Penulis yang Menghina Islam Ini Akhirnya Dihukum Mati


penulisPenulis dari Yordania, Nahid Hattar dikabarkan telah tertembak mati ketika berada di luar gedung pengadilan di Ibu Kota Yordania, Amman, tempat Nahid menjalani persidangan.

Nahid tertembak tiga kali di kepala oleh seorang pria bersenjata di luar pengadilan distrik Abdali, Amman. Sedangkan pelaku penembakan telah diamankan oleh kepolisian setempat untuk penyelidikan lebih lanjut. Hingga saat ini, identitas pelaku penembakan masih belum diinformasikan oleh pihak kepolisian.

Menurut saksi mata, pelaku penembakan adalah seorang pria bersenjata, berjenggot, mengenakan pakaian tradisional Arab, dan berusia sekitar 50-an tahun.

Sebelumnya, pada 13 Agustus 2016, Nahid ditahan atas tuduhan penghinaan agama Islam. Penghinaan yang dilakukan Nahid adalah menyebar gambar seorang pria berjenggot sedang tidur bersama dua orang perempuan dan merokok melalui media sosial. Kemudian, pria dalam gambar tersebut meminta Tuhan untuk membawakannya minuman.

Semenjak peredaran gambar itu, Nahid mendapat berbagai serangan dari media sosial dan dituduh telah bersikap anti-Islam.

Sebenarnya, gambar tersebut bukanlah karya Nahid, peran dirinya hanya menyebarkannya di media sosial.

Sedangkan Nahid mengatakan, maksud gambar tersebut bukanlah anti-Islam. Melainkan Nahid ingin mengungkap pandangan kaum Islam radikal (ISIS) tentang surga. Tidak ada maksud melecehkan Tuhan sedikit pun dari gambar yang diunggahnya.

”Itu mengolok-olok teroris dan konsep mereka tentang Tuhan dan surga. Itu tidak melanggar kesucian Tuhan dengan cara apa pun,” kata Nahid, dikutip dari sindonews.com.

Tapi aparat Yordania menganggap Nahid telah melanggar hukum dari penyebaran gambar itu. Akhirnya, Nahid didakwa di pengadilan.

Kemudian pada awal bulan September kemarin, pria beragama Kristen ini dibebaskan dari kasus yang menjeratnya.

Atas kejadian itu, pemerintah Yordania mengutuk pembunuh Nahid sebagai kejahatan yang keji. Pemerintah juga akan menerapkan hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

“Hukum akan diterapkan dengan tegas kepada orang yang melakukan kejahatan ini, dan pemerintah akan menyerang dengan tangan besi kepada siapa pun yang berani mengambil untung dari peristiwa ini untuk menyebarkan ujaran kebencian,” kata juru bicara pemerintah, Mohamad Momani, dikutip dari replublika.co.id.

Tak hanya pemerintah Yordania, Ikhwanul Muslimin dan Dar Al Iftaa yang merupakan kelompok kubu religius juga mengutuk kasus penembakan itu.

Kedangkan pihak keluarga mengatakan, yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini adalah erdana Menteri Yordania, Hani al-Mulki.

”Perdana menteri adalah orang pertama yang menghasut melawan Nahed ketika dia memerintahkan penangkapan dan mengadilinya karena membagikan karikatur, dan yang memicu masyarakat melawan dirinya dan menyebabkan pembunuhan,” kata sepupu korban, Saad Hattar.

Pihak keluarga juga meminta pertanggungjawaban kepada semua orang yang telah menghasut kekerasan terhadap Nahed.

”Banyak (orang) fanatik menulis di media sosial menyerukan pembunuhan dan hukuman mati tanpa pengadilan, dan pemerintah tidak melakukan apa pun terhadap mereka,” kata keluarga korban.