Ikut Gelar Perkara Ahok, Neno Warisman: Dari Bahasa Terbukti Ada Penistaan


     

    neno-warisman

    Neno Warisman yang ikut hadir dalam gelar perkara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Neno datang sebagai saksi ahli bahasa dari pihak pelapor, Novel Bakmumin.

    “Dari ahli bahasa kita betul-betul temukan secara bahasa maupun niat itu bisa dibuktikan dari bahasa bahwa memang terjadi penistaan, itu bukan omong kosong, itu benar,” kata Neno usai keluar dari Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/11/2016).

    Neno berpendapat demikian karena didasari oleh tiga faktor. Yang pertama, ekspresi antara pikiran dan hati seseorang itu sama. Karena tidak mungkin seseorang berpikir lalu mengatakan hal yang tidak dipikirkannya.

    “Yang kedua adalah ekspresi realitas. Yang ketiga adalah jika kita mengatakan sesuatu, kita ingin orang lain percaya itu,” ujarnya.

    “Dari bahasa sangat kuat sekali untuk membuktikan ada penistaan,” sambungnya.

    Neno juga menambahkan belum ada argument saat dia berada dalam ruangan gelar perkara Ahok. Proses gelar perkara baru tahap penyampaian ringkasan-ringkasan saksi.

    “Berlangsung hanya ringkasan-ringkasan saja belum berlangsung dialog. Sayang waktunya selama 48 menit agak ngantuk juga melihat videonya, setelah ditayangkan,” ujarnya.

    Sebaliknya, jubir FPI Munarman mengaku tidak dapat masuk ke dalam Rupatama Mabes Polri untuk mengikuti gelar perkara kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama.

    Munarman sempat diperbolehkan masuk, namun keluar lagi karena tidak diizinkan oleh pihak kepolisian.

    “Saya dari pelapor kuasa hukum, kami enggak boleh masuk. Ada 13 pelapor, yang boleh masuk 5 pelapor saja,” kata Munarman di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (16/11/2016).