Miris! Keluarga Pengarak Siswi SMP Tanpa Baju Kini Nasibnya …


    Terdakwa

    Kasus kekerasan terhadap anak hingga kini tak pernah ada habis-habisnya. Publik tentu akan merasa prihatin dan menyayangkan peristiwa pengarakan siswi SMP dalam kondisi tanpa baju yang terjadi beberapa waktu yang lalu ini. R, seorang siswi SMP di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, diarak tanpa busana oleh sebuah keluarga karena diduga mencuri.

    Kejadian bermula ketika R (14) dituduh oleh SK (50) telah mencuri sandal jepit dan pakaian bekas . J (55) dan KR (50) merupakan keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Tiba-tiba R ditarik dengan paksa oleh SK (50) dan melucuti pakaiannya hingga tak bersisa sehelai pun seperti dikutip solopos.com.

    SK kemudian mengalungkan arit dan seutas tali dengan sandal jepit dibagian tubuhnya. Bersama dengan anggota keluarga SK yang lain, R diarak keliling kampung sepanjang satu kilometer dengan diiringi tetabuhan seperti dilansir solopos.com.

    Tepatnya pada hari Minggu, (10/01/2016) yang lalu, aparat Polres Sragen melakukan penangkapan terhadap ketiga anggota keluarga yakni SK (50) beserta istrinya WL (43) dan adiknya SN (43) di kawasan Karangmalang, Sragen, Jawa Tengah. Hingga pada hari Kamis, (14/01/2016) pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan secara intensif seperti dilansir okezone.com.

    Orang tua dari SK (50) dan WL (43) yakni BR (65) juga tak luput dari pemeriksaan pihak yang berwajib. Hingga berita ini diturunkan status para anggota keluarga tersebut kini sudah menjadi terdakwa.

    Polisi menjerat para pelaku dengan Pasal 37 Jo Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Pasal 80 Ayat (1) Jo Pasal 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 335 Ayat (1) KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan seperti dilansir okezone.com.

    Apa yang ditabur dan itulah yang dituai merupakan pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi salah satu terdakwa saat ini. Salah satu terdakwa, BR (65) dikabarkan kritis. Ia harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soehadi Prijonegoro lantaran sakit yang dideritanya seperti dilansir solopos.com.

    Korban R Trauma

    BR (65) yang sedang mengalami sakit kritis meminta agar anaknya SK (50), SN (43), dan menantunya WL (37) untuk mengunjunginya dan berkumpul di rumah sakit. Keempat orang anggota keluarga tersebut semuanya kini telah berstatus sebagai terdakwa.

    Sakitnya salah satu terdakwa BR (65) membuat putusan pengadilan yang seharusnya dibacakan pada hari Kamis, (9/6/2016) terpaksa ditunda. Kejaksaan Negeri (Kejari) serta Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II A mempernolehkan ketiganya untuk keluar dari tahanan dan menjenguk BR (65) seperti dikutip solopos.com.

    “Demi alasan kemanusiaan, PN Sragen mengabulkan permohonan keluarga SK, SN, dan WL kami persilakan hari ini (kemarin) keluar dari LP untuk bertemu ibunya, BR, di RS. Dengan begitu, agenda sidang putusan untuk mereka harus ditunda,” kata Humas Sragen, Agung Nugroho, seperti dikutip solopos.com.