Menjemput Kematian di Kapal Imigran Afrika. Jika Beruntung Akan Selamat


Kapal imigran Afrika penuh sesak saat ditemukan kapal penyelamat melintasi lepas pantai Libya. Kapal yang terbuat dari kayu ini berisi ratusan imigran Afrika yang akan berangkat menuju Italia.
Lebih dari dua puluhan orang tewas. Mayat korban terpaksa diletakkan begitu saja di lantai kapal bertumpukan dengan mayat lain.

Ratusan imigran ini berasal dari berbagai negara di Afrika Ethiopia, Somalia, Nigeria, Eritrea, dan negara – negara lainnya di Afrika. Kapal berisi ratusan orang ini ditemukan pada Selasa (4/10/2016) oleh regu penyelamat lepas pantai Italia minggu ini.
Para imigran ini naik kapal besar yang bebannya lebih dari lima kali kapasitas yang diperbolehkan.

Sebagian imigran memilih melompat ke dalam air untuk menunggu bantuan. Para imigran ini masih tetap panik meskipun regu pemyelamat dengan sekuat tenaga menenangkan mereka. Meskipun bala bantuan seperti kapal evakuasi telah datang.

Bahkan, terdapat imigran bayi yang diselamatkan. Sebagian diantaranya ditemukan sejumlah anak-anak.

Seperti dilansir The New York Times, regu penyelamat menemukan 29 mayat yang terdiri dari 10 mayat pria dan 19 mayat wanita. Lebih mengejutkannya, mayat-mayat ini telah tewas semalam sebelumnya.
Para imigran banyak yang berdesakan disekitar dek. Sebagian besar imigran Afrika ini belum pernah melihat laut sebelumnya.

“Banyak dari para imigran ini yang belum pernah melihat laut seumur hidup mereka,”tutur Laura Lanuza, juru bicara Proactiva Open Arms, sebuah kelompok bantuan Spanyol.

Petugas migran dan regu penyelamat Eropa mengatakan bahwa jalur laut dari Afrika Utara sangat membahayakan dan banyak merenggut korban jiwa. Joel Millman, juru bicara dari Internasional Organization of Migration sedikitnya menemukan 38 mayat pada Senin dan Selasa lalu.

Mayat-mayat yang berada dalam lantai kapal kemudian dimasukkan ke dalam kantong mayat. Para regu penyelamat kemudian mengevakuasinya ke kapal yang berbeda.

Mr. Messinis (39) seseorang yang menemukan konflik di Libya dan Suriah, melakukan pengambilan gambar pada krisis migran Eropa sejak tiga tahun belakangan ini. Messinis juga menyelipkan kamera dalam tubuhnya sembari menolong korban.

Apa yang ia saksikan di perairan Medterania ini adalah sesuatu yang berbeda. Ia menghubungkan dengan tragedi tenggelamnya kapal di lautan Atlantik. Akan tetapi, tragedi ini tidak terjadi ratusan tahun yang lalu.

“Saya sering melihat banyak tragedi kematian. Akan tetapi, tidak pada hal ini. Tragedi ini sangat mengejutkan. Hal ini membuatmu merasa tidak sedang hidup di dunia,”ujarnya.