Ini Alasan Mengapa Polisi Sangat Dibenci di Poso


    petugas-kepolisian-berlari-ke-arah-gedung-sarinah-untuk-melakukan-_160114144058-162

    Selain TNI, polisi di Indonesia diciptakan dengan tujuan sebagai petugas penjaga keamanan dan kententraman di dalam masyarakat. Tentunya dengan keadaan yang kondusif, maka dapat dikatakan bahwa keberadaan polisi memang sangat dibutuhkan di masyarakat.

    Sayangnya, menurut Ketua Pansus RUU Terorisme Muhammad Syafii, justru polisi adalah badan instansi milik pemerintah yang sangat dibenci oleh masyarakat Poso. Hal ini dikarenakan ada dendam yang sangat besar yang masih tersimpan di setiap benak masyarakat Poso terhadap polisi.

    “Para pendeta, ustad, tokoh masyarakat, tokoh pemuda sepakat dengan satu kata, mereka sangat benci dengan polisi karena telah lakukan pelanggaran HAM berat,” ujar Syafii, seperti yang diberitakan oleh Republika (26/7/2016).

    Bahkan, menurut Robi Sugara, seorang pengamat terorisme dari Barometer Institute menjelaskan bahwa jika saja pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso dan anak buahnya tidak dibaiat dan masuk dalam kelompok ISIS, maka ada kemungkinan besar masyarakat Poso akan berada di samping mereka untuk mendukung.

    Tidak hanya itu saja, karena banyaknya anggota dari Santoso yang melakukan teror, khususnya terhadap polisi, namanya menjadi menarik perhatian masyarakat Poso.

    Robi juga menurutkan bahwa kebencian masyarakat Poso terhadap polisi karena pasca-konflik Poso yang terjadi beberapa tahun lalu, banyak pihak di daerah tersebut yang selalu diperlakukan secara tidak adil dan tidak sedikit pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat keamanan tersebut. Ada puluhan sampai ratusan orang yang meninggal dunia karena diadakannya operasi khusus oleh aparat keamanan di Poso pada saat itu.

    “Ada operasi yang ratusan orang ditembak polisi, saat itu keluarganya melihat atau jika tidak mereka melihat ketika dimandikan,” jelas Robi.

    Syafii menambahkan bahwa tindakan represif aparat, pada khususnya dalam hal ini adalah polisi, dalam menangani tersangka kejahatan di Poso, justru membuatnya semakin dibenci oleh masyarakat.

    “Penjahat kayak apa? dia (polisi) datangi itu ke rumah malam-malam, lampu dimatiin lalu mata dilakban, mulut dilakban dibawa lalu dipukulin. Semua penanganan kayak gitu. Dan itu terjadi di depan anaknya, istrinya, itu timbulkan kebencian,” jelas Syafii.

    Dan uniknya, pasca-meninggalnya Santoso, suasana di Poso menjadi aman tentram karena kebanyakan polisi dan aparat lain ditarik dari tempat tersebut. Bahkan banyak yang menyambut dan menganggap bahwa Santoso adalah pahlawan Islam, sedangkan aparat keamanan justru diposisikan sebagai pihak yang jahat.

    “Sekarang jadi siapa yang dianggap teroris? Santoso malah disambut, sementara polisi di suruh angkat kaki,” lanjut Syafii.

    Munculnya pandangan negatif dari masyarakat Poso serta banyaknya aksi teror yang ditujukan kepada polisi, Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar berpesan kepada seluruh anggota polisi di manapun berada agar tetap meningkatkan kewaspadaan karena serangan dapat terjadi di mana dan kapan saja.

    “Itu sudah dipahami oleh anggota polisi. Kita akan menghadapi risiko seperti itu dan itu adalah resiko yang harus kita ambil. Namanya juga alat negara, penegak hukum untuk berjuang menjunjung tinggi kebenaran pasti ada risikonya,” jelas Boy.

    Boy juga mengatakan demi terciptanya keselamatan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian di dalam masyarakat, maka setiap anggota polisi harus siap dan menjadikan hal tersebut sebagai salah satu risiko yang wajib ditanggung.