. De Lange sekali lagi mengatakan ia tak habis pikir, bagaimana mungkin para pemburu tersebut mampu melewati sistem alarm canggih serta penjaga bersenjata yang berpatroli pertanian di malam itu.

“Setelah saya kehilangan tiga singa tahun lalu, saya membawa kucing besar tersebut ke kandang yang lebih kecil pada malam hari agar mereka jadi lebih terlindung. Saya dengar ada imbalan yang sangat besar bagi para pemburu yang berhasil memberikan informasi dan atau berhasil melewati keamanan. Ini adalah bisnis yang sangat besar yang melibatkan uang dalam jumlah banyak,” bebernya.

Singa jantan yang berusia antara empat dan enam tahun dikabarkan masing-masing senilai £ 22.000 dan dijadwalkan akan dijual ke taman safari yang lebih besar di Afrika Selatan di mana populasi singa sedang jatuh. Dapat Anda kalkulasikan berapa nominal harganya, mengingat 1.00 Euro saja saat ini senilai dengan Rp. 14.200.

Hal ini tentunya menarik keprihatinan para penggerak hak asasi hewan. Hak asasi hewan yang juga dikenal sebagai kebebasan hewan, adalah ide bahwa hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat sebagaimana hak-hak dasar manusia.

Para pendukung mendekati masalah ini dari posisi filosofis yang berbeda, mulai dari gerakan proteksionis yang dicetuskan filsuf Peter Singer—dengan fokus utilitarian terhadap penderitaan dan konsekuensi, daripada konsep hak itu sendiri—sampai gerakan abolisionis yang dicetuskan profesor hukum Gary Francione, yang menyatakan bahwa hewan hanya butuh satu hak, yaitu hak untuk tidak dijadikan benda atau properti.

Meski ada berbagai macam pendekatan, mereka semua setuju bahwa hewan harus dipandang sebagai subyek non-manusia sekaligus anggota komunitas moral, serta tidak digunakan sebagai makanan, pakaian, subjek penelitian, atau hiburan.